Air Mata Warga Di Atas Mata Air Lombok Timur

Penulis: Ahmad Patoni, SS*

1740
kali tampilan.
Mata Air Lendang Nangka
Salah satu sumber mata air di Desa Lendang Nangka Kecamatan Masbagik, Lombok Timur / foto: kakaknana-wordpres.com

Pasca terjadinya musibah gempa yang berulang-ulang melanda provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Banyak sekali sisa pilu yang sampai hari ini belum menemukan titik solusi. Luka pilu yang paling dirasakan oleh masyarakat adalah berubahnya debit air yang selama ini memenuhi kebutuhan sehari hari warga.

Banyak sumur galian warga mulai mengalami penyusutan, selain dikarenakan belum datangnya musim penghujan. Bisa jadi penyusutan sumur warga dikarenakan adanya perubahan lempengan bumi.

Dengan berkurangnya debit air, kesulitan air di tahun ini, tidak hanya dialami oleh masyarakat di wilayah selatan, melainkan dialami juga oleh masyarakat pegunungan. Dimana mereka selama ini diidentikkan dengan pusat mata air warga.

Hal lebih menyedihkan dari semua ini adalah apa yang dialami masyarakat pegunungan wilayah Desa Lendang Nangka Kecamatan Masbagik Kabupaten Lombok Timur. Sudah menjadi isu publik kalau Desa Lendang Nangka dengan mata air yang dia miliki. Mampu mengairi lima kecamatan yang ada di wilayah selatan Kabupaten Lombok Timur. Akan tetapi ada luka mendalam yang dirasakan oleh masyarakat di sekitar sumber mata air. Sejak pengelolaan mata diakuisisi oleh PDAM yang merupakan perusahaan pengelola air milik daerah. Masyarakat di sekitar mata air tidak pernah bisa mengalirkan air untuk kebutuhan sehari hari mereka.

Masyarakat di sekitarnya hanya bisa menonton dan menikmati setiap percikan air yang mengalir. Tak sedikitpun mereka mampu menghambat keindahan derasnya aliran air yang ada di depan mata mereka. Mereka hanya mampu menangis dan meneteskan air mata. Dengan kondisi ini, segala upaya diplomasi dan aksi sudah dilakukan. Mereka hanya dininabobokkan oleh janji janji yang sampai hari ini belum ada kepastiannya.

Beberapa kali muncul para tokoh muda yang maju memperjuangkan hak warga di sekitar sumber mata air, akan tetapi perjuangan mereka selalu kandas oleh diplomasi pragmatis sesaat para oknum yang berkepentingan. Akhirnya niatan tulus para pejuang muda hanya berakhir pada isapan jempol belaka.

Kondisi ini tidak jarang menjadi bagian kontrak politik warga pada setiap kepala desa yang akan memimpin desa Lendang Nangka. Akan tetapi kepala desa dan hak progratifnya dibentuk tidak mampu melawan kekuatan hak akuisi pemerintah kabupaten dan provinsi. Akhirnya kepala desa dan warganya harus memutar otak untuk mencari alternatif. Diantara alternatif yang dilakukan pemerintah desa adalah membuat sumur bor di sekitar rumah warga. Untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari hari warga akan air.

Pemuda yang selama ini memperjuangkan hak warga akan air, sampai hari ini terus berupaya melakukan pencarian alternatif baru. Dengan harapan semua alternatif itu tidak berdampak pada kerusakan yang berdampak luas. Masyarakat Lendang Nangka sangat sadar. Sumber mata air yang ada di desa mereka telah mampu memberi manfaat bagi saudara mereka di beberapa kecamatan. Dan mereka juga sangat sadar, konflik dan ego sektoral tidak akan dibenarkan oleh ajaran agama yang selama ini mereka yakini.

Dibalik semua kondisi ini, mereka masih memiliki harapan besar. Sumber mata air yang dikelola PDAM sejak 1970an ini bisa mereka nikmati pada masa yang akan datang. Mereka tidak menginginkan, pengetahuan mereka tentang jumlah debit mata air 70 meter kubik perdetik hanya sampai pada tataran pengetahuan. Akan tetapi mereka berharap dari 70 meter kubik itu. Ada satu kubik bisa mereka nikmati untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Dan tentunya denga bantuan fasilitas penyaluran air dari pihak yang mengelola sumber mata air.

Selama ini masyarakat terus dininabobokkan agar jangan sampai menuntut dengan alasan undang-undang tentang bumi air dan segala isinya sepenuhnya dimiliki dan dikelola oleh negara. Akhirnya masyarakat di sekitar sumber mata air hanya mampu melawan dengan doa dan harapan akan datangnya ksatria yang bisa memecahkan masalah mereka. Mereka terus berkeyakinan tuhan tidak pernah tidur. Dan Tuhan pasti akan mengutus orang yang terketuk hatinya bisa menuntaskan semua harapan yang selama ini mereka titip dalam doa dan tetesan air mata.

Tulisan ini terinspirasi dari diskusi publik bersama Kepala Desa Lendang Nangka dan masyarakat sekitar Otak Aik, dengan harapan pemerintah daerah maupun PDAM selaku pihak pengelola sumber mata air bisa bertindak mendengar jerit tangis dan mengusap air mata warga yang berada di sumber mata air yang kini menjerit kekurangan air.

 

*Penulis: Ahmad Patoni, SS
Kepala Madrasah Diniyah Salaf Modern Thohir Yasin Lendang Nangka, Masbagik – Lombok Timur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.