Aksi penolakan kekerasan terhadap jurnalis / Foto: nusantaranews.co

LOMBOKita – Divisi Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram, menilai Kebebasan pers di wilayah kerja Nusa Tenggara Barat, masih diwarnai berbagai bentuk ancaman kekerasan.

Ketua AJI Mataram Fitri Rachmawati di Mataram, Jumat, mengatakan, bentuk ancaman yang dialami oleh insan pers yang ada di NTB itu berbagai macam, mulai dari intimidasi, teror, perampasan alat kerja, fisik, sampai penghilangan paksa hasil karya jurnalistik.

“Ini artinya peringatan Hari Kebebasan Pers Dunia, masih diwarnai bentuk intimidasi dan ancaman kekerasan, khususnya bagi rekan jurnalis di NTB,” kata Fitri.

Justru, jelasnya, bentuk ancaman kekerasan dan intimidasi yang dialami oleh rekan kerjanya, sebagian besar dari oknum aparat dan pejabat pemerintahan

Dalam catatan satu tahun terakhir, berbagai peristiwa telah terekam dalam kaca mata AJI Mataram. Belum lama ini, sebelum peringatan Hari Kebebasan Pers Dunia (World Press Freedom) berlangsung pada 3 Mei 2018, Irawan, wartawan Inews TV mendapat perlakuan buruk dari aparat kepolisian.

Irawan yang giat melakukan peliputan di Bima, sempat mendapat penghadangan aksi peliputan unjuk rasa yang berujung ricuh. Dalam aksi unjuk rasa yang berlangsung pada 2 Mei 2018.

“Dalam giat peliputannya, alat perekamnya nyaris dirampas petugas kepolisian yang berjaga,” ujar wanita yang saat ini masih tercatat sebagai kontributor Kompas TV tersebut.

Begitu juga dengan yang dilakukan oleh oknum legislatif di Kabupaten Lombok Tengah. Sejumlah wartawan diancam akan dibunuh (gorok), ketika memberitakan kendaraan dinas yang kabarnya tidak dikembalikan dalam aset negara.

Bahkan dalam catatannya yang paling buruk terjadi pada akhir tahun 2017 di Lombok Tengah. Wartawan Suara NTB Haris Mahtul, mendapat perlakuan yang dapat mengancam keselamatan jiwanya.

Ketika itu Haris Mahtul seorang diri melakukan peliputan perkembangan proyek pembangunan gedung Terminal Haji Bandara Internasional Lombok (BIL).

“Saat itu saya diancam menggunakan golok, dia minta jangan naikkan beritanya. Orang itu mengakunya asal sana yang ditugaskan untuk menjaga proyek,” kata Haris Mahtul.