Bang Zul Beberkan Tantangan Pendidikan Tinggi di Indonesia

43
kali tampilan.

LOMBOKita  – Kualitas universitas di Indonesia saat ini masih di bawah universitas negeri tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Jika dilihat dari ranking pun universitas di Indonesia masih tertinggal jauh, hingga pelajar Indonesia lebih memilih kuliah di luar negeri ketimbang dalam negeri. Padahal, dulu pelajar dari Malaysia dan Singapura yang berbondong-bondong sekolah di Indonesia.

Tantangan yang dihadapi oleh perguruan tinggi di Indonesia itu diulas Anggota DPR RI asal NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, saat berduet dengan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak, di sebuah televisi swasta di Indonesia, belum lama ini.

Bang Zul mengakui ada beberapa hal yang menjadi tantangan pendidikan tinggi di Indonesia.

Menurutnya, institusi pendidikan di Indonesia saat ini terjebak pada ketidakmampuan untuk belajar.

“Mengalami learning disability, ketidakmampuan untuk belajar ketika lingkungan di sekelilingnya berubah. Pada saat yang sama NUS, NTU, termasuk Malaysia yang banyak belajar di tempat kita mengalami proses pembelajaran luar biasa. Hingga tidaklah mengherankan kalau kemudian kualitas universitasnya rangkingnya lebih bagus dibandingkan kita,” bebernya.

Bang Zul mengutarakan, pengajar di universitas terkemuka seperti Universitas Indonesia tidak sepenuhnya mengabdikan diri di kampus. Sebagian menduduki jabatan penting di pemerintahan, bahkan menempati posisi menteri.

“Sehingga produktivitas dosen kita, dekan, pengelola universitas dibandingkan teman-teman di Malaysia, Singapura dan negara tetangga kita jauh lebih produktif mereka, karena full time di sana,” ungkapnya.

Namun, Bang Zul tidak menampik bahwa penunjukkan menjadi menteri atau pejabat tersebut memang dikarenakan kapabilitas pengurus kampus tersebut yang mumpuni.

Terkait peringkat universitas di Indonesia yang masih kalah dari Singapura dan Malaysia, menurut pria kelahiran Sumbawa ini, tidak harus ditanggapi berlebihan. Sebab, tak jarang pula peringkat tersebut dilatari bisnis untuk mendongkrak rangking universitas tertentu.

“Kadang-kadang pendidikan ini kan ada bisnisnya juga, jadi pemeringkatan juga ada lembaga-lembaga tertentu yang ingin mendorong universitasnya lebih tinggi peringkatnya dari yang lain, terutama di luar negeri. Oleh karena itu ya peringkat itu jadi salah satu feedback konstruktif buat pengelola universitas supaya mau berubah saja,” imbuh pendiri Universitas Teknologi Sumbawa ini.

Bang Zul juga menambahkan, kualitas hasil riset beberapa universitas di Indonesia tidak kalah dari universitas tetangga. Hanya saja, kadang penentuan ranking tidak hanya berpatokan pada riset, ada banyak aspek lain yang juga jadi bahan pertimbangan.

“Jadi kadang-kadang peringkat universitas di luar negeri dibandingkan kita itu yang dinilai kan banyak. Mungkin kita quality of research, jurnalnya ada yang lebih bagus kontennya, tapi mungkin yang lain-lainnya kurang,” tandasnya.