Bang Zul dan Tragedi Christcurch New Zealand

47
kali tampilan.
Gubernur NTB, Dr. Zulkifliemansyah

LOMBOKita – Atas nama masyarakat NTB Bang Zul (Sapaan akrab Gubernur NTB, Dr. Zulkifliemansyah) nampak begitu khidmat menyampaikan pesan kepada para korban tragedy ChirstChurch-New Zealand.

Penulis sendiri terkesima melihat dan mendengarkan setiap untaian kata –kalimat ungkapan belasungkawanya. Pilihan kata dan suaranya memperlihatkan kewibaannya sebagai pimpinan, seolah hendak menguatkan pesan-pesan refresentatif “masyarakat dunia” mengenai perasaan duka mendalam mereka kepada para korban kebiadaban terror di dua Masjid Chirstchurch – New Zealand.

Dalam pesan yang disampaikan dalam bentuk video Bang Zul mengutuk dan menyayangkan kejadian teror kepada ummat Islam. Apalagi dalam situasi beribadah di Masjid yang sudah dapat dipastikan jauh dari hal-hal negative. Masjid merupakan tempat aman, damai dan penuh ketenangan. Jauh dari permusuhan, dengki dan dendam, namun entah apa yang membuat si oknum-oknum tertentu dengan memakai Tarrant dan kawan-kawannya sebagai kepanjangan tangannya untuk mengotori kesucian Masjid di Chrischurch New Zealand itu.

Bang Zul yakin bahwa pemerintah New Zealand dapat bertindak proporsional demi menuntut keadilan terhadap pelaku terror yang telah membuat duka tiada tara bagi keluarga dan dunia Islam di seluruh dunia. Dalam isi pesan yang disampaikan lewat video itu Bang Zul mengirimkan harapannya kepada pihak berwenang (pemerintah) New Zealand agar seadapat mungkin dapat memberikan rasa adil demi tidak lagi terulangnya tragedy memilukan. Lewat video itu Bang Zul secara tidak langsung telah mendesak pemerintahan New Zealand dapat menindak dan mengusut tuntas para pelaku teror.

Loading...

Tidak ada yang menyangka selama ini, Negara yang dijuluki negeri Kiwi itu akan heboh mengundang perhatian seluruh masyarakat dunia. Tragedy Penembakan di dua Masjid itu mengubah sejarah sekaligus menguatkan ingatan tentang air tenang bukan tak menyimpan bahaya. Seorang pemuda berusia 28 tahun dengan membabi buta menembakkan senjata serbu otomatis ke kerumunan kaum muslimin yang tengah khususk hendak memulai Ibadah Shalat Jumat membuat sirna predikat New Zealand sebagai salah satu surga dunia.

Miniatur Dunia
NTB sebagai sebuah daerah dengan Bang Zul sebagai pemimpinnya telah mencoba memberikan contoh baik. NTB dengan mayoritas penduduk muslim yang jikalau dipakai angka statistic 98 % masyarakatnya menganut agama Islam. Dalam pada ini tidak pernah terdengar ada konflik berlatar sentimental agama. Dunia perlu membuka mata dan telinganya untuk melihat dengan jujur atas kondisi yang tengah sedang terus berlangsung di NTB ini.

Apalagi baru-baru ini Bang Zul dalam sebuah acara silaturrahmi Badan Executive Mahasiswa (BEM) NTB Raya yang terselenggara di Kampus IKIP Mataram dengan tema “Meningkatkan Integritas BEM NTB Raya Untuk NTB Gemilang”; berujar atau menekankan bahwa NTB ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua orang dengan alas dasar mempunyai capacity. Sekali lagi dasarnya adalah capasitas seseorang, tidak peduli warna kulit, mata dan rambut. Asalkan ia mampu dalam bidangnya dipersilahkan untuk berkembang. Mereka dipersilahkan menjadi pemain di NTB. Termasuk ini merupakan salah satu alasan mengapa NTB berusaha mengirim sebanyak mungkin Mahasiswa NTB untuk belajar keluar negeri, agar masyarakat NTB nantinya dapat berkerjasama penuh dengan dunia untuk kemajuan NTB sendiri.

Sebegitu inklusif dan dewasanya masyarakat NTB, yang seharusnya mampu membuka mata orang-orang yang berpandangan sempit. Apalagi dengan membawa-bawa keutamaan ras yang dikenal dengan istilah “White Supremacy”. Jelas ini kemunduran yang luar biasa jauh. Bukankah diskriminasi atas nama warna kulit, ras dan lain-lain itu merupakan peristiwa-peristiwa lama?

Oleh karenanya penulis mengkritik cara-cara standar ganda yang dilakukan oleh bangsa manapun itu. Sebegitu banyak konsep, sebegitu banyak ilmu pengetahuan, sebegitu banyak teknologi yang telah dihasilkan dari yang katanya bangsa super karena kelebihan-kelebihannya itu. Lalu muncul sosok seperti Brenton Tarrant dengan jaringannya. Tentu saja ini seperti nila merusak susu sebelanga.

Jangan-jangan bangsa yang dengan segala kelebihannya itu ujung-ujungnya akan terus bermain standar ganda karena ketidakmampuannya untuk bermain jujur. Bahwa disamping kelebihan-kelebihan yang mereka hasilkan terdapat pula peradaban lain dengan produk spiritual dan moralitasnya yang tidak pernah kering seiring perputaran zaman. Peradaban ini boleh diremehkan tetapi ia tidak akan pernah kering dari memberi inspirasi kepada dunia. Ia boleh tertindih, namun ia tidak akan pernah hilang. Ia boleh mengendap tetapi ia tidak akan pernah sirna.

Ia terus menyediakan dirinya sebagai lampu penerang setelah semua pencapaian dihasilkan. Ia terus menyediakan dirinya sebagai penghilang dahaga setelah semua mampu dijelajahi oleh semua kekuatan yang diproduksi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Itulah spiritual Islam yang selalu dicemburui oleh orang-orang yang selairan dengan Brenton Tarrant.

Dalam pada itu, masyarakat dunia harus melihat dengan jujur bahwa spiritual islam itu juga mengajarkan cinta yang tiada kering. Tidak perlu jauh-jauh melihat. Seketika terror berakhir terhadap kaum muslimin di Chrischurch, semua kalangan mengecam sekaligus memberi himbauan bahwa kamum muslimin tidak boleh membenci. Sebaliknya terror itu akan dihadapi dengan cinta.

Termasuk juga di NTB, masyarakat muslimnya tiada yang aneh-aneh. Di mana lantas hendak membenci orang berdasarkan warna kulit atau agama seperti yang dilakukan oleh Tarrant dengan membabat sekitar 49 atau lebih nyawa kaum muslimin. Berkaca dari peristiwa ini, sungguh kaum muslimin NTB bahkan Indonesia adalah kaum yang cukup dewasa. Terbukti dengan himbauan-himbauan dari para pemimpinnya (Bang ZUl) di NTB dan Anies Baswedan di DKI yang sama-sama mengutuk kejadian terror namun tidak kehilangan cinta untuk menjadi senjata ampuh guna meredam terror serupa.

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.