Bang Zul, Kenapa Namanya Harus Zulkieflimansyah?

269
kali tampilan.

LOMBOKita – Ibarat sebuah doa yang dipanjatkan orang tua untuk diri sang anak, itulah makna sebuah nama. Begitu pula nama yang disandang bakal calon Gubernur NTB, Dr H. Zulkieflimansyah. Bang Zul, sapaan akrabnya mengaku nama miliknya tersebut kemungkinan hanya ada satu di dunia.

Mengapa demikian? Karena nama Zulkieflimansyah didapatnya dari kombinasi dua nama kakeknya. “Zulkiefli itu nama saya, ‘mansyah’ itu sebenarnya kombinasi dua nama kakek saya. Man nya itu dari Mancawari, Syah-nya dari Syahrudin. Jadi Zulkieflimansyah itu mungkin satu-satunya nama di dunia,” jelasnya.

Memiliki nama yang tidak biasa, tampaknya menjadi pendorong Bang Zul untuk mengisi hidup dengan hal-hal yang tidak biasa pula. Sejak duduk di bangku SMA, Bang Zul sudah berkelana mengikuti pertukaran pelajar ke negeri kangguru, Australia. Lulus SMA, Bang Zul melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia sekitar tahun 90-an.

Tak hanya menjadi mahasiswa salah satu kampus terbaik di Indonesia, Bang Zul juga berkesempatan mengenyam pendidikan di Jepang, Skotlandia, Belanda, Amerika Serikat, dan terakhir, di Swedia sebelum dia kembali ke FE UI. Pencapaian akademis ini berlanjut dengan keberhasilannya menduduki kursi wakil rakyat di Senayan selama tiga periode berturut-turut hingga hari ini.

Apa motivasi yang melatarbelakangi begitu banyak pencapaian Bang Zul? Ia mengaku ada cerita yang sangat menginspirasinya dalam bertindak, termasuk mengambil langkah untuk maju sebagai salah satu Calon Gubernur NTB.

“Ini cerita yang berasal dari Thailand. Tapi menurut saya ini very inspiring, inilah kenapa akhirnya saya punya sikap politik seperti sekarang ini. Judulnya itu Antara Harimau dan Ular,” akunya.

Menurut Bang Zul, cerita inilah yang berhasil membuat bangsa Thailand bebas dari penjajah, saat Indonesia justru dikuasai Belanda dan Jepang. Sederhana saja isi cerita ini. Dikisahkan, seorang petani masuk ke sebuah hutan yang ternyata dipenuhi binatang buas. Begitu masuk, ia langsung diburu harimau kelaparan.

Mengikuti insting menyelamatkan diri, si petani melompat ke dalam sumur, yang ternyata tak berair. Si petani tidak terjatuh hingga ke dasar sumur, dan berhasil bergelayut pada sebuah dahan yang ada di badan sumur. Setelah diperhatikan, ternyata di dasar sumur itu juga bersembunyi seekor ular besar.

“Jadi dia berada di antara harimau dan ular. Tiba-tiba dari lubang pohon dahan tempat dia bergelayut, keluar dua tikus putih yang tajam giginya. Mulai menggigiti kayu tempat dia bergelayut itu. Tapi si petani menengadahkan kepalanya ke atas, dan mengatakan, “Hidup itu begitu manis”,” cerita Bang Zul.

Cerita ini menarik menurut Bang Zul, karena akhir ceritanya oleh rakyat Thailand tidak dituliskan. Pendengar cerita bebas menafsirkan sendiri akhir kisah dari si petani yang terjebak di antara harimau dan ular.

Jika yang membaca kisahnya, termasuk orang penakut dan memandang hidup ini serba rumit, maka kisahnya akan diakhiri dengan kesedihan. Tapi jika pembacanya optimis, maka akhir ceritanya akan mampu ditulis dengan lebih baik.

“Saya mulai memikirkan NTB karena saya lihat orang tua kita di sini, tokoh-tokoh kita mulai kehilangan akal sehat untuk menceritakan atau menulis cerita indah tentang kita dengan bahasa-bahasa yang lebih optimis. Ending, konklusi hidup kita, masyarakat kita, provinsi ini, negeri ini tergantung dari kemampuan kita menulis ending ceritanya masing-masing,” ungkapnya.

“Jadi maju tidaknya kita bukan persoalan menang atau kalah, tapi mesti ada yang maju dengan terhormat dari Pulau Sumbawa supaya NTB itu tetap ada. Karena kalau tidak ada orang Sumbawa maju, yang ada NTB tidak ada, yang tinggal hanya Lombok dan Sumbawa saja. Sebagai orang yang melihat daerah kelahiran, kita berikhtiar untuk berlaga di sini dan insya Allah mempunyai kemampuan menulis ending cerita itu dengan lebih baik,” tandasnya.