Bang Zul Mengglobalkan Putra Putri NTB

Penulis: Ahmad Efendi, Komunitas Bale Tulis Literacy NTB

72
kali tampilan.
Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah

LOMBOKita – Globalisasi itu sebenarnya bukan hanya milik mereka yang mempunyai kepentingan dagang meskipun pada dasarnya globalisasi itu awalnya adalah untuk merujuk kepada perluasan pasar dari negara-negara maju kapitalis seperti Inggris dan USA.

Apa yang membuat semua entitas di dunia ini berhak mengglobalisasikan diri mereka? Jawabnya adalah kemajuan teknologi Informasi yang selanjutnya akan dipakai kata Internet.

Sungguh globalisasi dengan pencapaian-pencapaiannya yang luar biasa massif saat ini yang ditandai dengan mengguritanya pasar bebas merupakan fenomena globaliasasi yang ditunjang oleh keberadaan Internet .

Penulis hakkul yakin dengan faktor Internet itu, bahwa dialah yang menjadi mesin utama dari merebaknya globalisasi ke seluruh penjuru dunia. Tanpa bantuan Internet itu penulis pikir globaliasasi tidak akan pernah mencapai titik optimalnya. Selanjutnya internet ini bisa dikatakan variable independen yang memberi pengaruh kepada multidimensi bidang kehidupan. Globalisasi yang begitu angkuh pun bertekuk lutut di hadapan kekuatan internet ini.

Loading...

Harus dinyatakan disini bahwa globalisasi merebak massif paling tidak dimulai ketika perang dingin usai dengan kemenangan Blok Barat yang akan disebut bergantian dengan Negara-negara maju.

Dengan kemenangan Blok Barat ini di mana Imam nya adalah USA dan Inggris maka negara-negara pusat dari kapitalisme itu tidak lagi mendapatkan aral melintang yang dapat memperlambat ekspansi pabrik-pabrik mereka untuk keluar ke Negara-negara berkembang (Phery-Phery).

Sejalan dengan ekspansi pabrik-pabrik dari negara-negara maju barat tersebut diikuti pula dengan ekspansi up to date budaya mereka. Artinya terdapat ketersambungan cerita di mana dahulunya Negara-negara berkembang yang menjadi koloni dari Negara-negara kapitalis Barat saat ini kembali bisa diterima lewat jalur perluasan pasar (ekonomi) yang berbarengan dengan transfer kebudayaan.

Di sisi lain produk internet pun mengalami perkembangan massif yang memungkinkan pula terjadinya transformasi kebudayaan dari Negara-negara maju secara massif pula. Dalam pada itu globalisasi mengalami redefinisi ulang. Dari yang tadinya merujuk kepada ekspansi (perluasan) pabrik-pabrik Negara-negara maju saja menjadi istilah yang mencair.

Misalnya ada istilah globalisasi untuk menyebut hilangnya batas-batas antar Negara. Istilah globalisasi untuk menyebut terciptanya masyarakat jaringan (Mac Luhan). Istilah globalisasi untuk menyebut meleburnya kebudayaan dunia menjadi kebudayaan popular (Antony Giddens). Dan masih banyak lagi definisi yang bisa dibuat dan itu disebabkan oleh kemajuan internet itu sendiri.

Nah disinilah benang merahnya bahwa Globalisasi itu kini tidak bisa menjadi monopoli dari negara-negara maju di Barat. Melainkan sudah menjadi milik semua entitas. Persoalannya siapa dapat berproduksi unggul pada bidang apa?

Globalisasi Ide
Dari dasar katanya saja Globalisasi itu memungkinkan masyarakat untuk bisa memberikannya definisi ulang. Globalisasi, globalisasi apa? Bisa mengglobalkan pabrik (ekonomi/pasar yang menjadi definisi awal globalisasi dalam sejarahnya). Bisa mengglobalkan kebudayaan dan seterusnya.

Benar saja, buktinya silahkan masuk di dunia internet. Dengan mesin pencari super canggih (Google) apa saja bisa diakses. Dikarenakan kecanggihannya masyarakat pun menyebutnya dengan berseloroh (Mbah google).

Pada konteks demikian terlihat jelas bagaimana masyarakat menyikapi globalisasi perluasan pabrik (ekonomi/pasar dari Negara-negara maju) yang berbarengan dengan transfer kebudayaan mereka.

Seolah ada titik balik dari definisi awal globalisasi itu sendiri. Disnilah kemudian ada pertemuan yang sangat intens antara semua ide-ide masyarakat di dunia ini. Baik yang pro Globalisasi dalam pengertian awalnya maupun yang kontra terhadap Globalisasi itu sendiri.

Munculnya ide-ide baru dari berbagai lokus kebudayaan sebenarnya merupakan bentuk kontraproduktif dari keberadaan globalisasi yang telah merebak itu sendiri. Sering dikatakan bahwa globalisasi pada pengertian awalnya tidak ubah sebagai bentuk penjajahan baru terhadap Negara-negara berkembang sehingga mereka pun membuat berbagai gerakan untuk mengimbangi Globalisasi itu. Namun tentu saja dominasi dari globalisasi dalam pengertian awalnya itulah yang sampai hari ini cukup mewarnai kehidupan dunia global. Apalagi disitu didukung oleh para intelektual “tukang” globalisasi (hiperglobalis) yang memberikan pembenaran terhadap globalisasi itu sendiri sehingga mereka pun menyebut globalisai itu sebagai proses penyatuan kebudayaan masyarakat global menjadi satu (penyeragaman) budaya pop.

Pada kenyataannya jikalau masyarakat kritis terhadap definisi-definisi yang dibuat para tukang globalisasi, sepertinya itu mempunyai kenisbian sehingga nampak sebagai definisi propaganda. Pada posisi inilah ada peluang bagi masyarakat seluruh dunia untuk memberikan kontribusinya bagi member warna globalisasi itu sendiri. Jikalau globalisasi itu penuh dengan kepentingan dagang dan kepentingan penyebaran kebudayaan –kebudayaan mereka yang kuat maka semestinyalah diusahakan untuk memberikannya alternative.

Dari kerangka pikir di atas sepertinya program pengglobalan putra-putri NTB lewat pengirimannya sebagai Mahasiswa ke berbagai Negara-negara maju di seluruh dunia itu seperti menemukan kesesuaian. Globalisasi itu berhutang pada kemajuan internet sehingga globalisasi itu sendiri kini tidak bisa hanya untuk mengakomodasi kepentingan ekonomi dan kebudayaan semata Negara-negara maju, melainkan semua masyarakat bisa memberikan kontribusi. Untuk itu diperlukan lompatan-lompatan yang tidak biasa untuk dapat memberikan warna globalisasi itu dari sisi gambaran (pandangan) masyarakat NTB untuk dunia.

Pada gilirannya mereka yang telah sedang dididik untuk supaya mendapatkan SDM mumpuni kiranya dapat menjadi nara hubung dari kepentingan masyarakat NTB sendiri, sehingga apa yang menjadi kekayaan lokal masyarakat baik berupa kebudayaan-kesenian, panorama alam, adat-istiadat, dan semua bentuk-bentuk kearifan local kiranya dapat ditransformasikan lebih luas ke dunia global. Pilihannya pada kondisi dewasa ini hanya ada dua, memberi warna atau kah hanya diwarnai.

Pada gilirannya jikalau putra-putri NTB baik secara kuantitas terdiri dari jumlah yang banyak yang dibarengi dengan kualitas tentu nantinya dapat menjadi entitas global yang produktif. Tidak hanya menjadi pecundang tetapi dapat menjadi pemenang karena bisa berperan aktif (berkompetisi) pada aras global. Disitulah NTB dapat memberikan partisipasi aktifnya karena automaticcaly IPM nya telah merangkak naik dan dapat diandalkan guna melakukan ekspansi baik atas nama NTB maupun atas nama Indonesia.

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.