Ritel modern (illustrasi)

LOMBOKita – Dinas Perdagangan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengancam akan menutup belasan ritel modern yang terindikasi tidak melakukan perpanjangan izin usaha.

“Dari hasil evaluasi kami, 14 ritel modern terbukti tidak atau belum melakukan perpanjangan izin operasional yang semestinya diperbaharui sekali dalam lima tahun,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram Lalu Alwan Basri di Mataram, Senin.

Alwan yang enggan menyebut nama dan posisi persis ritel modern yang akan ditertibkan itu mengatakan, upaya penutupan operasional belasan retail modern itu untuk mengingatkan investor agar taat aturan.

Ia mengingatkan jangan sampai para pengusaha hanya menuntut haknya kepada pemerintah, namun tidak melakukan kewajibannya.

“Kami bukannya menutup diri dari investor, tetapi kita juga ingin pengusaha kooperatif dalam menunaikan kewajibannya,” ujarnya.

Menurutnya, sebelum proses penutupan operasional belasan ritel modern dilakukan, saat ini pihaknya sudah melayangkan teguran dengan menyurati para pengusaha.

Apabila teguran tersebut tidak diindahkan pengusaha, katanya, maka Disdag akan menutup operasional pasar modern tersebut bersama tim.

“Kita sudah berkoordinasi dengan Satpol PP, untuk menutup operasional belasan ritel modern yang tidak mau bekerja sama,” katanya.

Di sisi lain, terkait pemberian izin retail modern setelah dicabutnya moratorium sejak Februari 2018, Alwan menyebutkan, hingga saat ini sudah ada 12 izin operasional ritel modern yang dikeluarkan.

Sebanyak 12 izin tersebut terdiri atas enam unit ritel modern Alfamart, empat Indomaret, dan dua “minimart”. “Dengan demikian, jumlah ritel modren di Mataram saat ini sebanyak 156, termasuk 14 ritel modern yang terancam kita tutup,” katanya.

Moratorium ritel modern dilakukan untuk melihat sejauh mana kebutuhan masyarakat terhadap keberadaannya, sehingga bisa seimbang dengan jumlah penduduk di kota ini.