Belitung dan Belitung Timur Dilanda Banjir

Akses jalan di dua kabupaten tersebut putus.

Banjir Belitung dan Belitung Timur/Foto: dok. BNPB

LOMBOKita – Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung, terendam banjir akibat hujan deras sejak dua hari lalu. Dampaknya, akses jalan di dua kabupaten tersebut putus.

“Banjir terjadi sejak Sabtu (15/7) pukul 05.00 WIB yang kemudian terus meningkat dan meluas. Ribuan rumah terendam banjir hingga ketinggian 1-2 meter,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangannya, Minggu (16/7/2017).

Aparat gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Basarnas, SKPD, PMI, relawan dan masyarakat membantu evakuasi warga yang terkena banjir. Hingga saat ini, belum ada laporan jumlah korban jiwa dari bencana tersebut. Pengungsi ditempatkan pada daerah-daerah tinggi yang tidak terkena banjir. Pendataan masih dilakukan.

Banjir ini disebabkan pula kemampuan drainase dan sungai beserta anak-anak sungainya yang tidak mampu menampung hujan dengan intensitas tinggi ditambah meningkatnya degradasi lingkungan di Belitung dan Belitung Timur.

Lebih lanjut, Sutopo menyebut air hujan di wilayah Belitung biasanya mengalir sebagai aliran permukaan (run off) dan menggerus permukaan. Kandungan biji timah dan kaolin banyak ditemukan di daerah endapan batuan granit, sehingga daerah sekitar sungai banyak dimanfaatkan sebagai usaha pertambangan.

“Banyaknya usaha pertambangan ini yang tidak didukung dengan upaya perbaikan lingkungan yang banyak menyebabkan terjadinya kerusakan ekosistem lingkungan. Air menjadi keruh karena partikel lumpur dan sukar untuk meresap ke tanah dan sungai yang dangkal terdapat di Belitung sebagai akibat dari aktivitas pertambangan tersebut,” papar Sutopo.

Partikel lumpur hasil tambang yang terbawa aliran tersebut menyebabkan drainase dan sungai-sungai menjadi dangkal. Jika terus terjadi, daya tampung sungai akan semakin berkurang dan saat hujan lebat dapat terjadi banjir.

“Perlu segera ada kebijakan strategis dari pemerintah setempat untuk melakukan restorasi kerusakan akibat tambang dan melakukan pengerukan di aliran-aliran sungai yang sudah dangkal,” cetus Sutopo.

Komentar Anda