Berguru Pada Hamzanwadi, Pahlawan Nasional Asal NTB

Oleh: Muhammad Halqi (Ketum Pimpus Pemuda NW)

98
kali tampilan.
Almagfurulahu Maulana Syeikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Pendiri NWDI, NBDI dan NW yang kini telah menyandang gelar Pahlawan Nasional

Tidak banyak yang tahu kalau Hamzanwadi itu adalah akronim dari nama ulama kharismatik asal Nusa Tenggara Barat. Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah demikian kepanjangannya.

Nama Hamzanwadi bagi yang pernah belajar di madrasah Pancor merupakan nama yang tidak asing. Hamzanwadi yang kadang sering dipanggil dengan sebutan Bapak Maulana Syeikh oleh murid-murid beliau yang selama hayatnya dikenal tanpa kenal lelah keliling dari kampung ke kampung NTB memberikan pengajian mulai dari terbit sampai terbenamnya matahari.

Kegigihan Hamzanwadi tumbuh sejak beliau belajar di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah. Pendidikan yang seharusnya ditempuh 9 tahun, mampu beliau selesaikan dalam kurun waktu 6 tahun. Tidak hanya cepat menyelesaikan studi, namun dibarengi dengan prestasi yang istimewa. Beliau berhasil lulus dengan predikat Summa Cumlaude (Mumtaz).

Karena kecerdasannya, banyak pujian yang terlontar dari teman maupun guru beliau. Tak tanggung-tanggung pujianpun terungkap dari Mudir ash-Shaulatiyah Maulana Syeikh Salim Rahmatullah dan Syeikh Muhammad Said yang juga keponakan pendiri Madrasah ash-Shaulatiyah mengungkapkan, “Cukup satu saja murid Madrasah ash-Shaulatiyah asalkan seperti Zainuddin yang semua jawabannya menggunakan syair termasuk ilmu falak yang sulit sekalipun”.

Maulana Syaikh Sayyid Amin Al-Kutbi bahkan dengan menyebut nama Alloh mengungkapkan kekagumannya kepada Hamzanwadi, “Demi Alloh saya kagum pada Zainuddin. Kagum pada kelebihannya atas orang lain. Pada kebesarannya yang tinggi dan kecerdasannya yang tiada tertandingi. Jasanya semerbak dimana-mana menunjukkan satu-satunya permata yang tersimpan pada moyangnya. Buah tangannya indah lagi menawan. Penaka bunga-bungaan yang tumbuh teratur di lereng pegunungan”.

Sepulang dari Makkah tahun 1934 M., nyaris tanpa jeda, Hamzanwadi langsung mendirikan Pesantren Al-Mujahidin mulai dari mushalla kecil di kediamannya Kampung Bermi, Pancor Lombok Timur.

Penamaan pesantren ini bukan tanpa sengaja, namun sejak awal ingin ditanamkan semangat juang kepada murid-muridnya sesuai dengan makna Al-Mujahidin yakni “para pejuang” dengan melihat kondisi bangsa saat itu.

Semangat perjuangan terus ditanamkan kepada murid-muridnya sampai pasca proklamasi kemerdekaan RI, Hamzanwadi mendirikan juga Laskar Al-Mujahidin, sebab pada saat itu pasukan militer Hindia Belanda ingin kembali menguasai nusantara.

Melihat kegigihan, kemampuan, dan moralitas yang ditunjukkan Hamzanwadi yang begitu tinggi, masyarakat Pancor kemudian memberikan kepercayaan kepadanya sebagai imam dan khatib shalat Jumat di Masjid Jami’ Pancor.

Figur Hamzanwadi muda yang alim, berintegritas, dan pemberani menjadi sebab masyarakat Pancor menyandangkan gelar “Tuan Guru Bajang”.

Hamzanwadi dijadwalkan mengisi pengajian rutin di Masjid Jami’ Pancor dan mengisi pengajian-pengajian umum di berbagai pelosok kampung tanpa meninggalkan pendidikan pesantren Al-Mujahidin yang didirikannya.

Pesantren Al-Mujahidin awalnya diisi oleh para pemuda dengan model halaqoh yang langsung dalam bimbingan Hamzanwadi. Pada perkembangan selanjutnya mulai dibangun lokal kelas darurat untuk mengakomodir keinginan masyarakat yang makin banyak menyerahkan anaknya belajar di pesantren.

Pesantren Al-Mujahidin adalah awal berdirinya Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) yang diajukan pada tahun 1936 M kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda Controlier Oost Lombok di Selong.

Hari ini kita memang tdk dalam kondisi sesulit yg dihadapi Hamzanwadi, namun ikhtiar membangun bangsa pasca kemerdekaan justru menjadi tambah berat. Kita berkewajiban menjaga dan menghargai jasa para pahlawan kusuma bangsa dengan kondisi yg kita hadapi.

Mari kita tetap Istiqomah melanjutkan ikhtiar Hamzanwadi dan para pahlawan lainnya, karena demikianlah cara merawat cinta padanya.

Sumber:
Maulana Syeikh dari Nusa Tenggara Barat
untuk Indonesia.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.