Bersatu Padulah, Karena Kita Semua Pahlawan Sepanjang Masa

Ditulis oleh : Abd Ali Mutammima Amar Alhaq*

32
kali tampilan.
Abd Ali Mutammima Amar Alhaq, Mahasiswa Sosiologi / Kadiv Pengabdian Masyarakat Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Mataram 2020
Loading...

Pada 75 tahun yang lalu terjadi pertempuran Surabaya, yang merupakan pertempuran tentara dan milisi pro-kemerdekaan Indonesia dan tentara Britania Raya dan India Britania. Puncaknya terjadi pada tanggal 10 November 1945. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi symbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Usai pertempuran ini, dukungan rakyat Indonesia dan dunia internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia semakin kuat. 10 November diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan di Indonesia.

Beberapa saat setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, pasukan Sekutu datang (Inggris, Belanda), mereka memasuki wilayah Surabaya. Arek-arek Surabaya dan pihak Sekutu melakukan perundingan pada 29 Oktober 1945. Namun hal tersebut tidak mampu meredam bentrokan bersenjata antara kedua belah pihak.

Bentrokan kian memanas setelah Brigadir Jenderal Mallaby, Pimpinan Tentara Inggris untuk Jawa Timur tewas pada tanggal 30 Oktober 1945. Mallaby lalu digantikan oleh Mayor Eric Carden Robert Mansergh. Mansergh kemudian mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya yang menuntut pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan terhadap Sekutu. Ia juga mengancam akan menggempur Kota Surabaya dari darat, laut, dan udara apabila perintah tersebut tidak dipatuhi. Namun, rakyat tidak gentar atas ancaman itu sehingga terjadilah pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Korban pun berjatuhan dan banyak diantaranya adalah masyarakat sipil.

Zeinta Tour and Travel - Solusi Ke Baitullah
Zeinta Tour and Travel

Sejarawan Universitas Indonesia (UI), JJ Rizal menjelaskan bahwa, peringatan Hari Pahlawan pada 10 November pertamakali dilakukan menjelang tahun 1950-an. Presiden Soekarno ketika itu melalui Keputusan Presiden Nomor 316 tahun 1959 menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Loading...

Keputusan Presiden Soekarno tersebut didasari oleh usulan Sumarsono, mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang ketika itu turut berperan besar dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan bangsa bersama arek-arek Suroboyo.

Menurut sejarawan Universitas Indonesia (UI) JJ Rizal, langkah Bung Karno menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan adalah sebagai upaya sang proklamator untuk melegitimasi peran militer dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Merdekanya Bangsa Indonesia tak lepas dari perjuangan para tokoh pendahulu yang disebut dengan Pahlawan Nasioanal. Lalu siapakah yang disebut Pahlawan Nasional tersebut?. Menurut Undang-undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, bahwa seseorang dapat disebut Pahlawan Nasional adalah warga Negara Indonesia yang telah berjuang melawan penjajah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan telah gugur atau meninggal dunia dengan membela bangsa dan negara.

Ratusan tahun lamanya sebelum merdeka, Indonesia yang kaya akan sumberdaya alamnya hidup dalam penderitaan, dijajah, dirampas, dan dikhianati oleh sekelompok pedagang yang ternyata dating dengan niatan jahat. Sontak saja di berbagai daerah seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi bahkan Nusa Tenggara memunculkan api semangat perjuangan melawan para pedagang yang ternyata adalah penjajah yang kemudian melahirkan para tokoh-tokoh hebat yang dikenal dengan sebutan ‘PahlawanNasional’.

Pada tanggal 09 November 2017 nampaknya merupakan moment yang tak akan pernah bisa dilupakan oleh masyarakat NTB. Bagaimana tidak, saat itu Almarhum TGKH M Zainuddin Abdul Madjid, tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Wathan (NW) resmi ditetapkan sebagai ‘Pahlawan Nasional’ oleh Presiden H. Joko Widodo.

Penetapan itu berdasarkan keputusan Presiden Joko Widodo, nomor 115/TK/tahun 2017 tentang penganugerahan gelar pahlawan nasional.

Ditetapkannya TGKH M Zainuddin Abdul Madjid sebagai ‘Pahlawan Nasional’ disambut gembira oleh masyarakat, ini Nampak dari berbagai ucapan dan rasa syukur masyarakat. Kini Maulana syekh tidak hanya milik warga NW saja, tetapi milik seluruh masyarakat NTB bahkan Indonesia.

Lantas apa saja yang bisa dipetik atau diambil dari kisah hidup TGKH M Zainuddin Abdul Madjid. Di momentum Hari Pahlawan Nasional 2020 ini setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita ambil dari sosoknya:

Pertama, proses mencari ilmu yang dilakukannya secara tekun dan serius serta cerdas mampu menjadikan dirinya memiliki “pilihan jalan tinggi”, jalan luhur yang rasional dan berpijak pada etika moral yang konsisten. Sejak muda, setelah kembali dari jihad ilmu di Mekkah, beliau lebih fokus “berkarya dan memberi” pada orang lain, masyarakat dan negara. Keterlibatannya dalam dunia politik sejak tahun 1950-an dan di era Orde Baru tidak menggodanya terlibat dalam perbuatan yang KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme).

Para pejabat, politisi dan kita semua harus bisa mengikuti sosoknya yang tidak terlibat dan tergoda KKN. Bekerja, dan bergerak untuk kepentingan rakyat semata bukan untuk kepentingan diri maupun kelompok.

Kedua, kiprahnya dalam bidang pendidikan, social dan pemberdayaan masyarakat, khususnya di Lombok mampu memberikan pencerahan sekaligus pemberdayaan. Pelbagai tindakan yang dilakukkan secara evolutif dan persuasif, memberikan peluang untuk ditiru oleh orang lain. Lembaga yang didirikannya yaitu Nahdlatul Wathan mencermikan dimensi Negara dan agama dalam satu tarikan napas, sehingga ini menunjukkan bahwa berjuang untuk agama sekaligus memperjuangkan Negara dan sebaliknya.

Momentum Hari Pahlawan 2020 ini juga harus kita jadikan evaluasi dan mengingat kembali apa yang telah disampaikan oleh Bapak Proklamator Ir. Soekarno. Ia mengatakan bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.

Ucapan sang Bapak Proklamator benar-benar terbukti, sejak awal kemerdekaan Indonesia sudah ada konflik yang muncul. Mulai dari konflik soal penetapan dasar negara, perebutan kekuasaan dan penyelewangan kekuasaan. Hari ini, kita masih dihadapkan pada sibuk melawan dan menjatuhkan sesame karna perbedaan kepentingan politik, hari ini kita masih pula disibukkan dengan konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).

Mari bersatu-padu memajukan Indonesia, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Biarlah golongan / kelompok yang membedakan kita, namun niatan dan keinginan kita memajukan Indonesia jangan sampai berbeda.

Selamat Hari Pahlahwan, terima kasih atas jasa dan perjuangamu sehingga kami dapat merasakan kemerdekaan dan melanjutkan perjuanganmu.

*Abd Ali Mutammima Amar Alhaq*
Mahasiswa Sosiologi / Kadiv Pengabdian Masyarakat Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Mataram 2020

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.