Bertemu Bang Zul

Ahmad Efendi, Komunitas Balai Tulis Literacy NTB

62
kali tampilan.
Dr. H. Zulkieflimansyah di Ajang penghargaan Anugerah Music Lombok 2017.

LOMBOKita – Selasa pagi tanggal 28 Januari 2019, penulis berkesempatan bertemu Bang Zul di sela-sela acaranya yang begitu padat. Bersalaman dan sebut nama, lalu penulis dipersilahkan ikut pertemuan antara calon mahasiswa-mahasiswa pascasarjana NTB dengan Pihak Universitas Chodang Korea.

Hadir Rektor Universitas Chodang dan pejabat-pejabat rektorat lainnya. Hadir Sekitar 39 calon Mahasiswa NTB dari berbagai Kabupaten di NTB hadir minus Kabupaten Sumbawa Barat.

Acara ini dihajatkan untuk prepare keberangkatan 39 Calon Mahasiswa Pasca Sarjana NTB pada bulan Februari 2019. Ke 39 Calon mahasiswa yang hendak mengambil program Magister di bidang Kesehatan dikumpulkan untuk bertemu langsung dengan pihak Universitas Chodang yang nantinya akan mereka temui di Korea. Pertemuan yang cukup penting guna mereka mempunyai gambaran awal mengenai Universitas yang akan menerima mereka khsususnya dan mengenai bagaimana hidup di Korea selama minimal 2 tahun.

Acara dibuka dengan pemutaran film Lombok-Sumbawa Holiday yang menampilkan pesona tiada akhir potensi-potensi Wisata di NTB. Setelahnya pidato dari Rektor Univeristas Chodang yang sangat pendek sekitar 2 menit yang intinya hendak berkomitmen untuk melayani para calon Mahasiswa NTB sebaik-baiknya nanti di Korea. Lalu dilanjutkan dengan pidato dari Bang Zul.

Loading...

Acara yang cukup bergengsi namun dilaksanakan dalam waktu cukup singkat, sederhana namun penuh substansi.

Pesan Percaya Diri
Sebenarnya pesan yang ingin disampaikan Bang Zul lewat pengiriman Mahasiswa NTB untuk melanjutkan ke berbagai Universitas-universitas di Luar negeri adalah untuk membentuk individu percaya diri. Tentu saja ada pesan-pesan lain terkait dengan persoalan teknis SDM, namun pesan besarnya adalah menciptakan Individu-individu Mahasiswa NTB menjadi personal yang percaya diri.

Mengapa membentuk personal insan “Percaya Diri” ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas penulis hendak memberi ilutrasi lewat dua rumpun besar teori-teori yang mempunyai hubungan pertentangan di dalamnya yaitu teori modernisasi Vs. teori-teori Dependensia. Bahwa banyak teori-teori modernisasi yang telah diadposi oleh Negara-negara berekembang (pinggiran) jika dilihat dari Negara-negara maju kapitalis yang menjadi centernya. Berbagai macam teori yang ditawarkan untuk membangun Negara-negara pernah terjajah seperti Indonesia yang terekam lewat Buku Westernizing The Third World miliknya Ozay Mehmet yang diterbitkan oleh Ruoledge Taylor and Francis Group. Buku yang tebalnya sekitar 200-an halaman ini memamparkan berbagai macam teori-teori pembangunan yang telah sedang terus dijalankan dalam rangka pembangunan di banyak Negara-negara terjajah dahulunya.

Dalam pada itu sipenulis buku Ozay Mehmet sepertinya meyakini bahwa teori-teori yang telah sedang dipakai itu lebih cenderung digambarkan sebagai teori-teori Europasentris. Teori-teori yang lahir dari Rahim pemikiran Barat sentris lalu kemudian ditawarkan ke Negara-negara pinggir seperti Negara-negara berkembang yang pernah sebagaian besarnya mengalami kolonialisasi. Artinya terdapat treatment yang sebenarnya kurang familiar bagi keberadaan atau situasi kondisi Negara-negara pinggir yang diberikan resep-resep pembangunan yang berangkat dari teori-teori Europasentris tersebut.

Kondisi ini terus —menerus dijalankan meskipun terdapat berbagai kritik yang coba menelanjanginya. Misalnya konsep pertumbuhan yang sering kali didapatkan lewat refresentasi-refresentasi kaum bermodal, di mana angkanya jelas disumbangkan oleh mereka secara signifikan namun harus dibagi dengan jumlah keseluruhan masyarakat. Dalam pada ini tentu saja hasilnya tidak mampu menggambarkan mana masyarakat yang berpenghasilan tinggi, sedang atau rendah, namun tetap dijadikan rujukan dalam rangka pembangunan.

Ada juga trickle down effect yang lebih memperlihatkan azas ekonomi acuh tak acuh karena asumsinya biarkan masyarakat bermodal bekerja dan berinvestasi pada akhirnya titisan-titisan kesejahteraan itu akan timbul dengan sendirinya. Big Fush Theory yang bermaksud memberikan dorongan besar-besaran terhadap upaya industrialisasi pada Negara-negara pinggir, namun termasuk program yang dikatakan gagal pula (Arsyad Lincolin: 2004). Masih banyak lagi teori-teori pembangunan yang berada dalam rumpun modernisasi di mana semuanya merupakan teori-teori yang diimpor dari pusat Negara-negara kapitalis ke Negara-negara pinggir seperti Indonesia.

Berkebalikan dari itu muncullah teori-teori yang dilahirkan dari para pemikir Negara-negara pinggir yang dikenal dengan teori Dependensia. Teori dependensia ini terbagi menajdi dua bagaian yaitu teroi dependensia (klasik) yang diplopori Andre Gunder Frank dan teori Dependensia (baru) yang diimami oleh F.H. Cardoso. Inti dari teori Dependensia adalah bahwa factor-faktor yang membuat Negara-negara pinggir seperti Indonesia sulit mengalami “kemajuan” bukanlah dari dalam masyarakat, melainkan dari luar masyarakat itu sendiri.

Pada gilirannya para tokoh penganut teori Dependensia itu menggugat teori-teori pembangunan modernisasi yang banyak ditawarkan oleh Negara-negara pusat kapitalis seperti yang dijelaskan oleh Ozay Mehmet dalam bukunya seperti yang digambarkan pada paragraph-paragraph terdahulu. Dari sinilah kemudian dimunculkan perlunya Negara-negara pinggir (berkembang/ yang sebagain besarnya pernah dijajah) untuk mengkaji ulang resep-resep pembangunan yang telah sedang dijalankan selama ini.

Turunnanya di Indonesia pun ada istilah para tokoh pemikir strukturalis yang asumsinya sama dengan para tokoh-tokoh penganut teori Dependensia. Pemikir strukturalis ini dapat dilacak dari keberadaan Mohammad Hatta, Sritua Arif, Mubyarto, Adi Sasono, Sri Edi Suasono, Rizal Ramli. Ada juga dari tokoh muda seperti Revrisond Baswir, Didik J. Rachbini, Idham Samodra dan kawan-kawannya. Kesemua tokoh pemikir strukutralis ini meyakini perlunya pemerintah di Negara-negara pinggir seperti Indonesia mengambil inisiatif-inisiatif untuk melepaskan diri dari jejaring ekonomi-politik yang bersifat eksploitatif di mana tidak lepas dari keberadaan system ekonomi colonial-Kapitalis yang hanya menguntungkan para pemodal besar.

Perlunya pemerintah Negara-negara seperti Indonesia mengambil inisiatif sendiri guna melepaskan diri dari keterkungkungan konsep-konsep kolonialisme yang merasuki lewat teori-teori pembangunan yang telah lama berkembang. Lalu dalam amatan penulis ajakan-ajakan kaum strukturalis Indonesia ini mendapatkan rintangan yang begitu berat. Disebabkan oleh adanya pelembagaan struktur ekonomi kapitalis yang telah lama mapan di Indonesia.

Akibatnya masyarakat Indonesia pada umumnya selalu merasa berada pada posisi yang lebih rendah dibandingkan dengan konsep-konsep luar yang dikembangkan. Dalam pada ini harga “percaya diri” itu menjadi sangat mahal. Itulah mengapa kemudian Bang Zul hendak mencoba membangunnya dari NTB. Bahwa teori-teori yang ditawarkan oleh pemikir-pemikir Barat itu pada hakikatnya adalah cocok bagi kelas pemodal. Kelas yang mempunyai jiwa entreprenurship – memandang tinggi kekuatan yang didapat lewat tumpukan “uang” .

Posisi ini merupakan posisi terhormat dan bergengsi. Sementara masyarakat yang sudah kedung nyaman sebagai “penerima” berbagai macam hal mulai dari konsep membangun sampai menjadi “penerima” barang-barang ciptaan orang luar sudah merasa kalah lebih dulu.

Pantaslah kemudian “percaya diri” itu menjadi sesuatu yang sulit diraih bagi masyarakat Indonesia maupun NTB. Kehidupan sehari-harinya telah kedung begitu lekat dengan semua yang didatangkan dari luar yang diciptakan dari mesin kapitalisme. Maka untuk bisa menumbuhkan “kepercayaan diri” masyarakat haruslah dimulai dari perbaikan SDM sehingga nantinya bangga menjadi entrepreneur-entreprenur handal yang menjadi titik kekuatan kapitalisme global saat ini. Parameternya kemudian adalah mereka harus dikirim ke Negara-negara pusat (kapitalis) itu sendiri untuk belajar. Apalagi Bang Zul juga berpesan bahwa NTB hendak didesain bagi Global Community which welcome to everybody, yang maknanya bahwa masyarakat NTB seharusnya dapat menerima dan bersanding dengan semua lapisan masyarakat internasional sehingga nantinya ada kemajuan bersama yang diperoleh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.