Ilustrasi Kereta Gantung Rinjani

LOMBOKita – Tagar / hastag #Idegila yang dibuat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat Lalu M. Faozal menyikapi wacana pemerintah Kabupaten Lombok Tengah membangun kereta gantung ke Gunung Rinjani, ditanggapi Ketua Blue Green Indonesia Dian Sandi Utama.

Menurut Dian Sandi Utama, rencana pembangunan “cable car atau skyline” dari wilayah Kecamatan Batukliang Utara menuju puncak gunung Rinjani merupakan salah satu terobosan baru di daerah Tatas Tuhu Trasna (Tastura) ini. Karenanya, rencana tersebut mendapat tanggapan beragam dari berbagai lapisan masyarakat.

Dian Sandi Blue Green Indonesia

“Wajar saja banyak tanggapan dari masyarakat, baik yang posisif maupun negative. Terlebih Rinjani masih dianggap gunung yang sakral bagi masyarakat Lombok,” kata Dian Sandi Utama melalui siaran pers kepada Lombokita.com, Selasa (10/1/2017).

Karena itu, kata Dian Sandi, pemerintah daerah harus memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya kepada masyarakat bagaimana konsep rencana pembangunan kereta gantung yang akan dibangun oleh investor China tersebut.

“Blue Green Indonesia juga belum mendapatkan konsep resmi rencana itu, sehingga belum menyatakan sikap apakah mendukung atau menolak rencana itu,” ujar Dian Sandi.

Meski demikian, kata Dian Sandi, sepanjang konsep yang diterapkan dalam pembangunan kereta gantung itu membawa manfaat dan kemajuan bagi daerah, kenapa harus ditolak?. Tetapi jika penerapannya akan berdampak tidak baik kepada masyarakat dan lingkungan, Dian Sandi menegaskan, Blue Green Indonesia akan menjadi barisan terdepan menolak rencana Bupati Lombok Tengah HM Suhaili tersebut.

Baca juga: Suhaili Rencanakan Kereta Gantung Rinjani

“Bulan ini kami ada rencana untuk bertemu dengan Bupati dan meminta penjelasan terkait rencana pembangunan kereta gantung itu, supaya informasi yang kami terima juga tidak serampangan,” tandas dian Sandi.

Investor dan pemerintah, katanya, seandainya rencana ini terealisasi tidak boleh melangkahi prosedur dan mekanisme yang ada, semua proses harus sesuai aturan, agar bisa diterima semua pihak.

Dian Sandi menilai, ada nilai sangat positif dalam pemikiran Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT dengan rencana tersebut. “Bisa jadi beliau prihatin terhadap negara yang tengah mengalami keadaan ekonomi seperti sekarang ini. Dimana negara hanya mengandalkan pajak dan hutang untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan,” kata Dian Sandi.

Karena itu, menurut Dian, diperlukan kecerdasan dan kreatifitas kepala daerah dalam mendatangkan sumber pendapatan negara. Dia menyebutkan contoh, pengelolaan Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Pengelolaan gunung sangat baik dan rapi sampai mampu menyumbang sekitar 30 persen dari PDB Nasional.

Lagipula, lanjut Dian Sandi, Kepala BTNGR Agus Budi sudah memberikan “lampu hijau”, hanya saja jalur yang dilalui kereta gantung itu harus sesuai dengan zonasi Rinjani. “Kami sering komunikasi kok,” kata Dian sambil tersenyum.

Namun, kata Dian Sandi, jika ide Bupati Lombok Tengah HM Suhaili itu dianggap ide gila oleh seorang Kepala Dinas, patut dipertanyakan apakah kepala dinas itu pernah membuat analisa-analisa dampaknya atau tidak sebelum berkomentar seperti itu atau tidak dengan membuat tagar #idegila.

“Penting untuk saya garis bawahi, saya ingin menyampaikan kepada beliau (Kadis Budpar NTB, Lalu Faozal) janganlah anti kemajuan,” pungkas Dian Sandi.

Komentar Anda