LOMBOKita – Badan Narkotika Nasional Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menerapkan program penyaringan (screening) pelajar yang terindikasi menyalahgunakan narkoba untuk dilakukan rehabilitasi.

Kepala Badan Narkotika Nasional Kota (BBNK) Mataram H Nur Rachmat di Mataram, Rabu, mengatakan beberapa sekolah yang sudah dipetakan menjadi prioritas untuk pengiriman tim konselor bekerja sama dengan guru BK (bimbingan dan konseling) pada setiap sekolah dasar dan SMP sedang SMA menjadi ranah pemerintah provinsi.

“Jadi guru BK mengumpulkan pelajar yang bermasalah, misalnya, siswa yang merokok, malas dan prestasi menurun untuk dilakukan ‘screening’,” katanya.

Sampai saat ini, sudah ada lima sekolah baik tingkat SD maupun SMP yang telah didatangi dan berhasil dilakukan penyaringan terhadap anak-anak yang terindikasi melakukan penyalahgunaan narkoba.

Dari kegiatan tersebut, menurutnya, telah terjaring kurang dari 10 pelajar yang saat ini sedang mengikuti rehabilitasi di Klinik Pratama BNNK Mataram.

“Saya tidak mau sebut nama sekolahnya, karena hal itu bisa membuat mereka minder. Tapi para pelajar ini masih tetap aktif sekolah dan harus rutin melakukan rawat jalan sesuai dengan jadwal yang ada,” katanya.

Pogram penyaringan pelajar yang terindikasi melakukan penyalahgunaan narkoba akan terus dilakukan ke sekolah-sekolah lainnya di kota ini termasuk ke madrasah.

Para pelajar yang sudah kena pengaruh narkoba akan dibantu secara gratis hingga mereka kembali pada kehidupan normal melalui program rehabilitasi dan diselamatkan dari kecanduan menyalahgunakan narkoba.

“Hal itu dimaksudkan agar generasi penerus bangsa terbebas dan tidak terpengaruh dari penyalahgunaan narkoba,” katanya.

Nur Rachmat sebelumnya menyebutkan “game online” sebagai salah satu pintu masuk penyalahgunaan narkoba terutama di kalangan anak-anak.

“Awalnya mereka mengonsumsi obat keras seperti tramadol kemudian coba-coba ke jenis shabu,” katanya.

Menurutnya, anak-anak mengonsumsi obat-obat terlarang bertujuan meningkatkan daya tahan agar bisa terus teraja bermain “game online” selama 24 tanpa tidur.

Kondisi itu berhasil teridentifikasi saat timnya melakukan konseling kepada sejumlah anak-anak atau pelajar yang datang dibawa oleh guru BK ke BNNK dan saat ini masih mengikuti rehabilitasi.