Catatan dari Bilik Desa “Melawan Curiga”

Ditulis oleh AHMAD PATONI, M. Pd.(Pendamping Desa Pemberdayaan Kecamatan Pringgasela.)

243
kali tampilan.
Loading...

LOMBOKita – Sebagai seorang pendamping Desa, bukan satu atau dua keluarga yang tau. SK Pendamping mengokohkan posisi kami, SPT (Surat Perintah Tugas) Menguatkan posisi kami di lokasi tugas.

Interaksi dan komunikasi yang terbangun dengan sekian elemen masyarakat desa adalah satu hal yang tidak bisa kita pungkiri, tidak jarang menjelang lebaran undangan Bukber bergentayangan seperti hantu tak punya rimba. Sesekali para kolega dan sahabat menatap dingin pada setiap pendamping yang tiap hari bersama mereka.

Mereka tidak tau secara mendalam bagaimana kondisi lebih dalam tentang hiruk pikuk dan pahit manisnya sebagai pendamping, mereka cuma tahu kami adalah sebuah komunitas kelas sosial baru, kelompok masyarakat yang tidak kalah dengan para ASN lainnya, mereka selalu berfikir kami merupakan kelas istimewa di setiap lebaran tiba. Kami adalah kelompok yang dimanjakan oleh THR dan gaji 13. Itulah perasangka. Dan kita tidak punya kemampuan tinggi untuk bersilat lidah dalam hal beginian.

Mereka cuma mengetahui kami ini adalah pegawai kontrak Kementrian, memiliki fasilitas sama seperti pegawai kementrian lainnya. Karena tidak bisa dipungkiri, dalam informasi yang mereka tangkap, logo P3MD adalah logo keren penuh keberkahan. Dan semua ini sangat sah dan boleh terjadi diantara sahabat. Tidak jarang para pendamping desa harus menyisihkan gaji bulanan untuk menjaga silaturahmi dalam bentuk acara Buka Bersama. Meskipun terkadang menyisihkan Gaji Pendamping di bulan Ramadhan memerlukan strategi terjitu.

Kenapa strategi Jitu sangat dibutuhkan saat Ramadan Tiba,? Pendamping Desa tidaklah berpangku tangan atau libur di saat Puasa Datang, Mereka harus tetap turun ke desa dan tentunya harus menyisihkan uang operasional seperti apa yang tertera di slip gaji bulanan. Bukan sekedar itu, mereka juga tetap punya keinginan memberikan hal terbaik bagi anak istrinya di rumah.

Harapan setiap ibu rumah tangga di bulan penuh berkah adalah memberikan masakan terbaik disaat buka puasa berlangsung sepulang sang suami bekerja, masakan terbaik tidak akan hadir melainkan dari harga standar pasar yang ada, ibu rumah tangga sangat tau tentang harga yang melambung tinggi disetiap kedatangan bulan penuh berkah ini. Disinilah kejituan mengatur keuangan keluarga sangat dibutuhkan. Belum lagi kemasukan 10 akhir bulan Ramadhan, harapan anak untuk bisa dibelikan baju baru dan sandal baru. Buka puasa diluar, sambil jalan jalan ke Mall adalah hal yang tidak bisa kita pungkiri. Tidak heran banyak status para pendamping yang jadi ojek online bagi istrinya dan anak-anaknya yang sedang menikmati hari akhir bulan penuh berkah.

Di saat hari Lebaran tiba, keluarga berdatangan, bersalaman dan bergandengan tangan penuh harapan. Mendatangi keluarga yang merupakan pegawai kontrak kementerian tentunya ada hal yang akan beda dengan keluarga yang bukan pegawai kontrak lainnya.

Akankah hal ini akan terus berlalu di setiap tahun?

Bukan berarti dia tak mampu memenuhi semua, dan bukan berarti keluarganya terlalu banyak harapan. Akan tetapi inilah realita Lebaran yang terus dilalui para pegawai kontrak P3MD. Dan 2019 adalah tahun keempatnya. Dimulai dari lebaran tahun 2016, harapan akan beda dengan 2017. Ternyata tetap berlalu seperti biasanya.

Harapanpun datang di tahun 2018, dan ternyata 2018 tidak jauh berbeda dengan dua lebaran sebelumnya. Harapan lagi muncul pasca pesta demokrasi dan mungkin ini tahun terakhir para pendamping berharap memiliki nasib sama seperti ASN lainnya.

Bagi pendamping Desa, selama ini THR tetap menjadi sebuah hiasan berita media TV Nasional. Para ibu rumah tangga tetap menatap suaminya dengan sayu dan senyum menyemangati. **

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.