Ilustrasi debt collector

LOMBOKita – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat menangkap tujuh orang yang berprofesi sebagai “debt collector” (penagih utang) ketika melakukan perampasan kendaraan di wilayah Sikur, Kabupaten Lombok Timur.

Kanit I Subdit III Bidang Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Ditreskrimum Polda NTB AKP Elyas Ericsson di Mataram, Jumat, mengatakan tujuh “debt collector” diamankan pada Kamis (5/4) pagi, dengan korban salah seorang anggotanya yang sedang menjalankan tugas untuk menghadiri persidangan sebagai saksi di Pengadilan Negeri Lombok Timur.

“Saat berada di wilayah Sikur, Lombok Timur, anggota kita diadang oleh tujuh pelaku dan mencoba melakukan perampasan terhadap kendaraan operasional kepolisian yang dikendarai anggota. Alasan mereka karena pakai pelat kendaraan palsu,” kata Elyas.

Ketika diadang oleh tujuh pelaku, anggotanya telah memberikan penjelasan tentang maksud dari penggunaan pelat kendaraan yang sengaja dipalsukan tersebut.

Bahkan anggotanya juga turut meminta tujuh pelaku untuk menunjukkan surat penarikannya. Namun tidak ada satu pun persyaratan yang sesuai dengan prosedur.

“Dalam ketentuannya, mereka harus menunjukkan surat tugas penarikan, saat diminta, mereka tidak bisa menunjukkan. Orang yang boleh melakukan penarikan itu adalah yang bertanda tangan dalam surat penarikan, dan juga harus ada penetapan dari pengadilan,” katanya.

Namun tujuh pelaku tidak menanggapi penjelasannya, mereka meminta agar persoalannya diselesaikan di kantornya yang berada di wilayah Kabupaten Lombok Timur.

“Anggota kita sudah perlihatkan kartu anggota dan menjelaskan kalau sedang dalam tugas untuk menghadiri sebagai saksi di pengadilan. Tapi tidak juga didengar, malah disuruh diselesaikan ke kantor mereka,” ujar Elyas.

Pada akhirnya anggota mengikuti permintaan tujuh pelaku dengan salah satu di antaranya ikut di dalam kendaraan. Sedangkan yang lainnya mengikuti dari belakang menggunakan kendaraan roda dua.

“Dalam perjalanan, anggota tidak langsung ke kantor mereka, tapi belok ke polsek. Di sana mereka langsung diamankan,” ucapnya.

Tujuh pelaku yang telah diamankan di Mapolda NTB masih menjalani pemeriksaan. Dalam persoalan ini, pelaku disangkakan Pasal 368 KUHP tentang Pemerasan.

“Sesuai aturan, mereka bisa dijerat dengan Pasal 368 KUHP tentang Pemerasan, ancamannya sembilan tahun penjara,” ujar Elyas.