Di Konferensi Pemuda ASEAN, TGB Paparkan Islam, Ekonomi dan Moderasi

181
kali tampilan.
Loading...

LOMBOKita – Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia, Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, MA memberikan pemaparan pada acara Asean Youth Conference (konferensi Pemuda Asean) yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Sabtu (12/10/2019).

Acara ASEAN Youth Conference 2019 Society 5.0. Connecting with Technology in A Society teesebut diprakarsai Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Asia Pacific University, serta dihadiri para perwakilan pemuda dan mahasiswa ASEAN, KBRI diwakili Korfung Pensosbud KBRI KL.

Dalam pemaparannya, TGB Zainul Majdi mengupas tentang tiga hal pokok yang dianggapnya sangat penting saat ini, yakni Islam, Ekonomi, dan Moderasi.

Secara gamblang TGB yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) itu mengulas sejarah terbentuknya African Union pada tahun 2001 menggantikan Organization of African Unity yang didirikan pada 25 Mei 1963. Kemudian Liga Arab dibentuk pada Maret 1945. Carribbean Community dibangun pada July 1973, Union of South American Nation baru saja terwujud pada Desember 2004, Council of Europe yang menjadi cikal bakal European Union didirikan pada Mei 1949, negara-negara Asia Selatan bersatu lewat South Asian Association for Regional Cooperation pada Desember 1985. Organisasi lainnya seperti Union for the Mediterranean terbentuk pada Juli 2008.

“Lalu kita mengenal juga Eurasian Economic Union yang menyatukan Rusia, Kazakhstan, Kyrgyztan, Belarus, dan Armenia sebagai komunitas ekonomi yang baru mengokohkan eksistensinya pada 2015,” papar TGB Zainul Majdi.

Loading...

ASEAN sendiri, kata TGB, berdiri pada 8 Agustus 1967. Apa yang unik dari ASEAN? Yang mungkin sebagian besar besar dari kita justru lupa?

Bagi TGB, ASEAN merupakan organisasi regional yang paling stabil dalam eksistensinya.

Berdiri di sekitaran periode pertengahan perang dingin dan di tengah pergolakan perang Vietnam. ASEAN tidak mengalami perubahan tulang punggung manifesto seperti organisasi regional lainnya.

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dua periode itu menyebutkan, ASEAN tetap berdiri teguh pada Deklarasi Bangkok dengan mengedepankan ‘the ASEAN Way’ yang berpegang teguh pada norma kultural atau budaya luhur bangsa Asia Tenggara dalam menghadapi berbagai tantangan baik global ataupun regional. ASEAN berdiri tegak ditengah berbagai badai politik.

Apa yang menjadi pokok dari budaya luhur bangsa Asia Tenggara itu? TGB menjelaskan, dalam bahasa Indonesia, dikenal sebagai Gotong Royong. Dalam G kapital dan R kapital.

“Lantas apa yang menjadi intisari dari Gotong Royong itu? Sebelum kita kesana, kita kenali dulu esensi dari Gotong Royong. Esensi Gotong Royong tak lain dan tak bukan adalah kolaborasi,” kata TGB Zainul Majdi.

Dalam proses kolaborasi itu, lanjut TGB, terjadi proses alamiah dari para pihak yang akan terus menerus mencari apa yang disebut sebagai “Jalan Tengah” dimana perbedaan dimaknai sebagai kekhasan, ciri unik, atau DNA yang tidak perlu dilenyapkan.

Perbedaan adalah khasanah keberagaman yang menyatu menjadi rasa pertanggungan-jawab kolektif atas kemajuan atau kemunduran bersama.

“Maka intisari dari Gotong Royong itu adalah moderasi,” tandas cucu pendiri NWDI, NBDI dan NW itu.

Jika kembali kepada ASEAN, katanya, moderasi adalah modal politik terbesar kita sebagai ‘bangsa regional’ dengan ciri khas masing-masing warga bangsa pada tiap-tiap negara.

TGB menyebutkan, bahwa diantara organisasi regional itu, penduduk ASEAN telah mencapai lebih dari 600 juta orang, bahkan mendekati 650 juta penduduk. Lebih besar dari Uni Eropa hari ini, dan pastinya lebih besar dari Liga Arab.

“Kenapa saya sebut Uni Eropa dan Liga Arab? Yang signifikan dari Uni Eropa adalah pengaruh ekonominya dan yang kuat dari Liga Arab adalah penduduk muslimnya,” pungkas Zainul Majdi.

Pada kesempatan itu, TGB menyebut dua kata kunci, yakni ekonomi dan Islam.

Disaat ekonomi global didera ketidakpastian atas perang dagang Amerika-Cina, bagaimana ekonomi ASEAN mampu menjadi penyeimbang dan kemudian mengubah ketidakpastian itu menjadi driver baru bagi perekonomian global karena banyaknya pelaku ekonomi swasta Cina mengalami kesulitan pendanaan dari bank pemerintah Cina.

“ASEAN tentu bisa menjadi pusat baru bagi produksi berbagai komoditas atau consumer products sekaligus pasar konsumsi potensial dengan daya beli yang tinggi seiring dengan meningkatnya kelas menengah di kawasan Asia Tenggara sendiri,” katanya lagi.

TGB Zainul Majdi menyontohkan, Go-Jek sudah mulai memperluas area layanannya untuk ASEAN, Grab disaat yang sama juga telah melakukan hal yang sama.

Jika ASEAN sebagai komunitas ekonomi bisa menciptakan iklim yang kondusif bagi inovasi dan ekspansi dari tiap-tiap negara anggota ASEAN, bisa dibayangkan betapa besar potensi sirkulasi supply and demand yang bisa muncul dari dan untuk warga ASEAN itu sendiri.

Kemudian, kata kunci kedua yang disebutkan TGB adalah Islam.

Sebagai agama dengan penganut terbesar kedua menurut catatan Pew Research Center di tahun 2017 sebesar 1.8 miliar orang atau 24% dari penduduk dunia dan masih menjadi the fastest growing major religious group di dunia hingga saat ini.

Pertumbuhan penganut ini tak ubahnya pasar ekonomi, dimana pertumbuhan bisa menjadi hal yang positif namun disisi lain, pertumbuhan penganut Islam saat ini tengah disertai dengan tantangan tumbuhnya fanatisme yang perlahan tapi pasti mengancam nilai moderasi, sehingga Islam seolah dihadapkan pada hitam-putih, disini yang benar dan yang lain salah.

“Hitam-putih Islam yang tumbuh saat ini membawa kita pada kata baru, islamophobia,” sebut adik kandung Wakil Gubernur NTB tersebut.

Pada titik ini, lanjut TGB, ASEAN bisa dikelola secara mandiri dari para warganya dalam mengambil inisiatif untuk menjadi noise ternyaring dan akhirnya gerakan terbesar dalam mempromosikan moderasi Islam sebagai arus utama Islam saat ini di tengah persepsi negatif terhadap Islam.

Warga Indonesia dan Malaysia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar pertama dan kedua di kawasan Asia Tenggara menjadi sangat penting ditengah pergaulan global untuk mengkampanyekan Islam sebagai Rahmatan lil Alamin.

Berkah bagi dunia untuk membangun inspirasi utama perdamaian dan Jalan Tengah peradaban bagi kemajuan dunia yang bisa meminimalisasi dampak dari perang dagang, adu ideologi, dan konflik identitas.

Indonesia memang negara dengan penduduk penganut Islam terbesar dunia, apabila semangat moderasi Islam di Indonesia bisa menyatu padan dengan Malaysia, maka bisa menjadi kekuatan utama moderasi Islam bagi seluruh dunia.

Islam Asia Tenggara dapat menginspirasi dunia bahwa Islam tidak menegasikan perbedaan, Islam membawa Gotong Royong, kolaborasi, dan moderasi demi peradaban dunia yang maju dalam inovasi.

“Jadikanlah moderasi sebagai pesan bagi konferensi pemuda/pemudi ASEAN di Kuala Lumpur hari ini bagi dunia,” tegas TGB Zainul Majdi.

Kepada seluruh pemuda dan pemudi peserta konferensi, TGB berpesan jadilah kaum muda yang menginspirasi para pembuat kebijakan saat ini untuk membentuk masa depan yang lebih cemerlang untuk masa depan Islam dan dunia.

“Jadikan Islam dan dunia sebagai rahmah bagi seluruh alam raya. Belajar dari Muhamed Salah di Nottingham yang menginspirasi kita semua. Cheers… Syukron,” ucap TGB mengakhiri pemaparan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.