Dinas Pariwisata Bentuk Satgas Rinjani Bersih

Untuk melakukan penjagaan dan pembersihan jalur pendakian ke gunung Rinjani.

foto/utarakita.com

LOMBOKita – Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Taman Nasional Gunung Rinjani meluncurkan pembentukan Satuan Tugas Rinjani Bersih untuk melakukan penjagaan dan pembersihan jalur pendakian ke gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia itu dari tumpukan sampah.

“Dalam Minggu ini, tim Satuan Tugas (Satgas) Rinjani Bersih ini sudah mulai bekerja membersihkan seluruh jalur pendakian dari sisa-sisa sampah yang ditumpuk para pendaki,” kata Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Moh Faozal di Mataram, Senin.

Ia mengatakan, Tim Satgas Rinjani Bersih ini berjumlah delapan orang. Dari delapan orang, masing-masing bertugas dua orang secara bergiliran, mulai dari Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu.

“Untuk hari lain seperti, Senin, Selasa, dan Rabu itu ditangani oleh pegawai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR),” ujarnya.

Faozal menyebutkan, Satgas Rinjani Bersih ini terdiri dari para kelompok dan pegiat pecinta lingkungan, masyarakat yang berada di lingkar TNGR, serta pelaku pariwisata.

“Ruang lingkup kerja mereka ini nantinya berada pada titik jalur pendakian yang biasanya ditemukan tumpukan sampah, seperti di Pelawangan Sembalun, Senaru, Danau Segara Anak,” tuturnya.

Nantinya, Tim Satgas tersebut, kata Faozak, akan menerima honor setiap bulan sesuai standar Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar Rp1,6 juta. Selain, honor tetap mereka juga akan menerima insentif bonus dari pekerjaannya tersebut.

“Ini kita lakukan, untuk menjaga kebersihan Gunung Rinjani dari sampah. Karena setiap pendakian selalu sampah ini menjadi problem, sehingga mempengaruhi citra Rinjani di mata wisatawan,” katanya.

Menurut mantan Kepala Museum NTB ini, meski dengan kehadiran Satgas tidak 100 persen akan membersihkan Rinjani dari sampah, namun diharapkan kehadiran Satgas tersebut mampu menjadi program jangka pendek yang dapat meminimalisir tumpukan sampah di lokasi wisata andalan di daerah itu. Mengingat jumlah personil masih sangat terbatas bila di banding jangkauan daerah yang di jaga.

“Itu untuk jangka pendek, tetapi kedepan kita akan merancang untuk membuat peraturan gubernur (Pergub) terkait sampah di Rinjani, sehingga kita memungut sampah ada dasarnya, supaya tidak disangka melakukan pungutan liar,” jelas Faozal.

Kasubag Tata Usaha TNGR NTB Mustafa Imran Lubis, mengakui persoalan sampah yang di tinggal para pendaki di Rinjani masih menjadi momok bagi wilayah itu. Sebab, banyak di antara pendaki yang tidak patuh dengan tetap membuang sampah sisa pendakian tanpa membawa sampahnya turun.

“Perlu juga peran masyarakat karena hadirnya sampah di Rinjani akibat pelaku yang membawa bekal tanpa membawa turun sehingga berpotensi menyebabkan timbunan sampah di Rinjani,” ucapnya.

Menurut Lubis, sebenarnya TNGR sudah melakukan ‘clean up’ di jalur pendakian Rinjani pada awal pembukaan jalur Maret dan April, namun rupanya upaya tersebut tidak cukup memberikan Rinjani dari sampah. Karena, jumlah pendaki dengan personil tidak seimbang. Sehingga, penanganan sampah menjadi terhambat.

“Tahun 2016, total pendaki di Rinjani mencapai 92 ribu orang dari dalam negeri dan luar negeri. Bahkan saat libur lebaran 2017 jumlah pengunjung sampai 1.400 orang, sehingga menambah volume sampah di Rinjani,” terangnya.

Untuk itu, pihaknya berharap dengan keberadaan Satgas dan upaya penyuluhan yang dilakukan, bisa meminimalisir masalah sampah di Rinjani.

“Harapan kita tentu jalur pendakian ke Rinjani tetap bersih, makanya kita minta kesadaran para pendaki, seusai melakukan pendakian untuk tidak meninggalkan sampah, namun membawanya turun ke pintu masuk yang disediakan,” tandas Lubis.

Komentar Anda