Dituduh “Tebang Pilih”, Bawaslu Loteng Bilang Semua Dibahas Gakkumdu

52
kali tampilan.
Loading...

LOMBOKita — Personil Polres Lombok Tengah (Loteng) melakukan pengawalan ketat terhadap aksi demonstrasi dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dilakukan di kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Loteng.

Bahkan Kapolres Loteng AKBP Esty Nugroho Jati turun langsung memantau jalannya aksi.

Aksi domonstrasi dari berbagai LSM di kantor Bawaslu Lombok Tengah itu sebagai bentuk protes atas dugaan “tebang pilih” pihak Bawaslu dalam melakukan penindakan terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diduga terlibat politik praktis di Pilkada Lombok Tengah.

Zeinta Tour and Travel - Solusi Ke Baitullah
Zeinta Tour and Travel

Salah seorang orator, Dani Formapi menegaskan, ada upaya tebang pilih dalam penegakan hukum yang dilakukan oleh Bawaslu. Pasalnya banyak pejabat yang jelas- jelas terlibat politik praktis tapi tidak ditindak.

“Tebang pilih jelas terlihat, karena ASN ada peluang untuk pidana tapi tidak ditindak. Ini ada guru didorong dan empat pejabat atau ASN tidak,” ungkap Dani saat orasi di depan kantor Bawaslu Loteng, Rabu (18/11/2020).

Loading...

Sementara itu, Baiq Ningrum menilai Bawaslu bukan lagi sebagai penyelenggara, tapi iblis demokrasi. Tebang pilih yang dilakukan sangat menciderai pesta demokrasi saat ini.

“Harusnya kalian jujur dan adil karena kalian adalah penyelenggara. Apa bedanya dengan ASN lain yang melakukan pelanggaran tapi kenapa hanya H Jempol yang diproses ke ranah hukum,” tegasnya.

Orator lainnya, Bustomi Taefuri menegaskan, aksi dilakukan lantaran Bawaslu dianggap tidak adil dalam penindakan. Hal itu buntut dari salah seorang guru SD yang bertugas di wilayah Pujut yang ditindak Bawaslu karena dianggap melakukan politik praktis.

“Ketidakadilan itu menggugah solidaritas kami warga Lombok Tengah. Kami menegaskan ada perlakuan kesewenang- wenangan dan ada diskrminatif,” tegas pembina LSM SUAKA NTB itu.

Ketua Bawaslu Loteng Abdul Hanan menegaskan, kasus sebelumnya yakni empat ASN sudah diproses dan setiap temuan pasti ada fakta- fakta yang tidak sama. Sehingga Gakkumdu menyimpulkan terhadap kasus H Jempol naik ke tahap penyidikan dan kasus empat ASN ke KASN.

“Kasus di Sembalun yang fose empat jari oleh ASN ketika kami dalami dan kita bahas dengan gakkumdu, setiap permasalahan dan untuk kasus sebelumnya yang di Sembalun memang tidak dapat naik di penyidikan, karena tidak cukup bukti. Sementara kasus H Jempol cukup bukti,” tegasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.