Duh, Benda Sitaan Negara Disimpan di Gedung Pinjaman

57
kali tampilan.
Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kelas I Nusa Tenggara Barat
- Advertisement -

LOMBOKita – Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) Kelas I Nusa Tenggara Barat (NTB), salah satu institusi yang tidak kalah penting dibandingkan yang lain. Namun anehnya, sejak keberadaannya pada tahun 2001 (18 tahun) lalu dan membangun gedung sendiri pada tahun 2003, hingga saat ini lahan digunakan yang berlokasi di Jalan Lingkar Selatan itu bukan dimiliki sendiri alias berstatus pinjam pakai.

Kepala Rupbasan Kelas I NTB Don Victor Dela Cruya didampingi Kasubsi Administrasi dan Pemeliharaan Muhammad Suwarto, SH., Senin (17/6), kepada media mengungkapkan, pihaknya telah berupaya berkoordinasi dengan pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, agar lahan yang ditempati saat ini dapat menjadi lahan milik Rubpbasan.

“Kami telah mencoba berkoordinasi dengan pihak Pemprov NTB selaku pemilik aset atau lahan, namun prosesnya katanya agak susah. Harus melalui Dinas Aset dulu, sudah itu kemudian harus persetujuan DPRD NTB, baru nanti disidangkan lagi. Nah, itu prosesnya,” ungkapnya.

“Kita sudah coba berkali-kali, belum bisa,” imbuhnya.

Loading...

Kemarin pun, lanjut Victor, untuk mendapatkan surat kontrak kembali, mereka (pihak Pemprov NTB, red) datang dan menanyakan apakah akan membangun gedung baru atau tidak.

“Sama staf saya bilang ya enggak mungkin lah. Makanya kemarin itu kontraknya yang sebelumnya dua tahun pinjam pakai, ini ditambah lima tahun,” ujarnya.

Dikatakan, kenyataan ini berbeda dengan Rupbasan yang ada di Pulau Sumbawa. Dimana Rupbasan Pulau Sumbawa yang nota bene Kelas II, merupakan milik sendiri.

“Kalau Rupbasan yang di Sumbawa itu sudah lahan milik sendiri, yang dihibahkan atau diberikan oleh Pemkab setempat. Itu Rupbasan Kelas II lho, yang ada di Sumbawa,” ucapnya.

Terkait status lahan yang masih status pinjam pakai tersebut, pihaknya berharap kepada Pemprov NTB dan pihak-pihak terkait, agar dapat menjadikan lahan dimana Rupbasan berdiri saat ini sebagai lahan milik sendiri. Hal itu mengingat tugas dan fungsi Rupbasan sesuai Pasal 44 ayat (1) dan (2) KUHAP dan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM) Nomor 16 Tahun 2014.

“Jadi fungsi Rupbasan adalah mengelola barang sitaan yang disita oleh Penyidik maupun Penuntut, untuk menyelamatkan aset negara serta menjaga kepemilikan, baik pihak korban maupun dari pelaku, artinya tetap utuh dari masuk sampai dengan keluar. Dan lumayan besar juga aset yang kita jaga di sini nilainya sekitar Rp 3,6 miliar, dengan jumlah status barang itu sekarang 104 BB (Barang Bukti),” jelasnya.

“Jadi, agar kita bisa lebih merefresentasikan bangunan-bangunan kita yang rusak, lebih-lebih akibat gempa beberapa waktu lalu. Kita sangat berharap Pemprov NTB paling tidak ada perhatian untuk melimpahkan status lah, dari pinjam pakai menjadi hak milik kita (Rupbasan, red),” harapnya.

“Agar ke depan Rupbasan ini walaupun tempatnya sempit, bangunannya tetap kokoh dan kuat, jadi kita enggak ragu atau khawatir untuk menyimpan semua barang-barang, yang memerlukan untuk disimpan di gudang tertutup. Lebih-lebih lokasi kita ada di dekat pantai, yang mana hal itu sangat rentan terhadap kerusakan barang atau benda yang disimpan,” tambahnya.

Sementara terkait benda atau barang sitaan yang telah sekian lama tersimpan di Rupbasan sendiri, Kepala Sub Seksi (Kasubsi) Administrasi dan Pemeliharaan Muhammad Suwarto, SH. mengatakan, bahwa hingga saat ini masih ada tersimpan barang sitaan sejak tahun 2013.

“Itu ada ratusan batang kayu masih tersimpan di Rupbasan sampai sekarang, kami tutupi pakai terpal dan terpalnya sudah diganti beberapa kali. Nggak ngerti bagaimana proses dan statusnya, apakah dikembalikan atau dilelang, nggak jelas. Kami sudah beberapa kali bersurat kepada pihak yang memasukkan atau menyimpan barang, tapi hingga saat ini belum juga ada kejelasan,” ujar Warto yang diamini Victor.

Untuk itu, pihaknya berharap pihak-pihak yang memiliki benda atau barang yang disimpan, agar tidak seakan lepas tangan begitu saja dengan barang atau benda yang tersimpan di Rupbasan.

“Ini menyangkut keamanan dan keutuhan benda atau barang yang disimpan di sini. Karena ketika barang itu rusak atau cacat, nantinya itu yang akan jadi masalah, kita bisa kena tuntutan pihak yang menyimpan,” terangnya.

“Seperti yang dikatakan pimpinan tadi, untuk membangun gedung atau bangunan yang lebih referesentatif, sepertinya tidak memungkinkan karena status lahan masih pinjam pakai. Berbeda ketika nantinya lahan ini menjadi milik Rupbasan sendiri,” tandasnya.

Komentar Facebook

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.