“Ekspedisi Gila” Gubernur NTB di Sumbawa, Turun Naik Lembah Hingga Tidur di Masjid

153
kali tampilan.
Loading...

LOMBOKita – Gubernur NTB Dr Zulkieflimansyah mengajak belasan Kepala Dinas dan pejabat Assisten di Pemprov NTB melakukan kunjungan kerja ke daerah terpencil di Sumbawa.

Masyarakat NTB sudah familiar kalau Gubernur Zul rajin blusukan. Tapi ini bukan sekadar blusukan biasa. Sebagian pejabat yang ikut, menyebut kunjungan ini sebagai “ekspedisi gila”. Toh, mereka akhirnya mahfum, apa yang dilakukan Gubernur Zul semata demi membuka mata bahwa masih banyak masyarakat yang belum tersentuh kelengkapan infrastruktur dasar di pulau Sumbawa, bagian dari Provinsi NTB.

“Ini ekspedisi gila, tapi sangat menantang. Gubernur kita mungkin tipe pemimpin yang tidak punya urat capek,” kata Assiten II Setda Provinsi NTB, Ir H Ridwan Syah.

Ridwan menjadi salah satu pejabat yang turut dalam perjalanan ekspedisi gila itu. Pejabat lainnya ada Kepala Dinas Peternakan, Budi Septiani, Kepala DInas Perindustrian Nuryanti, Kadis Kelautan dan Perikanan Yusron Hadi, Kepala Inspektorat Ibnu Salim, dan beberapa pejabat lannya.

Awalnya Senin 26 Oktober 2020, Gubernur Zul dan rombongan tiba di Desa Rarak Ronges, Kecamatan Brang Rea, Kabupaten Sumbawa Barat. Seperti biasa, Bang Zul -demikian Gubernur NTB akrab disapa- berdialog menyerap aspirasi masyarakat desa.

Loading...

Rarak Ronges adalah sebuah desa di pegunungan bertinggian sekitar 600 Mdpl. Hawa sangat sejuk disini, Desa ini penghasil Kopi, varietas Robusta.

Dengan kawasan hutan yang masih lestari, di sekitar Desa ini juga menjadi sumber penghasil madu hutan alam.

Bang Zul banyak berbicara soal kelestarian hutan dan bagaimana mendorong nilai tambah untuk produk Kopi dan Madu hutan dari desa ini.

Dari dialog dengan masyarakat, sebuah informasi pun muncul. Desa Rarak Ronges punya potensi yang sama dengan Desa Marente, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Secara geografis bisa dibilang Rarak Ronges dan Marente masih serumpun, sama-sama Desa di ketinggian dan berada di kawasan lingkar hutan, dalam satu pegunungan yang sama.

Hanya saja, akses penghubung dari Desa Rarak Ronges menuju Marente masih sangat terbatas. Jalan belum diaspal, dan sebagian lainnya harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Bang Zul memutuskan menempuh jalan itu. Bersama rombongan pejabat Pemprov NTB, Bang Zul harus melintasi jalan tanah berlumpur dan menyusuri hutan dengan berjalan kaki.

“Info awalnya hanya 2 jam jalan kaki. Tapi alhasil 7 jam melewati perbukitan, kebun kopi, tiga sungai, lembah dan tanjakan terjal itu kami tempuh dari Rarak Ronges menuju Matemega, Desa Marente,” tukas Ridwan Syah.

https://www.instagram.com/p/CG1E2lmhjas/?igshid=1ur8h4d0nznw9

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.