Empat Desa di Pulau Sumbawa Kembangkan Ekowisata

Desa Pancasila, "Base Camp" Pendaki di Gunung Tambora / foto: Travel Kompas

LOMBOKita – Balai Taman Nasional Tambora, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, memberdayakan kelompok masyarakat di empat desa untuk mengembangkan pariwisata berbasis ekowisata.

“Untuk tahap awal, empat desa yang kami bina secara intensif,” kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Tambora (BTNGT) Budi Kurniawan di Mataram, Sabtu.

Ia menyebutkan empat desa yang menjadi sasaran program pemberdayaan tahap awal, yakni kelompok masyarakat di Dusun Pancasila, Desa Tambora, dan Desa Soritangga, Kabupaten Dompu. Selain itu, Desa Kawinda Toi, dan Desa Piong, Kabupaten Bima.

Menurut Budi, program pemberdayaan masyarakat desa sekitar kawasan taman nasional bertujuan untuk mengubah pola pikir masyarakat yang dulunya merasa belum memperoleh manfaat menjadi pengelola dan penerima manfaat.

Manfaat yang bisa diperoleh berupa jasa lingkungan melalui pengembangan sektor pariwisata berbasis ekowisata.

“Kami memberikan sentuhan program pemberdayaan masyarakat yang berkaitan dengan pengembangan ekowisata,” ujarnya.

Pemberdayaan di masing-masing desa binaan, kata dia, diberikan sesuai dengan potensi alam dan kondisi masyarakatnya. Misalnya, di Dusun Pancasila, Desa Tambora, dikenal sebagai sentra kopi Tambora.

Kopi yang dihasilkan dari kawasan perkebunan yang pernah dikelola kolonial Belanda tersebut cukup diminati oleh para pendaki Gunung Tambora. Dan bahkan dijadikan oleh-oleh untuk dibawa pulang ke daerah asal para pendaki.

Oleh sebab itu, BTNT memberikan bantuan peralatan pengolah kopi berupa penggoreng, sangrai dan alat pengemasan pada 2017. Bantuan serupa juga sudah diberikan kepada kelompok petani kopi di desa setempat pada 2016.

“Tahun ini, kami memberikan lagi bantuan karena hasil kopinya cukup bagus. Bahkan, di kemasannya sudah ada logo BTNT,” ucapnya pula.

Selanjutnya, kata dia, kelompok masyarakat di Desa Kawendatoi diberikan alat pemeras madu. Sebab, masyarakat di desa itu yang menggeluti usaha mencari madu alam di kawasan hutan.

Sebanyak tiga unit alat pemeras diberikan agar kelompok masyarakat bisa menghasilkan madu berkualitas dengan kadar air relatif rendah. Anggota kelompok bisa memanfaatkan secara bergiliran.

Untuk kelompok masyarakat di Desa Piong, diberikan bantuan peralatan pelana kuda untuk menunjang usaha atraksi kuda yang ada.

Atraksi kuda menjadi usaha yang unik. Para pendaki bisa memanfaatkannya untuk melakukan pendakian hingga di pos 3, sambil menikmati hamparan padang rumput dan panorama alam Taman Nasional Tambora.

“Kalau kelompok masyarakat di Desa Soritangga, kami berikan bantuan peralatan pendakian sebanyak 10 set. Itu baru tahap pertama,” kata Budi.

BTNT akan terus memperluas program ekowisata berbasis pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan taman nasional.

Untuk perencanaan ke depannya adalah bagaimana menghubungkan dengan mitra pemasaran agar produk-produk pertanian yang diusahakan masyarakat sekitar kawasan taman nasional bisa dipasarkan ke daerah lain.

Taman Nasional Tambora secara administratif termasuk dalam Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, Pulau Sumbawa, NTB.

Penunjukan kawasan Taman Nasional Tambora dilakukan dengan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan 111/MenLHK-II/2015 tanggal 7 April 2015. Taman nasional itu diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 11 April 2015, bertepatan dengan peringatan 100 tahun letusan besar Gunung Tambora pada 11 April 1815.

Status kawasan sebelum menjadi taman nasional terdiri dari cagar alam seluas 23.840,81 hektare, suaka margasatwa seluas 21.674,68 hektare, dan taman buru seluas 26.130,25 hektare. ant

Komentar Anda