Budaya Buang Sampah Pada Tempatnya (Ilustrasi)

LOMBOKita – Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, terancam gagal mempertahankan piala Adipura tahun 2018, karena dalam pantau satu yang dilaksanakan tim, Mataram mendapatkan penilaian yang kurang mendukung.

“Kalau sudah gagal ditahap pertama, kita pesimistis untuk tahap berikutnya,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Irwan Rahadi di Mataram, Kamis.

Berdasarkan data, pada sesi pantau satu bulan November-Desember 2017, Mataram dikabarkan gagal masuk pantau dua.

Menurutnya, salah satu poin penilaian yang menjadi instrumen mendapatkan penghargaan Adipura adalah tentang edukasi pengurangan sampah rumah tangga.

“Jika tahun-tahun sebelumnya Adipura lebih ditekankan kepada faktor kebersihan dan penanganan sampah di fasilitas umum, tahun ini bobot penilaiannya teringgi adalah edukasi pengurangan sampah rumah tangga,” katanya.

Salah satu contoh pengurangan sampah rumah tangga, menggunakan wadah yang dapat digunakan kembali. Seperti gelas, tidak lagi menggunakan air mineral.

Begitu juga, ketika ingin membawa bekal ke kantor atau sekolah, pembungkus nasi tidak lagi menggunakan plastik, mika, kertas nasi atau lainnya tetapi menggunakan wadah tempat nasi yang bisa digunakan kembali.

Sementara, program edukasi pengurangan sampah rumah tangga di Mataram, baru mulai dilaksanakan dengan melibatkan kelompok kerja (pokja) ada gerakan menuju lingkungan dengan sampah nol (Lisan) dan Bank Sampah.

“Pokja-pokja inilah yang bekerja melakukan sosialisasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan pengurangan dan pemilihan sampah mulai dari rumah tangga,” katanya.

Program edukasi pengurangan sampah, katanya lagi, menjadi bagian dari upaya pengurangan sampah, dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mendukung Indonesia bebas sampah tahun 2020.

Edukasi pengurangan sampah juga dilakukan dengan bagaimana sampah sudah terpisah dari sumbernya dan diolah secara mandiri oleh rumah tangga.

Dengan demikian, ke depan kedaraan roda tiga yang bertugas mengangkut sampah dari rumah tangga juga perlu menyiapakan fasilitas pemilihan sampah, bila perlu sampah yang dibawa roda tiga adalah sampah yang sudah tidak bisa diolah lagi.

“Ini menjadi tantangan paling berat, tidak hanya di Mataram tetapi di setiap daerah di Indonesia,” ujarnya..

Sementara, untuk program penanganan sampah, di Mataram relatif sudah bagus dengan keterbahasan fasilitas yang ada sampah yang dapat terangkut baru 80 persen.

“Namun dengan adanya edukasi tersebut, diharapkan program penanganan sampah bisa optimal karena sampah yang akan dibuang ke tempat pembuangan akhir adalah sampah yang sudah tidak bisa diolah,” katanya.