Gempa Bertubi-tubi Guncang Lombok, Khatib Ajak Taubat Nasuha

249
kali tampilan.

LOMBOKita – Pelaksanaan ibadah sholat Hari Raya Idul Adha 1439 Hijriyah di Lapangan Tugu Selong, Lombok Timur Selasa tanggal 22 Agustus berlangsung khidmat dan khusyu.

Ribuan warga Kota Selong nampak memadati Lapangan Tugu yang berada di depan Masjid Agung Almujahidin Selong sejak usai sholat Subuh.

Sholat Idul Adha dimulai pukul 07.00 Wita, diimami Ustaz Mas’ud Hazri Wahid, QH, bertindak menjadi Khotib TGH Hamzah Abdul Halim Al-Ma’hady.

Dalam khutbahnya, TGH Hamzah mengajak seluruh jemaah dan masyarakat di pulau Lombok untuk segera kembali ke jalan Alloh dengan taubat nasuha.

Dijelaskannya, gempa bumi yang cukup dahsyat mengguncang pulau Lombok, NTB dengan magnetudo 7.0 skala richter disertai guncangan gempa susulan bertubi-tubi merupakan suatu peringatan kepada kita semua agar segera mawas diri serta segera kembali kepada Alloh SWT.

“Mari kita segera bertaubat atas segala dosa yang pernah dilakukan selama ini,” ucap TGH Hamzah seraya meneteskan air mata di atas mimbar khutbah.

Menurut TGH Hamzah, tidak mungkin Alloh menimpakan bala besar ini tanpa sebab, tanpa pelanggaran yang telah kita lakukan.

“Ketahuilah, Alloh mampu melenyapkan Lombok, Indonesia bahkan Indonesia sekalipun dalam sekejap jika kita tidak segera bertaubat dan introspeksi diri,” kata TGH Hamzah pada pelaksanaan sholat Idul Adha yang juga dihadiri Bupati Lombok Timur HM Ali Bin Dachlan itu.

Dia menyontohkan bagaimana umat Nabi Luth As yang dihancurkan oleh Alloh SWT akibat prilaku homoseksual (menyukai sesama jenis), sehingga negeri tersebut dijungkirbalikkan serta mereka dihujani secara bertubi-tubi dengan batu dan tanah terbakar.

Dalam khutbah yang bertema “Resep Memperbaiki Kualitas Kehidupan Bangsa” itu, TGH Hamzah menguraikan lima resep untuk memperbaiki kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara, yang juga sekaligus menjadi kunci menyelamatkan bangsa Indonesia dari kehancuran berjuang untuk mengatasi berbagai persoalan besar yang menghantui kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pertama, berbaik sangka kepada Alloh SWT. Dengan sikap ini, maka kita optimis bahwa ada hari esok yang lebih baik. Sebagaimana dulu Nabi Ibrahim bersama istrinya Siti Hajar dan anaknya Ismail untuk tinggal ke tanah suci Makkah yang waktu itu masih tandus.

Kedua, disiplin dalam syari’at. Ibadah haji dan kurban merupakan pelaksanaan dari salah satu syari’at yang diturunkan Alloh SWT sebagai salah satu simbol penyerahan diri kepada Alloh SWT.

Ketiga, berusaha mencari rizki yang halal, bukan menghalalkan segala cara. Usaha halal meskipun sedikit yang diperoleh dan berat memperolehnya merupakan sesuatu yang lebih baik daripada banyak dan mudah memanfaatkannya, tetapi memperolehnya dengan mengemis yang hanya menjatuhkan martabat pribadi.

Keempat, bergerak dalam kebaikan. Sebagaimana pelaksanaan ibadah haji yang bergerak meninggalkan rumah menuju tanah suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji.

Kelima, pengorbanan di jalan benar. Dalam menghadapi berbagai macam kesukaran dan tantangan hendaknya kita berpikiran lurus dan positif.

Aqidah merupakan perkara paling utama dalam kehidupan setiap muimin, walaupun dunia mendapat guncangan namun Mukmin tetap berpegang teguh kepada aqidah itu.

Itulah nilai aqidah dalam kehidupan mukmin, seperti yang dicontohkan oleh Umar Bin Khattab di masa kekhalifahannya.

“Gempa mengguncang dahsyat membuat hampir seluruh gunung berjatuhan, namun Umar Ra menghentakkan bumi dengan cambuknya seraya berkata “Tenanglah kami bumi. Jika aku tidak berbuat adik, niscaya Umarlah yang celaka”. Seketika bumi pun tenang, dan tak ada gempa susulan lagi.