Gempa Sulteng Tewaskan 2.113 Orang, 1.309 Masih Hilang

42
kali tampilan.
Hesti Andayani, 27, duduk di bongkahan bangunan dua lantai rumahnya yang hancur oleh gempa di Balaroa, Palu, 10 Oktober 2018. Andayani kehilangan adik perempuannya saat gempa terjadi. Ia kembali melihat rumahnya setelah dua minggu pascabencana. Ia terkejut melihat rumah dan kenangan masa kecilnya telah hancur rata dengan tanah. "Saya tidak tahu lagi akan tinggal di mana", ungkapnya sambil menangis. ( Foto: AFP / Jorge Silva )

LOMBOKita – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Sabtu (20/10) korban meninggal dunia akibat bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah sebanyak 2.113 orang. Sementara, sebanyak 1.309 orang masih hilang, 4.612 luka-luka, dan 223.751 orang mengungsi di 122 lokasi.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, sebaran 2.113 orang korban meninggal dunia adalah Kota Palu sebanyak 1.703 orang, Donggala 171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu 1 orang. “Semua korban meninggal dunia telah dimakamkan, baik pemakaman massal maupun pemakanan keluarga,” ujar Sutopo di Jakarta, Sabtu (20/10).

Korban meninggal termasuk 1 warga Korea Selatan yang meninggal dunia di reruntuhan Hotel Roa-Roa, Kota Palu. “Tidak benar adanya berita bahwa 2 orang warga Belanda yang juga menjadi korban meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan Hotel Roa-Roa.” ujarnya

Dikatakan, Tim Posko Kementerian Luar Negeri dan Basarnas sudah menelusuri berita tersebut dan dipastikan tidak benar. Tim SAR gabungan yang dikoordinasikan oleh Basarnas hanya menemukan 1 jenazah warga negara asing, yaitu warga negara Korea Selatan pada 4 Oktober lalu. Pencarian korban di Hotel Roa-Roa juga sudah dihentikan sejak 8 Oktober.

Sementara, ujarnya, penanganan darurat dampak gempabumi dan tsunami di Sulawesi Tengah terus dilakukan hingga saat ini. Percepatan pemulihan dampak bencana terus dintensifkan, khususnya untuk pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, pelayanan medis, perbaikan infrastruktur dasar, dan normalisasi kehidupan masyarakat.

Masa tanggap darurat bencana masih diberlakukan hingga 26 Oktober 2018. Beberapa fasilitas publik, seperti listrik dan komunikasi sebagian besar sudah pulih kembali di daerah terdampak bencana. Pemulihan BTS untuk komunikasi di Sulawesi Tengah, dari total 3.519 BTS, sudah mencapai 96,1%.

“Jaringan Telkomsel telah pulih 100%. Begitu juga dengan pasokan listrik. Tujuh gardu induk, 2.086 gardu distribusi dan 45 unit penyulang serta 70 dari 77 unit genset telah dioperasikan. Pelayanan listrik total mencapai 95%. Beberapa daerah memang aliran listrik belum berfungsi di Kabupaten Donggala, seperti di sebagian Kecamatan Sindue, Balaesang Tanjung, dan Sirenja sehingga perlu dioperasikan genset dan pemasangan instalasi listrik di lokasi pengungsi,” tuturnya.

Sebanyak 25 SPBU telah beroperasi di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong, yang dibantu dengan 13 unit mobil tangki dengan dispenser. Distribusi melalu 40 truk tangki BBM dengan mengerahkan 132 relawan operator SPBU. Kondisi perekonomian berangsur-angsur normal kembali.

Sebanyak 25 pasar daerah, 3 pasar tradisional, 3 pasar swalayan, dan 17 perbankan telah kembali beroperasi. Sekolah darurat telah dijalankan meski masih ada kekurangan tenda darurat dan sarana prasarana pendidikan dan belum semua siswa masuk sekolah.

Pembersihan puing-puing bangunan terus dilakukan oleh petugas gabungan bersama relawan. Sebanyak 251 unit alat berat dikerahkan untuk pembersihan lingkungan dan lainnya, baik alat berat yang di bawah kendali TNI sebanyak 64 unit maupun di bawah kendali Kementerian PU PR sebanyak 187 unit.

Sebanyak 14.604 personel gabungan dari TNI, Polri, sipil, dan relawan dikerahkan untuk penanganan darurat hingga saat ini. Meskipun evakuasi korban sudah dihentikan secara resmi sejak 12 Oktober, namun hampir setiap hari korban ditemukan oleh petugas dan relawan saat melakukan pembersihan reruntuhan dan puing-puing bangunan atau lingkungan di daerah terdampak bencana.

Menurut Sutopo, pembangunan hunian sementara dan tenda-tenda terus dilakukan untuk pengungsi. Begitu juga sarana prasana kebutuhan MCK, air bersih, dan sanitasi dibangun di sekitar tempat pengungsian. Mendekati musim penghujan, kebutuhan hunian sementara (huntara) dan tenda yang layak untuk pengungsi menjadi sangat mendesak.

“Pemenuhan kebutuhan pengungsi dan masyarakat terdampak masih diperlukan hingga saat ini. Kebutuhan mendesak itu, antara lain beras, gula, makanan bayi, susu anak, susu ibu hamil, kantong plastik, tenda, selimut untuk bayi, anak-anak, dan dewasa, minyak kayu putih, sabun mandi, pasta gigi, minyak goreng, seragam anak sekolah, buku dan peralatan sekolah, air bersih, MCK, penerangan di pengungsian, sanitasi, serta kebutuhan dasar lainnya,” kata Sutopo.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.