Loading...

LOMBOKita – Tekanan media sosial, pekerjaan, dan kondisi kehidupan yang semakin tidak pasti seperti saat ini tak jarang membuat para generasi milenial merasa mudah jenuh dan juga lelah.

Kejenuhan serta kelelahan yang berlangsung terus menerus memungkinkan anak-anak muda lebih rentan mengalami depresi. Maka itu, untuk menghindari dampak buruk dari depresi, generasi milenial perlu tahu tips menjaga kesehatan mental mereka.

Siapa Itu Generasi Milenial?

Penggolongan usia milenial sebenarnya belum terlalu jelas. Beberapa ahli ada yang mengatakan bahwa generasi milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 2000-an. Namun, ada pula yang menggolongkan bahwa generasi milenial adalah mereka yang lahir sekitar tahun 1996.

Menurut Jessica Singh, seorang ahli terapi dan pendiri Pusat Konseling Transendensi, LLC di Vero Beach, Florida, generasi milenial adalah generasi pertama yang tumbuh dengan aliran informasi yang konstan dari internet dan media sosial.

Depresi di Kalangan Generasi Milenial

Banyaknya tekanan dari lingkungan membuat generasi milenial sangat rentan mengalami depresi. Sebuah studi yang dimuat dalam International Journal of Epidemiology, mengungkapkan bahwa gejala-gejala depresi pada generasi milenial meningkat dari 9% menjadi sekitar 15% antara tahun 2005-2015. Bahkan, persentase generasi milenial yang dilaporkan melukai diri sendiri akibat depresi meningkat dari 12% menjadi 14%.

Loading...

Apa yang Perlu Generasi Milenial Lakukan untuk Menjaga Kesehatan Mental?

Depresi bukanlah masalah kesehatan mental yang dapat disepelekan. Oleh karena itu, penting bagi generasi milenial untuk mengetahui tips menjaga kesehatan mental yang tepat seperti berikut ini.

1. Berani Mengatakan Tidak

Selama Kamu tumbuh dan berkembang, mungkin Kamu selalu diajarkan bahwa mengatakan ‘tidak’ harus selalu disertai dengan alasan yang dapat diterima. Kamu harus memiliki batasan pada semua hal. Ketika suatu ajakan atau kebiasaan sudah mencapai batas yang membuatmu merasa tertekan hingga depresi, jangan ragu berkata tidak.

Mengatakan “tidak” bukan berarti Kamu menjauhkan diri dari lingkungan atau teman-teman Kamu, namun hanya untuk memberimu waktu dan ruang untuk jeda. Jangan ragu atau takut untuk mengatakan tidak jika Kamu merasa terlalu lelah dan sangat terbebani, termasuk dalam dunia pekerjaan.

Saat harus memilih, cobalah untuk merefleksikan kembali dan tanyakan pada diri sendiri apakah hal tersebut menguntungkan atau tidak. Jika menguntungkan, Kamu bisa mencobanya. Namun, jika tak menguntungkan, jangan ragu untuk mengatakan tidak.

2. Menulislah

Menulis dapat menjadi salah satu pelarian ketika Kamu merasa tertekan dengan kehidupan. Mencurahkan perasaan atau sekadar bercerita mengenai hari-harimu dapat membantu mengatasi kecemasan, mengurangi stres, dan mengatasi depresi. Kebiasaan ini juga dapat membantu memperbaiki suasana hati.

Selain itu, menulis juga dapat membantumu mengetahui gejala apa saja yang menjadi pertanda masalah mental. Saat Kamu mengetahui gejala dan pemicunya, maka Kamu pun akan lebih mudah untuk mengendalikannya.

3. Lakukan Yoga

Ada banyak manfaat yoga. Jika Kamu malas pergi setiap sore untuk mengikuti kelas yoga, mengapa tidak Kamu melakukannya sendiri di rumah? Tidak tahu caranya? Tak perlu khawatir karena Kamu bisa memanfaatkan video tutorial yoga yang banyak sekali ada di Youtube.

Mulailah dengan gerakan yoga sederhana yang tentunya tidak bersiko membahayakan dirimu ya, Gengs. Melakukan yoga secara rutin dapat membantumu untuk lebih tenang dan juga memperbaiki suasana hati.

4. Buatlah Daftar Momen Bahagiamu

Sebelum tidur, sisihkan waktu beberapa menit untuk membuat daftar 10 momen positif dalam 1 hari tersebut. Daftar ini bisa membantumu merenungkan kembali hal-hal baik yang Kamu alami dan mensyukurinya. Saat Kamu merasa terpuruk, cobalah untuk membaca kembali daftar tersebut dan ingat bagaimana Kamu sangat bahagia ketika itu.

Di satu sisi, perkembangan yang terjadi dalam kehidupan saat ini memang bisa sangat memanjakan diri para kaum milenial. Namun, di sisi lain, hal ini juga bisa memicu perasaan tertekan atau bahkan depresi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.