Guru Kunjung dan Tantangan Menjangkau Siswa

Ditulis oleh Khairul Fahri, mantan Ketua Umum HMI Cabang Mataram, periode 2016-2017

35
kali tampilan.
Khairul Fahri, mantan Ketua Umum HMI Cabang Mataram periode 2016-2017
Loading...

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim sudah memberikan lampu hijau bagi semua sekolah untuk melakukan pembelajaran tatap muka mulai Januari 2021 ini.

Akan tetapi, masih banyak sekolah yang belum berani untuk memberlakukan kegiatan tersebut, termasuk di antaranya di daerah NTB. Hal itu karena kasus Covid-19 masih ada. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB per 12 Januari 2021, jumlah kasus Covid-19 mencapai 6.267 kasus.

Di mana, sebanyak 13,20 persen atau 827 orang di antaranya masih dirawat. Kemudian meninggal dunia sebanyak 4,82 persen atau 302 orang dan sembuh sebanyak 81,99 persen atau 5.138 orang.

Zeinta Tour and Travel - Solusi Ke Baitullah
Zeinta Tour and Travel

Melihat kasus Covid-19 yang terus mengintai tersebut membuat sebagian sekolah masih memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh atau belajar dari rumah (BDR). BDR tersebut sejatinya bisa dilakukan secara online atau daring.

Hanya saja, yang terjadi di lapangan adalah banyak orang tua murid yang tidak memiliki telepon pintar yang bisa digunakan oleh anaknya untuk belajar daring. Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab sejumlah orang tua siswa tidak mampu membeli handphone.

Loading...

Selain itu, jaringan internet yang lemah juga menjadi kendala pembelajaran via daring ini. Sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi terhambat. Untuk mengatasi hal ini, Dinas Pendidikan di sejumlah kabupaten kota memberlakukan kebijakan guru kunjung.

Di mana, guru kelas diminta untuk mendatangi setiap murid ke rumahnya masing-masing untuk menyampaikan mata pelajaran yang diemban sang guru. Proses ini bukan hal yang mudah untuk dilalui oleh sejumlah guru.

Pasalnya, selain jarak tempuh yang jauh antara rumah siswa yang satu dan yang lainnya, jam mengajar guru pun menjadi membengkak. Hal itu karena guru mengajar hingga sore hari untuk bisa menjangkau semua murid. Sedangkan ketika mengajar di sekolah biasanya hanya sampai siang hari dan semua murid dan guru sudah pulang ke rumah.

Di sisi lain, banyak juga guru khususnya guru perempuan yang tidak memiliki kendaraan untuk mendatangi siswa ke rumahnya. Sehingga terpaksa harus meminjam kendaraan milik keluarga.

Begitu pula dengan guru perempuan yang sudah menjadi istri dan ibu. Mereka harus rela mengurangi waktu bersama keluarga demi pengabdian sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Atas kondisi ini, tradisi yang selama ini mengakar di tengah masyarakat, yakni “guru mencari murid” seolah tidak berlaku lagi saat ini. Karena nyatanya gurulah yang mendatangi murid untuk menyampaikan ilmunya kepada para siswa.

Namun demikian, hal itu bukanlah persoalan. Karena yang terpenting adalah siswa bisa mendapatkan hak pengetahuan dan pembelajaran selama pandemi Covid-19.

Akan tetapi, perjuangan para guru untuk menyalurkan ilmunya kepada para siswa semestinya menjadi perhatian pemerintah. Di mana, pemerintah harus menyiapkan sarana prasarana pencegahan Covid-19 bagi para guru, mulai dari masker, hand sanitizer hingga vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh.

Sehingga ada jaminan para guru tidak terpapar Covid-19 saat sedang menjalankan tugas mendidik generasi bangsa. Di samping itu, pemerintah juga harus mengupayakan untuk menaikkan insentif guru honorer. Karena bagaimanapun, untuk kabupaten Lombok Tengah misalnya, insentif yang diterima guru honorer sampai saat ini hanya Rp100 ribu per bulan.

Padahal, sebagian besar guru yang turun mengunjungi muridnya adalah guru-guru honorer yang tinggal di desa-desa. Masalahnya jumlah guru PNS juga lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah guru honorer.

Sehingga besar harapan agar perjuangan guru di masa pandemi Covid-19 ini bisa menjadi pertimbangan pemerintah untuk menaikkan insentif guru honorer. /**

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.