Guru Pendidikan IPS, Ujung Tombak Pembentukan Karakter

Ditulis Oleh : Yunan Heri (Mahasiswa S2 Pendidikan IPS Undiksha)

132
kali tampilan.

LOMBOKita – Salah satu tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia pada zaman modern ini adalah masalah rendahnya mutu sumber daya manusia, kemudian upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia tersebut diantaranya adalah melalui pendidikan.

Tujuan pendidikan yang ideal bagi bangsa Indonesia yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulai, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Kualitas pendidikan yang dicanangkan dalam Mukadimah Atas Perbukaan Undang-undang dasar 1945, adalah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itu usaha nyata yang amat penting adalah memantapkan berbagai program pemerintah dalam program pembangunan kualitas pendidikan di Indonesia. Menciptakan manusia-manusia seperti yang diharapkan tidak lepas dari peranan tenaga guru sebagai tenaga pengajar dalam konteks pendidikan formal.

Zeinta Tour and Travel - Solusi Ke Baitullah
Zeinta Tour and Travel

Pembangunan dalam bidang pendidikan pada dasarnya merupakan wujud nyata dari perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa yang menjadi bagian dari cita-cita Nasional seperti yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam hal ini, sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan formal sangatlah penting dan berperan dalam memajukan sumber daya manusia karena di dalamnya terdapat kegiatan proses belajar mengajar yang teratur dan terencana.

Oleh karena itu, agar kegiatan proses belajar mengajar berjalan dengan baik, maka harus ada seorang pemimpin yang dapat mengatur dan mengelola kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Seorang pemimpin dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai “guru”. Dalam lembaga pendidikan guru sebagai pemimpin (manager) yang memberikan materi pelajaran dan sekaligus sebagai pendidik agar anak pintar dan juga berakhlak mulia (terpuji).

Loading...

Jadi jelas seorang pemimpin mempunyai tugas sebagai manajer yang menggerakkan semua orang yang terkait agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Di sisi lain, guru masa depan tidak tampil lagi sebagai pengajar (teacher) seperti fungsinya yang menonjol selama ini, melainkan beralih sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor), dan manajer belajar (learning manager) (Maya, 2013: 284).

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah jalur pendidikan formal.
Sedangkan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mulai dikenal sejak tahun 1970-an sebagai hasil kesepakatan komunitas akademik dan secara formal mulai digunakan dalam sistem pendidikan nasional dalam kurikulum 1975. Somantri (dalam Sapriya, 2009 : 11) mengatakan bahwa pendidikan IPS adalah seleksi dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang terorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan. Sejalan dengan pendapat diatas, menurut Djahri dan Ma’mum (dalam Gunawan, 2011 : 17) menyatakan bahwa IPS atau studi sosial konsep-konsepnya merupakan konsep pilihan berbagai ilmu lalu dipadukan dan diolah secara didaktis-pedagogis sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Sedangkan menurut Nasution (dalam Hanifah, dkk, 2010 : 121) menyatakan “Pendidikan IPS merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang berhubungan dengan manusia di dalam masyarakat yang terdiri atas beberapa subjek: sejarah, ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, pemerintahan dan psikologi sosial”.

Oleh karena itu, pendidikan IPS merupakan disiplin dari ilmu-ilmu sosial yang di dalamnya bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap masalah-masalah sosial yang timbul dalam kehidupan dan mendidik warga negara menjadi lebih baik yang dapat mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan UUD sehingga di dalam setiap individu terdapat rasa tanggung jawab, kejujuran, dan tekat yang besar dalam mencapai suatu tujuan serta dapat memberikan keterampilan-keterampilan sosial yang akan berguna pada saat ini dan di masa yang akan datang.

Sejalan dengan itu Lasmawan (2014: 185) menyatakan tujuan pembelajaran IPS dapat dikelompokkan ke alam tiga kategori, yaitu: (1) pengembangan kemampuan intelektual siswa, (2) pengembangan kemampuan dan rasa tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan bangsa, dan (3) pengembangan diri siswa sebagai pribadi, dimana ketiga hal tersebut bersinergi dalam tali temali yang bersifat synthetis systems.

Pembelajaran IPS dapat melatih peserta didik untuk menghargai dan merasa bangga terhadap warisan budaya dan peninggalan sejarah bangsa, mengembangkan dan menerapkan nilai-nilai budi pekerti luhur, mencontoh nilai-nilai keteladanan dan kejuangan para pahlawan, para pemuka masyarakat dan pemimpin bangsa, memiliki kebanggaan nasional dan ikut mempertahankan jati diri bangsa. Peserta didik juga dilatih untuk terampil mengambil keputusan yang membawa kemantapan dan stabilitas sosial (Sardiman, 2006: 6 dalam Jurnal Marhayani, 2017). Oleh karena itu, pembelajaran IPS tidak hanya terfokus pada kemampuan intelektual saja, namun kemampuan kecerdasan, akhlak dan kepribadian yang dibutukan oleh peserta didik untuk hidup bermasyarakat.

Pembelajaran IPS memiliki peran strategis dalam membentuk karakter. Pendidikan karakter yang dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan moral atau pendidikan budi pekerti (Darmiyati, 2008: 5). Pendidikan karakter memiliki arah dan tujuan yang sama dengan tujuan pembelajaran IPS, yakni sama-sama bertujuan agar peserta didik menjadi warga negara yang baik. Bahkan secara tegas Gross menyatakan bahwa values education as social studies to prepare students to be well-fungtioning citizens in democratic society (Hamid, 2007 : 8).
Pembelajaran IPS dikembangkan sebagai wahana yang efektif untuk menanamkan pemahaman, sikap, dan ketrampilan peserta didik. Setting kelas dalam pembelajaran IPS perlu diciptakan suasana kondusif dan produktif untuk memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik dengan melibatkan peserta didik secara proaktif dan interaktif baik dalam proses pembelajaran di kelas maupun di luar kelas sehingga memberi pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning) untuk membentuk dan mengembangkan karakter peserta didik. Dalam konteks pembangunan budaya dan karakter bangsa, mata pelajaran IPS juga memiliki peran yang relevan untuk membina warganegara dalam membangun karakter.

Dengan demikian guru pendidikan IPS merupakan ujung tombak pembentukan karakter, karena guru pendidikan IPS mengajarkan bukan hanya kemampuan intelektual siswa saja, tapi memberikan pemahaman terhadap masalah-masalah sosial yang timbul dalam kehidupan dan mendidik warga negara menjadi lebih baik yang dapat mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan UUD sehingga di dalam setiap individu terdapat rasa tanggung jawab, kejujuran, dan tekat yang besar dalam mencapai suatu tujuan serta dapat memberikan keterampilan-keterampilan sosial yang akan berguna pada saat ini dan di masa yang akan datang.

Refrensi

  1. Darmiyati, Zuchdi. 2008. Humanisasi Pendidikan: Menemukan Kembali Pendidikan Yang Manusiawi. Jakarta: Bumi Aksara.
  2. Hamid, Darmadi. 2007. Konsep Dasar Pendidikan Moral. Bandung: Alfabeta.
  3. Maya, Rahendra. 2013. “Esensi Guru dalam Visi-Misi Pendidikan Karakter”. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam. Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Hidayah Bogor. Vol. 03 No. 02 Edisi Januari 2013.
  4. Undang-Undang RI No.14 Tahun 2005. Tentang Guru dan Dosen. Jakarta: fokus Media.
  5. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
  6. Marhayni, Dina Anika. 2017. Pembentukan Karakter Melalui Pembelajaran IPS. Jurnal Edunomic. Vol. 5, No. 2, Hal. 67. ISSN: 2337-571X, September 2017. Prodi Pendidikan Ekonomi Unswagati Cirebon STKIP Singkawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.