Ibuku, Madrasah Pertama dan Utama

Ditulis oleh: M. Rajabul Gufron*

81
kali tampilan.
Loading...

LOMBOKita – Agama Islam sangat memuliakan dan mengagungkan kedudukan kaum perempuan, dengan menyamakan mereka dengan kaum laki-laki dalam mayoritas hukum-hukum syariat, dalam kewajiban bertauhid kepada Allah, menyempurnakan keimanan, dalam pahala dan siksaan, serta keumuman anjuran dan larangan dalam Islam. Sebagaimana Islam juga sangat memperhatikan hak-hak kaum perempuan, dan mensyariatkan hukum-hukum yang agung untuk menjaga dan melindungi mereka.

Syaikh Shaleh Al-Fauzan (dalam al-Mar’ah, baina takriimil Islam wa da’aawat tahriir) pernah berkata, “Wanita muslimah memiliki kedudukan yang agung dalam Islam, sehingga disandarkan kepadanya banyak tugas yang mulia. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyampaikan nasehat-nasehat khusus bagi mereka, dan bahkan saat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang menyampaikan khutbah di Arafah pada saat melaksanakan haji wada’.

Agungnya tugas dan peran perempuan ini terlihat jelas pada kedudukannya sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Kapasitas mereka sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya merupakan peran yang sangat vital bagi perbaikan besar masyarakat dan generasi mendatang. Setidaknya, terdapat dua peran besar yang diemban oleh seorang ibu. Yang pertama adalah perbaikan di luar rumah, melalui peran-peran mereka dalam mengisi jabatan fungsional di tengah-tengah masyarakat sebagai makhluk sosial. Dan yang kedua adalah berbaikan di balik dinding atau dari dalam rumah, yakni melakukan tugas yang paling mulia sebagai guru bagi anak-anaknya dan isteri yang shalehah bagi suami mereka.

Mengutip ungkapan yang pernah disampaikan oleh James Esdras Faust, seorang pemuka agama, pengacara, dan politikus kelahiran Amerika. “The influence of a mother in the lives of her children is beyond calculation.”.

Kutipan itu menunjukkan bahwa seorang ibu merupakan sosok paling vital dalam fase pendidikan seorang anak. Proses pendidikan serta tumbuh kembang seorang anak untuk modal kehidupannya kelak sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia menjalankan perannya. Oleh karenanya, setiap didikan dan kucuran kasih sayang yang ia curahkan kepada anak-anaknya adalah tidak terbatas dan tidak ternilai.

Loading...

Bahkan, dalam sebuah pepatah Arab yang cukup populer dikatakan al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq. Yang artinya kurang lebih ‘ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.’

Karena itu, pendidikan karakter yang saat ini digadang-gadang sebagai model ideal dalam proses pendidikan tentu tidak bisa mengalienasi betapa pentingnya peran ibu di rumah.

Ibu sosok penting di balik pembentukan karakter bagi anak-anaknya. Bahkan dalam realitas di sekeliling kita, dapat disaksikan, meskipun anak memiliki ibu yang tidak memiliki pendidikan sekalipun, nyatanya ia mampu mengantarkan anaknya hingga ke perguruan tinggi bahkan sampai ke tingkat doktoral.

Inilah energi tak kasatmata yang dimiliki seorang ibu. Energi yang menjelma dalam bentuk kasih sayang, teladan, nasehat, hingga doa yang mampu mengubah sesuatu yang terlihat seakan tidak mungkin menjadi mungkin.

Hal ini senada dengan apa yang pernah diutarakan Marion C Garretty, “Mother’s love is the fuel that enables a normal human being to do the impossible.” (Pada bagian ini penulis sangat meyakini akan keajabain dari setiap ketidakmungkinan).

Teori pertumbuhan dan perkembangan yang diungkapkan Piaget (1896) juga mengindikasikan bahwa peran ibu dalam memberi perhatian dan membimbing si anak di rumah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tumbuh kembangnya kelak. Peran ibu di rumah punya pengaruh yang signifikan dalam mendorong peningkatan pencapaian si anak dalam belajar. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika masih ada para ibu yang berasumsi bahwa sekolah merupakan satu-satunya tempat bagi proses pendidikan serta tumbuh kembang anak. Seyogianya, sosok ibulah yang memahami betul kebutuhan tumbuh kembang si anak dari usia dini hingga dewasa.

Tulisan sederhana ini bukanlah selebrasi Hari Ibu melainkan refleksi dari peringatan Hari Guru. Selain mengagungkan dan memuliakan guru kita di sekolah, perlu kiranya juga untuk kita ingat bahwa guru yang paling pertama dan utama kita yang sesungguhnya adalah ibu kita sendiri, al-ummu madrasatul ula.

* Muhammad Rajabul Gufron
(Penerima Beasiswa LPDP Republik Indonesia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.