Loading...

LOMBOKita – Indonesia merupakan pasar besar untuk industri halal global. Namun, hal itu tidak didukung dengan pemain besar yang besar pula. Demikian yang diungkapkan Founder Karim Consulting Indonesia Adiwarman A. Karim dalam Pelatihan Perbankan Syariah untuk Wartawan yang diselenggarakan CIMB Niaga Syariah di Bogor, Jumat (15/12/2017).

Adiwarman menyampaikan, Indonesia memiliki beberapa sektor yang menjadi pasar besar di dunia, di antaranya makanan halal, obat-obatan dan kosmetik, fesyen, serta wisata halal.

“(Dari) data yang kita miliki, Indonesia ternyata ranking pertama untuk pasar halal food. Baru diikuti oleh Turki, Pakistan, Mesir, dan Bangladesh. Ini mencakup dari 16,6% dari pengeluaran global (tahun 2015-red),” jelas Adi, sapaan akrabnya, yang juga merupakan anggota Dewan Syariah Nasional MUI.

Sayangnya, lanjut Adi, pasar besar Indonesia untuk makanan halal ini tidak diikuti oleh adanya pemain besar.

Sementara itu, sebagai pasar konsumsi hingga tahun 2015, untuk industri obat-obatan dan kosmetik, Indonesia masing-masing berada di peringkat ke-4 dan ke-3 dunia. Lalu, di sektor fesyen Indonesia menempati urutan ke-5 setelah Turki, UAE, Nigeria, dan Arab Saudi. Sementara sektor wisata halal berada di peringkat ke-4 dunia.

Loading...

Melihat kondisi tersebut, Adi menjelaskan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Bank Indonesia (BI) menyusun tiga strategi yang kemudian diajukan ke KNKS (Komite Nasional Keuangan Syariah) yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo. Pertama, melakukan ekspansi pasar (demand) untuk kemudian fokus memperbanyak pemain (supply). Kedua, melakukan ekspansi pasar dan pemain secara bersamaan. Lalu ketiga, memperbanyak pemain untuk kemudian fokus memperluas pasar.

“Dengan kombinasi 3 strategi ini diharapkan Indonesia nantinya di tahun 2030 ketika sudah menjadi negara maju, (menjadi) 5 besar (di) dunia dari segi ekonomi. Kita harapkan, kita bukan sekadar jadi pasar yang besar, tapi kita juga menjadi pemain kelas dunia,” pungkasnya.

Dari kuartal I/2006 sampai kuartal I/2017, pertumbuhan ekonomi di Indoensia sangat didorong oleh konsumsi. Pertumbuhan sebesar 4% itu sebagian besar didominasi oleh konsumsi dan belanja pemerintah. Adi pun berharap, Indonesia tidak hanya menjadi pasar yang besar, tetapi juga bisa melahirkan pemain-pemain baru.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.