LOMBOKita – Para ilmuwan sebelumnya sudah mengetahui jika suhu terendah yang pernah diukur di Bumi berada di wilayah dataran tinggi beku di timur Antartika, dekat Kutub Selatan.

Namun, baru-baru ini mereka menemukan fakta baru. Suhu di wilayah itu bisa turun lebih rendah daripada yang pernah diukur sebelumnya. Analisis baru menunjukkan, suhu turun hampir minus 100 derajat Celsius.

Para ilmuwan menduga, ini mungkin merupakan titik terdingin yang ada di Bumi. Sebagai informasi, analisis data satelit tahun 2013 menunjukkan suhu di dataran tinggi Antartika Timur adalah minus 93 derajat Celsius.

“Ini merupakan tempat di mana Bumi begitu dekat dengan batasnya. Hampir seperti berada di planet lain,” kata Ted Scambos, peneliti di The National Snow and Ice Data Center di University of Colorado, Boulder, diwartakan National Geographic, Rabu (27/6/2018). Para ahli menganalisis data satelit selama musim dingin panjang di kutub untuk mengetahui berapa suhu pasti di daerah tersebut. Ini merupakan satu-satunya cara yang bisa dilakukan.

Sebab, tidak ada stasiun cuaca apapun yang ada di sana dan tak ada orang yang dapat memeriksa suhu Antartika di tengah musim dingin secara langsung. Sementara saat satelit melintas di atas Antartika, ia dapat mencatat suhu di permukaan es.

Suhu diukur di cekungan kecil di dataran tinggi Antartika Timur dekat Kutub Selatan pada ketinggian 3800 meter. Selanjut para peneliti memetakan kapan dan di mana saja suhu terendah. Benar saja, peneliti menemukan sekitar 100 area kecil yang tersebar di bagian tertinggi lapisan es, di mana suhu di situ bisa mencapai minus 100 derajat Celsius.

Antartika Timur memang terlihat datar di permukaan, tapi sebenarnya berbentuk kubah dari tengah hingga ujung seperti cangkang kura-kura yang luas. Dalam penelitian yang sudah diterbitkan di Geophysical Research Letters, Senin (25/6/2018), peneliti berpendapat hanya kondisi khusus yang bisa menyebabkan suhu ekstrem.

Pertama, harus musim dingin yang sangat dingin (dead of winter), langit cerah tanpa gumpalan awan, serta angin yang berembus pelan. Ketiga faktor ini dapat mendinginkan permukaan salju dan menurunkan suhu.

Dalam kondisi sedingin apapun, es memancarkan sejumlah kecil panas. Biasanya sebagian besar panas itu ditangkap oleh uap air di atmosfer dan akan kembali turun ke permukaan Bumi, menyimpan suhu yang hangat di atmosfer yang lebih rendah. Tapi selama musim kering di Antartika, ketika sebagian besar uap air telah menguap dari atmosfer, ia mulai membuka semacam celah yang biasanya tidak terbuka di tempat lain di Bumi.

Panas yang dipancarkan dalam jumlah sedikit oleh lapisan es dapat lepas ke luar angkasa, membuat permukaan es menjadi lebih dingin.

Penulis : Kontributor Sains, Monika Novena
Editor : Gloria Setyvani Putri