Isi Rumah Bisa Terlihat Melalui “Smart Home”

32
kali tampilan.

LOMBOKita – Berdasarkan penelitian Juniper, jumlah perangkat Internet of Things (IoT) yang digunakan untuk smart home diperkirakan akan meningkat menjadi 38,5 miliar pada tahun 2020. Perangkat IoT tersebut, mulai dari speaker pintar hingga mesin cuci pintar, yang semuanya dirancang untuk membuat hidup lebih nyaman.

Sayangnya, perangkat pintar juga hadir dengan potensi celah keamanan yang dapat menempatkan data pengguna dan rumah tersebut berada dalam bahaya. Semua perangkat pintar dapat terkoneksi ke internet melalui perangkat router. Sehingga, sangat penting untuk mengamankan router agar terhindar dari ancaman peretas.

Risiko yang sering diabaikan ketika berhubungan dengan perangkat IoT adalah adanya kemungkinan kebocoran data pribadi hingga informasi pemilik berada di rumah atau tidak. Celah keamanan pada webcam misalnya, membuat peretas dapat melihat isi rumah yang dapat membahayakan privasi hingga kebocoran data pribadi. Penggunaan termostat serta bola lampu pintar yang tidak biasanya pun dapat menandakan pemilik sedang berada di luar rumah sehingga dapat dimungkinkan aktivitas kriminal secara fisik seperti perampokan.

SVP & GM Mobile Avast, Gagan Singh, mengatakan, penelitian yang dilakukan oleh IHS Markit menunjukkan, persentase gateway Wi-Fiatau router rumah yang disediakan oleh penyedia layanan broadbanddiperkirakan akan meningkat menjadi hampir 90 persen pada tahun 2019.

“Kolaborasi antara penyedia broadband dan vendor keamanan akan membentuk hubungan yang kuat dan memberikan kendali kepada konsumen, sehingga mereka dapat mengamankan perangkat pintar dan smart home mereka dengan cara yang sederhana dan efisien,” kata Gagan Singh, dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Jumat (6/7).

Menurut Gagan Singha, salah satu ancaman paling umum saat ini adalah menargetkan perangkat IoT yang sebagian besar tidak diketahui oleh pengguna. “Namun, ancaman ini dapat berdampak negatif yang cukup besar pada penyedia layanan broadband yaitu memanfaatkan perangkat pintar untuk bertindak sebagai botnet yang melakukan serangan DDoS,” kata dia.

Adapun dampak dari serangan DDoS antara lain, dapat melumpuhkan jaringan server sehingga pengguna tidak dapat mengakses suatu layanan dari server tersebut misalnya website Twitter dan Reddit yang sempat offline akibat serangan DDoS pada server Dyn pada 2016 lalu.

“Hanya beberapa bulan setelah serangan DDoS pada Dyn, perusahaan telekomunikasi Jerman, Deutsche Telekom, menjadi sasaran serangan DDoS dan melumpuhkan router milik 1,25 juta pengguna sehingga mengakibatkan koneksi internet tidak dapat diakses selama beberapa jam,” paparnya.

Gagan Singh mengatakan, penyedia telekomunikasi dan vendor keamanan adalah dua pemain yang memiliki peran penting dalam keamanan IoT. Penyedia layanan broadband berada dalam posisi yang kuat untuk memberikan keamanan karena mereka sering menyediakan router dan menyediakan jaringan yang membawa data pengguna.

“Selain itu, mereka memiliki kekuatan untuk membangun infrastruktur dan jaringan yang aman, memungkinkan pengguna untuk mempercayai keamanan koneksi mereka,” tambahnya.

Pada sisi lain, kata Gagan Singh, vendor keamanan dapat menganalisa data streaming di dalam jaringan dan menggunakan teknologi machine learning dan kecerdasan buatan untuk memahami data, mengidentifikasi anomali dan memblokir anomali tersebut. Pada akhirnya, solusi keamanan dapat mengidentifikasi ancaman yang sedang terjadi dan mengambil tindakan secara real-time untuk mengamankan smart home.

“Dengan bekerja secara bersama-sama, penyedia telekomunikasi dan vendor keamanan dapat menyelesaikan tantangan konsumen dengan menyediakan cara mudah untuk mengamankan jaringan dan perangkat pintar di smart home,” pungkasnya.