Kasta NTB Khawatir Desa Wisata Hanya PHP Masyarakat

141
kali tampilan.

LOMBOKita – Program Desa Wisata yang kini mulai dikembangkan di Kabupaten Lombok Tengah ditanggapi kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di daerah itu.

LSM Kasta NTB yang kini getol mengawasi dan mengawal berbagai kebijakan pembangunan pemerintah daerah “menyentil” program Desa Wisata yang mulai booming di daerah Tatas Tuhu Trasna (Tastura) tersebut.

LSM Kasta NTB melihat boomingnya isu Desa Wisata di Kabupaten Lombok Tengah dari dua sisi yang berbeda.

“Kalau melihat antusiasme masyarakat tentu hal ini sesuatu yang positif, artinya kesadaran warga untuk memaksimalkan potensi desa masing-masing sudah mulai terbangun,” jelas Ketua LSM Kasta NTB, Lalu Munawir Haris kepada LOMBOKita.com di Praya, Kamis (7/2/2019).

Loading...

Setidaknya, menurut pria yang akrab dipanggil Lalu Wink itu, ekspektasi masyarakat dengan adanya Desa Wisata yang layak jual kepada kalangan wisatawan itu akan mendatangkan income yang cukup besar khususnya pada sektor pariwisata.

“Selama ini masyarakat kita hanya mengandalkan sektor pertanian dan sumber Dana Desa yang tentu saja terbatas jumlahnya untuk melakukan pembangunan di desa,” sebut Lalu Wink.

Namun demikian, katanya, ada beberapa hal yang dilupakan, bahwa membangun desa wisata juga tidak bisa hanya bermodalkan semangat dan keinginan yang kuat, tapi juga harus berpijak pada realitas potensi desa yang layak dijadikan andalan untuk dipromosikan menjadi brand dan produk unggulan.

Beberapa syarat mendasar yang harus disiapkan oleh desa wisata, tentu saja adalah potensi alam yang indah, budaya dan atau kuliner yang dianggap unik, menarik dan beda. Demikian pula dengan jaminan keamanan, layanan transportasi dan media telekomunikasi yang memadai, dukungan semua stakeholder masyarakat di desa yang bersangkutan, dan ketersediaan infrastruktur pendukung lainnnya seperti sarana penginapan yang layak.

“Jika syarat dasar saja tidak mampu dipenuhi, maka jangan paksakan desa tersebut untuk dilabeli desa wisata,” cetus pria berambut gondrong itu.

LasM Kasta NTB, lanjut Lalu Wink, justeru mengkhawatirkan jika nantinya isu desa wisata hanya menjadi ajang pencitraan dan kepentingan oknum yang berakhir pada kekecewaan masyarakat karena berujung PHP atau program janji palsu belaka.

Karenanya, Kasta NTB mengharapkan agar leading sektor terkait untuk membiarkan masyarakat desa dengan kedamaiannya. Jangan sampai dengan membangkitkan program itu malah mengaburkan eksistensi desa wisata yang sudah lama ada.

Sebab, kata dia, fakta empiriknya desa-desa wisata lahir secara alami dengan potensi yang ada dan dengan karakteristik masing-masing desa, bukan dibangun dengan sebuah spot buatan ajang selfi dari sebuah berugak bambu dan sebuah bukit gundul.

“Masak iya sih, dengan hanya membuat berugak dan tempat-tempat selfie, lantas dijadikan desa wisata. Padahal, semuanya harus muncul alamiah tapi dan bukan rekayasa dari kalangan inisiator desa wisata,” pungkas pria asal Kecamatan Praya Timur itu.

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.