Kebangkitan PKI dan Khawarij (Penumpang Gelap Berkedok Suporter Pilpres 2019)

Penulis: Ahmad Fatoni*

677
kali tampilan.

LOMBOKita – Dengan sudah ditetapkannya calon presiden dan wakil presiden, dibarengi dengan penetapan nomor urut. Maka secara tidak langsung, genderang perang pilpres sudah mulai ditabuh. ketika genderang perang itu sudah mulai berbunyi. Para suporter mulai bersorak ria, meneriakkan yel-yel dukungan kepada jagoannya.

Teriakan demi teriakan terdengar semakin tidak jelas. Dikarenakan kedua belah pihak berteriak sekencang-kencangnya, tanpa mempedulikan tanggapan dan respon dari kelompok suporter lawannya.

Inilah bagian kecil dari ilustrasi kondisi masyarakat kita hari ini. Mereka menyanjung, memoles dan melebih lebihkan jagoannya dengan tanpa sedikitpun mau mendengar, apalagi mau memperhatikan setiap visi misi dari lawan politiknya. Mereka punya istilah “pokoknya, pokoknya calon saya yang terbaik”.

Kondisi seperti ini, menjadi ruang yang sangat tidak sehat bagi keberlangsungan proses berdemokrasi kita. Kondisi ini juga yang memaksa ingatan kita tentang apa yang pernah dialami sayyidina Ali pada fase Khulafaur Rasyidin dan apa yang dialami Soekarno pada masa akhir kepemimpinannya.

Kita semua tentunya sangat setuju dan tidak mau, apa yang pernah dialami oleh sayyidina Ali akan terulang kembali. Dimana sayyidina Ali terkenal sebagai orang yang sangat bijaksana, pinter dan cerdas. Tapi harus bertempur dengan sahabatnya sendiri, hanya karena berusaha mencari jalan tengah bagi penumpang gelap yang sudah terlanjur mendukung dan mengangkatnya sebagai Khalifah/presiden.

Sayyidina Ali biasanya disebut dengan Imam Ali, sangat faham betul akan kondisi politik pada waktu itu. Beliau juga sangat sadar, yang berusaha keras membujuknya menjadi Khalifah adalah para tokoh/kelompok yang pernah melakukan demonstrasi pada Khalifah sebelumnya, yakni Usman bin Affan. Kalaupun akan ditindak tegas, maka sangat tidak mungkin akan menghukum kelompok masyarakat yang bergerak hanya karena terprovokasi oleh oknum Muallaf gadungan yang tak berujung rimbanya dimana. Adapun beberapa tokoh lapangan yang merupakan perwakilan dari kelompok masyarakat ini, tidak akan mungkin juga diberikan hukuman mati. Dikarenakan semua langkah yang dia ambil, mulai dari menggerakkan masa dll, murni mereka lakukan atas dasar kecintaan pada agama warisan Rasulullah.

Akan tetapi, dengan diberikannya kebijakan seperti ini, penunggang gelap merasa aman dan memiliki ruang untuk melakukan propaganda kembali. Beberapa tokoh penunggang gelap ini mulai masuk dan memiliki peran kemiliteran pada masa pemerintahan Imam Ali. Mereka betul-betul lihai dan memanfaatkan situasi, dikarenakan jarak antara Madinah dan pusat kota pemerintahan (Kuffah) pada waktu itu. Maka akses informasi masih sangat tergantung pada delegasi/utusan. Peran inilah yang sangat mereka bidik, sehingga dalam kurun waktu lima tahun ini, tidak jarang mereka menyampaikan hal yang tidak sama (hoax) dengan apa yang dikatakan Khalifah kepada gubernur atau sahabat imam Ali.

Termasuk kejadian perang Jamal ( perang antara imam Ali dan Siti Aisyah ) Murni dikarenakan berita hoax yang disampaikan para delegasi ini. Dengan terjadinya perang Jamal ini, maka ummat muslim yang harus jadi korban kurang lebih 4ribu jiwa. Begitu juga dengan perang shiffin ( perang sang Khalifah dengan mantan gubernurnya ) imam Ali dan Muawiyah bin abu Sufyan. Korban meninggal kurang lebih 6ribu jiwa.

Hal paling menyakitkan dari apa yang mereka lakukan, meninggalkan sang Khalifah ketika imam Ali sudah tidak menjabat sebagai Khalifah lagi, mau berkoalisi dengan pemimpin baru, Mereka sudah terlanjur begitu getol, nampak dan diketahui oleh Muawiyah sebagai dalang dari pembunuhan sayyidina Utsman. Sedangkan misi awal dari perlawanan Muawiyah pada imam Ali adalah meminta imam Ali menyerahkan suporter gelap ini untuk diadili.

Ketika kondisi sudah tidak memungkinkan lagi, mau numpang di imam Ali, sedangkan imam Ali sudah tidak punya kekuasaan. Sedangkan tujuan utama mereka adalah kekuasaan dan perlindungan. Inilah yang membuat mereka memilih untuk menjauh (Kemudian disebut KHAWARIJ) mereka sejak awal adalah kelompok pencari makan, para broker, tidak segan menjual ayat atas nama Agama. Mereka juga kelompok yang tidak segan membunuh siapa saja yang dikatakan bisa menghalangi kepentingan mereka. Sehingga misi terakhir dari mereka adalah membunuh imam Ali, Muawiyah bin Abi Sofian dan Amru bin as.

Jika kita melihat sekilas perjalanan sejarah imam Ali, maka apa yang kita alami hari ini dengan nuansa pilpres yang begitu memanas. Penumpang gelap ( Masa imam Ali namanya khawarij berubah di masa Soekarno menjadi PKI ) sangat mungkin begitu berperan. Peran mereka bisa kita lihat dari sistem adu domba, para habaib dengan para kiyai sepuh dan pemuda Ansor. Mereka selalu belajar dari sejarah, satu satunya ormas yang terlibat sangat aktif dalam penumpasan PKI adalah Pemuda Ansor. Mereka juga tau, kekuatan Ansor ini ada pada para kiyai dan habaib.

Ketika Kiyai, habaib dan Ansor dibenturkan. Maka misi mereka sudah berhasil. Mereka merasa tidak ada lagi yang akan menghalanginya lagi ketika akan melakukan pembantaian dan makar. Pertanyaannya adalah, apakah Faham komunis (PKI Bahasa tahun 1960) itu berasal dari Cina?

Sangat tidak bisa dibenarkan kalo faham komunis ini berasal dari Cina, apalagi kita akan begitu latah mengatakan. Semua yang sipit (Cina) adalah komunis. Justru faham komunis ini pertama kali didengungkan oleh keturunan penumpang gelap ( Khawarij) pada masa sayyidina Ali. Mereka punya semangat berbagi sama rata dan kesetaraan. Mereka saling mendukung meskipun harus menumpahkan darah klan selain mereka. Agama hanya alat, teriakan takbir hanya penutup kerakusan. Kehidupan mereka selalu berpindah tempat, ketika masyarakat tidak mampu mereka propaganda. Tidak jarang mereka melakukan perampokan demi terpenuhinya nafsu syahwat mereka. Wallahu a’lam.

*Ahmad Patoni, SS
Kepala Madrasah Diniyah Salaf Modern Thohir Yasin Lendang Nangka, Masbagik – Lombok Timur.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.