Kembangkan Hasil Pertanian NTB, HBK Janji Konsep Sarjana Pertanian Desa

37
kali tampilan.

LOMBOKita – Potensi sektor pertanian di Nusa Tenggara Barat (NTB) akan
menjadi kekuatan daerah untuk mampu melejit lebih maju ke depan
sekaligus membawa peningkatan aspek kesejahteraan masyarakat NTB.

Hanya saja, potensi ini masih harus dimaksimalkan pengelolaannya, mulai dari
hulu (petani) hingga ke hilir, di tingkat pasca produksi dan
pemasaran.

Oleh karenanya, selain sumber daya alam yang sudah tersedia, sektor
pertanian NTB juga harus terus didorong mutu dan nilai tambahnya dengan melibatkan para Sarjana Pertanian yang terjun langsung hingga ke pelosok pedesaan.

“Sumber daya pertanian kita secara alamiah luar biasa. Lombok ini
tanahnya subur dan bisa ditanami apa saja. Sekarang tinggal bagaimana kita bisa elibatkan lulusan-lulusan Sarjana Pertanian untuk bersama-sama
melakukan gerakan peningkatan mutu dan nilai tambah di sektor ini,” kata
H. Bambang Kristiono (HBK), Jumat (12/10) di Mataram.

Menurut HBK, pelibatan Sarjana Pertanian dalam membangun sektor pertanian di NTB akan membawa dua hal positif secara bersamaan. Di satu sisi, ini membuka lapangan pekerjaan untuk lulusan Pertanian, dan disisi lain mutu dan kualitas hasil pertanian akan lebih memiliki nilai tawar untuk menembus ke pasar-pasar antar daerah dan pasar-pasar
modern.

Ia mencontohkan, hasil produksi sayur-sayuran di wilayah Lombok Utara
dan Lombok Timur selama ini terkenal sangat melimpah ruah. Hampir
semua jenis dan komoditi sayuran bisa diproduksi petani. Namun, saat ini
komoditas-komoditas tersebut baru bisa memenuhi pasar masyarakat lokal dan belum mampu menembus dunia industri, seperti restaurant atau perhotelan.
Akibatnya, tingginya produksi sayuran di Lombok tidak membuat kesejahteraan
petani bisa meningkat secara signifikan.

“Ini yang harus didorong dan ditingkatkan. Kalau mutu dan kualitas komoditas pertanian yang dihasilkan petani Lombok bagus dan layak masuk ke pasar modern dan industri
pariwisata seperti hotel-hotel dan restauran-restauran tentu nilai tambah juga akan meningkat untuk kesejahteraan petani kita,” katanya.

HBK menjelaskan, konsep Sarjana Pertanian Desa akan ia dorong dan
suarakan di tingkat pusat saat terpilih mewakili masyarakat NTB di DPR RI kelak. Pola kerja dan skema pembiayaannya, papar HBK, sangat sederhana dan bisa dianggarkan dari pos anggaran desa.

Keberadaan Sarjana Pertanian Desa minimal dua orang dalam satu wilayah
desa, juga sangat membantu tugas dan kinerja petugas penyuluh lapangan
yang disediakan Pemerintah Daerah.

“Saya akan perjuangkan ini di DPR RI kelak. Dan harapannya jika ini
sudah berjalan di NTB, maka daerah lain bisa belajar dari kita, dan
NTB bisa jadi pilot projectnya,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.