Kenapa Berhutang di SMI? Ini Jawaban Bupati Suhaili

329
kali tampilan.
Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT (kanan) saat ramah tamah dengan Direktur PT SMI Agresius Kadiaman di Novotel Hotel Kuta Lombok Tengah, Rabu (31/1/2018).

LOMBOKita – Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah masih mengandalkan PT Sarana Multi Infrastruktur (persero) untuk percepatan beberapa sektor pembangunan di daerah ini.

Tahun 2017 lalu, pemerintah Kabupaten Lombok Tengah berhasil melunasi hutang sebesar Rp90 miliar yang diperuntukkan untuk pembangunan infrastruktur jalan.

Kini, pemerintahan dibawah kepemimpinan HM Suhaili FT – Lalu Pathul Bahri itu kembali “mengangkat” hutang pada Lembaga Pembiayaan Infrastruktur Indonesia untuk rencana pembangunan pasar Jelojok Kecamatan Kopang dengan nilai pinjaman Rp79 miliar.

“Ini adalah karunia Allah SWT untuk masyarakat Kabupaten Lombok Tengah karena kita masih dipercaya untuk pembiayaan pembangunan yang pada intinya sangat bermanfaat bagi masyarakat dan daerah,” jelas Bupati Lombok Tengah HM Suhaili Fadil Tohir usai penandatanganan perjanjian pembiayaan daerah antara PT SMI (Persero) dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah di Novotel Hotel, Kuta Kecamatan Pujut, Rabu (31/1/2018).

Kenapa harus berhutang di PT SMI, padahal ada banyak lembaga pembiayaan dan keuangan lainnya? Mendapat pertanyaan itu, HM Suhaili yang saat itu didampingi Direktur PT SMI Agresius Kadiaman menjawab bunga rendah dan ada pendampingan langsung dari pemilik modal dalam pelaksanaan.

“Kita diberikan kemudahan, dan yang paling penting adalah adanya pendampingan dari SMI secara administrasi dan pelaksanaan, sehingga pekerjaan yang kita lakukan lebih terarah,” beber Suhaili menegaskan.

Selain itu, kata Bupati dua periode ini, percepatan pembangunan di Lombok Tengah dengan melibatkan pihak lembaga permodalan itu karena dianggap sangat membantu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Sebab, katanya, jalur-jalur strategis ekonomi masyarakat mampu dibangun dengan baik.


Berita sebelumnya: Deal, Lombok Tengah Ngutang Rp79 M di SMI

Sementara itu, Direktur Keuangan PT SMI, Agresius Kadiaman menjelaskan, dipercayainya kembali Kabupaten Lombok Tengah untuk meminjam permodalan, karena hutang tahap kedua ini lebih sedikit. Sementara pinjaman pada tahap pertama yang nilainya lebih besar juga mampu dilunasi tanpa ada kendala.

“Logikanya, kalau jumlah yang lebih besar saja mampu dikembalikan dengan baik, apalagi pinjaman yang sekarang nilainya lebih rendah,” kata Agresius Kadiaman.

PT SMI memberikan aplaus dan apresiasi tinggi kepada pemerintah Kabupaten Lombok Tengah yang selama ini telah menunjukkan semangat kerjasama yang baik

Pinjaman dana yang dilakukan, kata Agresius, sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di daerah ini. Terlebih pada pinjaman tahap kedua ini diperuntukkan untuk pembangunan pasar rakyat yang sangat dinikmati oleh masyarakat dan lingkungan sekitar.

“Di pasar itu nanti masyarakat akan bertransaksi setiap hari untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Pasar dibangun lebih luas, penataan bagus dan rapi, SMI akan selalu mendukung demi untuk kenyamanan masyarakat,” tandas Agresius.

Terkait pinjaman pembiayaan pembangunan daerah ini, kata Agresius, tidak hanya melibatkan PT SMI tetapi juga ada persetujuan dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan RI.

Adakah sanksi yang diberikan jika daerah peminjam pembiayaan tidak mampu mengembalikan dana? Agresius hanya menjawab diplomatis. “Mari kita sama-sama tanamkan komitmen untuk tetap menjaga keberlangsungan pembangunan. Kita memastikan bahwa apa yang kita lakukan ini tidak berujung masalah, tetapi berdampak kepada kemanfaatan bersama,” kata Agresius.

Sebab, menurutnya, PT SMI selaku pemilik dana akan terus melakukan pengawasan dan mengucurkan dana itu secara bertahap demi untuk menjaga kedisiplinan pemerintah daerah yang meminjam dana.

“Kami akan membantu sejak persiapan visibility, desain, studi lingkungan dan pembangunan. Kalau sekiranya ada masalah, silakan ceritakan pada kami agar masalah itu tidak berkempanjangan. Kami juga siap memerikan solusi,” jelas Agresius.