Kesehatan Mental di Masa Pandemi Covid-19

Ditulis oleh Ega Erlina, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Prodi Sosiologi, Universitas Mataram

Ega Erlina, Mahasiswi Universitas Mataram Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Program Studi Sosiologi / foto: Ist

Fokus dunia saat ini tercurah pada penanganan virus corona, khususnya aspek kesehatan. Namun, sangat sedikit yang membahas bagaimana kondisi psikologis manusia saat ini, di tengah pandemi COVID-19, yang begitu kencang memberi tekanan mental.

Kita tidak bisa melihat secara kasat mata di mana virus itu berada. Bisa jadi, kita telah membatasi secara ketat interaksi sosial dengan orang lain, namun masih juga terinfeksi melalui benda-benda yang tidak kita sadari telah terpapar. Seperti pada uang, makanan yang kita beli, atau gagang pintu yang sempat kita pegang entah di mana.
Di rumah terus dalam jangka waktu, juga membosankan.

Semakin hari, kondisi ini membuat kita gamang, sedih, cemas, dan stres. Ujung-ujungnya, kecemasan dan stres justru menekan sistem kekebalan tubuh dan membuat kita mudah sakit.

Banyaknya informasi yang menyebar baik melalui internet maupun media lain dapat membuat orang merasa takut, cemas, stres, sedih bahkan merasa kesepian. Hal tersebut tentunya menjadi pemicu besar terjadinya gangguan kesehatan mental.

Dalam sebuah survei dinyatakan bahwa jumlah orang dewasa di AS yang mengalami keluhan depresi, gejala stres dan kecemasan jauh lebih besar dibandingkan saat belum terjadi pandemi.

Permasalahan ini dapat kita kaitkan dengan teori bunuh diri yang dipopulerkan oleh Emile Durkheim tentang bunuh diri yang menjadi pisau pembedahnya. Bunuh diri egoistis dilakukan seseorang yang tidak mampu mengintegrasikan dirinya dengan masyarakat sebagai unit sosial yang lebih luas.

Rendahnya integrasi menjadi penyebabnya. Mereka yang terinfeksi dan menjalani karantina takut dipandang sebagai aib bagi keluarga dan mengalami penolakan dari masyarakat. Ia takut bahwa setelah keluar dari karantina, ia akan ditolak oleh masyarakat dan bahkan menjadi aib keluarganya.

Hal itu menyebabkan stres yang mendorong mereka memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Sosialisasi dan edukasi bahwa positif Covid bukan aib masih minim.

Berikut ini beberapa strategi perawatan diri yang bisa kita lakukan untuk menjaga kesehatan mental kita :

1. Tidur yang cukup
Dianjurkan bagi kita untuk tidur setidaknya 8 jam sehari untuk kesehatan tubuh. Meskipun di situasi pandemi seperti sekarang ini usahakan untuk menjaga kualitas tidur Anda.

2. Olahraga teratur
Melakukan olahraga secara teratur menjadi salah satu tips tepat untuk menurunkan rasa cemas dan juga memperbaiki suasana hati. Anda dapat memilih tempat yang sesuai untuk mematuhi anjuran jaga jarak misalnya di halaman rumah Anda sendiri maupun di jalur alam yang tidak banyak pengunjung.

- Adv -

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.