Kisah Kepahlawanan Laksamana Malahayati

Kisah kepahlawanan terdengar di Desa Maroko, Kecamatan Ranteangin, Kolaka Utara, Sulawesi Utara. Di lansir dari laman Kemendikbud, seorang anggota Babinsa, Serka Darwis nekat membuat jembatan katrol untuk menolong anak sekolah dan warga menyeberang Sungai Ranteangin. Dengan bekal tali, selembar papan dan bambu, Prajurit TNI Ko rem 143/HO Kendari itu berani mempertaruhkan nyawa untuk mengantar mereka menyeberang.

Tidak adanya jembatan penghubung antara Desa Wawo dan Desa Maroko membuat anggota Babinsa Lalusua itu menguji nyali untuk menyeberang ala flying fox. Sebelumnya, memang ada alat tali gantung untuk membantu anak-anak menyeberang dengan rakit yang terbuat dari batang pohon pisang.

Hanya, fasilitas itu tidak berlangsung lama. Tingginya air sungai saat musim hujan tiba membuat jembatan itu sulit dilalui dengan rakit. Serka Darwis yang enam tahun lagi akan pensiun pun menolong warga melalui sarana penyeberangan darurat itu.

Pada 10 November, kita bisa memutar ulang rekaman pidato Bung Tomo yang menggelegar. Bung Tomo memanaskan darah juang para TKR, milisi dan rakyat. Bung Tomo minta mereka tidak tunduk kepada ultimatum tentara Inggris yang meminta pejuang Indonesia menyerahkan senjata dan menyerah dengan kepala di atas tangan.

“Kita lebih baik hancur lebur dari pada tidak merdeka. Semboyan kita tetap merdeka atau mati. Dan kita yakin saudara-saudara. Pada akhirnya kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar. Percayalah saudara-saudara, Tuhan selalu di pihak yang benar. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”.

Seperti yang sudah-sudah, pemerintah mengangkat tokoh-tokoh pejuang untuk menjadi pahlawan. Pada 2017 ini, beberapa tokoh yakni TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Laksamana Malahayati, Sultan Mahmud Riayat Syah, Dr Lafran Pane.

Mari kita kenang Laksamana Malahayati. Nama aslinya Keumalahayati, seorang pelaut Muslimah yang berjasa mempertahankan Tanah Air dari serangan penjajah.

Laksamana Malahayati pun pernah terlibat dalam pertempuran melawan pasukan kolonialisme Belanda pimpinan Cornelis de Houtman. Pasukan itu menghadapi kontak senjata dengan pasukan Kesultanan Aceh Darussalam pada 21 Juni 1599. Meskipun, kedatangan awal mereka adalah hubungan perdagangan.

Namun, seiring waktu berjalan, Su ltan al-Mukammil merasa tidak senang dengan kehadiran Houtman. Diduga ketidaksenangan itu berasal dari hasutan orang Portugis yang bekerja sebagai penerjemahnya. Kemudian, tanpa waktu yang lama, al-Mukammil memerintahkan pasukan Malahayati untuk menyerang orang-orang Belanda yang masih ada di kapal-kapalnya.

Alhasil, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh, sedangkan Frederick de Houtman tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara selama dua tahun. Dikabarkan, Cornelis de Houtman adalah orang Belanda pertama yang menginjakkan kaki di tanah nusantara dan tewas di tangan Keumalahayati.

Sejak peristiwa itu, nama Laksamana Malahayati semain tersohor di seantro nusantara bahkan hingga ke Eropa. Atas keberanian hingga dikenal sebagai Laksa mana Malahayati, nusantara mengabadikan namanya dalam salah satu nama kapal perang Republik Indonesia, KRI Mala hayati.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan dimaknai sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Karena itu, tidak semua orang bisa menjadi pahlawan.

Di dalam bahasa Arab, kata pahlawan diartikan sebagai batholun. Kata dasarnya adalah bathula atau be rani. Kata ini mempunyai lawan kata jabuna yang berarti penakut.

Komentar Anda