Kritik Gelar Pahlawan Nasional, Hamja Dicibir Warganet

Anggota DPRD NTB Hamja

LOMBOKita – Pernyataan Ketua Fraksi Gerindra DPRD NTB H Hamja yang mengkritisi gelar pahlawan nasional yang disandangkan kepada pendiri NW TGKHM Zainuddin Abdul Madjid, seketika ramai dibicarakan warganet di sejumlah media sosial.

Sebelumnya, Ketua Fraksi Gerindra DPRD NTB H Hamja menilai pemberian gelar pahlawan nasional kepada TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berbau politik menjelang Pernyataan Hamja itu karena dinilainya berbau politik, seperti dimuat di sebuah media online di daerah ini.

Pernyataan Hamja itu langsung menuai polemik di masyarakat NTB. Ada yang mendukung, tapi tidak sedikit komentar yang mencibir bahkan menghujat Hamja di media sosial.

DPD Partai Gerindra Nusa Tenggara Barat memberikan teguran keras kepada Ketua Fraksi Gerindra DPRD NTB H Hamja atas pernyataannya itu.

Ridwan menyatakan komentar kader Gerindra itu, sebagai keseleo lidah. Dalam artian bukan mencerminkan pernyataan dari DPD Gerindra ataupun bakal calon yang diusung Gerindra dan bukan suara fraksi partai Gerindra karena itu suara pribadi.

“Pendapat Hamja benar-benar pendapat pribadi hanya keseleo saja. Kami juga sudah memberikan teguran keras terhadapnya,” katanya.

sementara itu, anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Gerindra daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat H Willgo Zainar mengaku kecewa dan menyesalkan pernyataan tersebut.

“Saya sangat kecewa dan menyesalkan pernyataan rekan saya satu partai. Itu tidak benar dan itu pendapat pribadi. Pernyataan tersebut harus diluruskan dan mungkin partai akan meminta klarifikasi dari yang bersangkutan,” ucapnya.

Almarhum TGKH Zainuddin Abdul Madjid dilahirkan di Bermi, Pancor, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur, NTB, pada 17 Rabiul Awwal 1316 Hijriyah bertepatan dengan 5 Agustus 1898 Masehi.

Kakek dari Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi itu meninggal dunia di tanah kelahirannya pada 21 Oktober 1997 ketika berusia 99 tahun.

Ulama kharismatis itu merupakan pendiri Nahdlatul Wathan (NW), organisasi massa Islam terbesar di provinsi tersebut.

Maulana Syaikh telah membangun banyak pondok pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan lainnya. Sepanjang hidupnya berjuang memberikan bekal pendidikan kepada anak-anak muda pada zamannya.

Komentar Anda