Lalu Zohri, Hobi Sepak Bola, Juara Atletik dan Ritual Sebelum Lari

203
kali tampilan.
Lalu Muhammad Zohri, atlet muda Indonesia di cabang olahraga atletik. [Suara.com/Arief Apriadi]

LOMBOKita – Nama Lalu Muhammad Zohri segera melambung begitu sukses meraih medali emas dalam nomor lari 100 meter di ajang IAAF World U20 Championships (Kejuaraan Dunia Atletik U-20) 2018, pertengahan Juli lalu. Media-media memberitakannya, berbagai pihak menyampaikan bukan saja sanjungan tetapi juga hadiah dan bonus.

Zohri bahkan kemudian dapat kesempatan berjumpa secara khusus dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan Bogor — di mana ia sempat berkendara berdua dengan Kepala Negara.

Lantas, bagaimana perasaannya saat ini, dan apa rencananya ke depan? Bagaimana pula Zohri mengenang masa-masa awalnya berlatih atletik?

Berikut petikan wawancara Suara.com dengan Lalu Muhammad Zohri beberapa waktu lalu:

Loading...

Bagaimana kisahnya bisa merintis menjadi atlet lari?
Itu terjadi pada 2015 ya, saat saya duduk di kelas 3 di SMP 1 Pamenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Dari sana saya mulai disuruh berlatih oleh guru olahraga sekolah saya, Bu Rosida namanya.

Pertama kali disuruh kejuaraan itu kejuaraan antar-sekolah. Jam istirahat atau saat pelajaran olahraga, setiap hari saya disuruh latihan.

Saat itu saya berlatih, berlatih, dan berlatih terus. Karena Bu Rosida itu menceritakan kepada saya mengenai senior saya, tentang Sudirman Hadi yang sering ada di pemberitaan, koran, televisi, sering bertanding ke mana-mana.

Dari sana saya mulai berlatih, satu bulan mau pertandingan Kejuaraan Daerah di Mataram.
Dari situ saya berpikir dan didukung sama Bu Rosida. Dia bilang, “Sebenarnya kamu itu bisa. Dari postur tubuh kamu, dari cara kamu berjalan, dan gerak-gerik, kamu itu punya potensi untuk bisa menjadi atlet lari.”

Sampai akhirnya seorang Lalu Muhammad Zohri bisa masuk ke Pelatihan Nasional (Pelatnas) PB PASI?
Saya kan mengikuti Kejuaraan Daerah di GOR Mataram. Di sana saya turun di nomor pertandingan 100 dan 200 meter putra. Dari sana saya mendapatkan medali emas di kedua nomor itu.

Akhirnya, usai menjalani ujian nasional di sekolah di SMP 1 Pamenang, Lombok Utara, saya langsung dipanggil PPLB NTB pada 2016.

Dari sana saya berlatih lebih giat, lebih ada peningkatan. Lalu setelah itu, saya diturunkan untuk mengikuti berbagai lomba. Kejuaraan Nasional (Kejurnas) antar-PPLP 2016, nomor 100 meter juara 3, nomor 400 meter juara dua. Kejuaraan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) Jawa Tengah 2017, medali perak. Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 2017, tujuh medali emas.

Setelah saya banyak mendapat juara di kejuaraan-kejuaraan itu, akhirnya saya dipanggil ke sini, ke Pelatnas PB PASI.

Awalnya kamu kan suka sepak bola. Bu Rosida mengatakan butuh 2,5 tahun untuk meyakinkan kamu terjun menjadi atlet atletik. Bagaimana ceritanya?

Waktu kelas 1 dan 2 SMP, saya memang sudah disuruh untuk berlatih atletik. Namun saat itu saya lebih mementingkan sepak bola.

Lalu Bu Rosida bilang kepada saya, “Kalau karier kamu di sepak bola bisa menembus Mataram, saya pertaruhkan telinga saya.” Waktu itu dia bilang seperti itu.

Dan memang benar kata-kata Bu Rosida. Di turnamen antarkampung saja, saya tak pernah lolos, tak pernah menjadi juara.

Akhirnya terpikir, memang jalan saya mungkin di atletik. Dari bakat juga kan saya dibilang memang memiliki.

Kamu memandang Bu Rosida seperti apa?

Bu Rosida adalah sosok yang luar biasa. Dia adalah orang yang punya kemauan yang sangat kuat. Dia tidak pernah mau menyerah untuk men-support seseorang.

Sebagai yatim piatu, bagaimana seorang Lalu Muhammad Zohri bisa terus bersemangat untuk menjadi yang terbaik di olahraga atletik, khususnya lari?

Saya sebelum latihan, saya punya target sebenarnya. Saya berpikir harus punya tujuan. Percuma jika latihan terus-menerus dan tidak mendapatkan hasil. Hanya rasa capek saja yang didapat.

Itu yang membuat saya semangat latihan. Kita harus menanam target dan tujuan.

Dari awal ke PB PASI, langsung lari 100 meter atau dicoba ke nomor lain?

Tidak. Saya sejak bergabung di PPLP NTB itu sudah mengikuti spesialis di lari 100 meter.
Terkait keikutsertaan di estafet 4×100 meter putra, saya juga tidak terhitung baru. Karena dulu di PPLP juga pernah ikut di estafet.