LIA Diganti Nama Pahlawan Nasional, Tokoh Adat di Loteng Protes

1728
kali tampilan.
Kepala Dinas Budpar Lombok Tengah H. Lalu Moh. Putria (tengah) didampingi Camat dan para tokoh adat saat rapat penentuan tanggal Bau Nyale di Pantai Seger / foto: Japar/Humas

LOMBOKita – Perubahan nama Bandara Internasional Lombok menggunakan nama pahlawan nasional TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) menuai pro-kontra.

Sejumlah tokoh masyarakat yang ada daerah ini khususnya Kabupaten Lombok Tengah secara terang-terangan menolak penggantian nama bandara itu.

Meski demikian, ada pula kalangan masyarakat yang setuju dan mendukung pemberian nama bandara menggunakan tokoh agama yang juga sekaligus pahlawan nasional.

Tokoh adat masyarakat Lombok Tengah, H. Lalu Putria menjelaskan, perubahan nama bandara dengan pahlawan nasional sebenarnya sah-sah saja dilakukan asalkan dengan kesepakatan bersama.

Loading...

“Mari kita duduk bersama dengan seluruh tokoh yang ada, sehingga tidak menimbulkan pro-kontra di tengah-tengah masyarakat,” jelas Lalu Putria kepada sejumlah wartawan di kediamannya di Desa Ketara Kecamatan Pujut, Kamis (6/9/2018).

Menurut H. Lalu Putria, dirubahnya nama Bandar Udara Lombok yang dilakukan secara tiba-tiba tanpa kesepakatan para tokoh masyarakat sama saja dengan tidak menghargai masyarakat Lombok khususnya yang berada di lingkar bandara.

“Kami tidak pernah diajak musyawarah untuk menentukan perubahan nama bandara LIA menjadi ZAM,” ungkap Lalu Putria yang juga sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lombok Tengah ini.

Sejujurnya, menurut Lalu Putria, masyarakat tidak menolak perubahan nama bandara itu, asalkan sesuai prosedur dan etika yang baik serta berdasarkan hasil musyawarah bersama.

Sementara itu, Kepala Desa Ketare Lalu Buntaran secara tegas penggantian nama bandar udara Lombok.

“LIA sudah bagus, kenapa harus diganti?,” ucap Lalu Buntaran.

Menurut Lalu Buntaran, kondisi bandara Lombok saat ini cukup kondusif, jangan lagi diusik dengan hal-hal sensitif lainnya seperti penggantian nama bandara.

Lain halnya dengan salah seorang tokoh masyarakat yang ada di Kota Praya, H. Ahsan Husen.

Ketua Pengurus Daerah Nahdlatul Wathan Lombok Tengah ini menegaskan, pemberian nama pahlawan nasional untuk menjadi nama bandara sudah pas sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada pahlawan nasional asal pulau Lombok.

“Nama bandara menggunakan nama pahlawan nasional sudah biasa seperti beberapa bandara di daerah lain,” kata Ahsan Husen.

Mantan Ketua DPRD Lombok Tengah ini mengungkapkan, tidak perlu mempermasalahkan penggantian nama bandara, apalagi sampai berdebat yang hanya menguras energi,” katanya.

Diketahui, perubahan nama bandara Lombok berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perhubungan RI nomor KP 1421 tahun 2018.

Dalam surat Menhub itu menjelaskan atas pertimbangan menetapkan nama Bandar Udara Internasional nasional Zainuddin Abdul Madjid, telah didapatkan persetujuan dari DPRD NTB, Gubernur, Majelis Adat Sasak serta keputusan Presiden nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang penganugerahan gelar pahlawan nasional.

Item b, bahwa berdasarkan pertimbangan sebagai dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Keputusan Menteri Perhubungan tentang penetapan perubahan nama Bandar Udara Lombok menjadi Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid.

Loading...

2 KOMENTAR

  1. H.hasan husen enaknya ngomong seperti itu karena dia adalah pengurus NW tanpa memikirkan sensitifitas oranglain ataupun kelompok lain yang hidup di gumi lombok ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.