Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi, memukul beduk tanda dimulainya Lomba Pukul Beduk dengan tema Semarak Takbir 1000 Bedukyang merupakan rangkaian pesona khazanah ramadhan 2018 di NTB. / foto: Humas NTB

LOMBOKita – Kegiatan Lomba “Pukul Beduk” se-Pulau Lombok di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, yang dirangkaikan dengan semarak takbiran menyambut 1 Syawal 1439 Hijriah akhirnya berhasil memecahkan Rekor MURI.

“Alhamdulillah, berbagai kendala, termasuk kekurangan beduk untuk 1.000 peserta lomba bisa terpenuhi sesuai target mendapatkan Rekor MURI,” kata Ketua Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) NTB Nanang Edward di Mataram, Kamis malam.

Nanang yang dikonfirmasi di sela menyaksikan peserta pawai takbiran di depan Masjid Hubbul Wathan Islamic Center, mengatakan piagam penghargaan MURI diserahkan perwakilan dari MURI dan Kementerian Pariwisata kepada Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi.

“Sementara saya mendampingi, sebab kegiatan semarak takbir 1.000 beduk menjadi bagian tanggung jawab kami,” katanya.

Ia mengatakan keberhasilan itu menjadi bagian persembahan pemuda dan remaja masjid untuk masyarakat NTB. Selain itu, menjadi motivasi pemuda untuk berkarya lebih baik lagi.

“Kami selalu haus akan karya-karya nyata, karena pemudalah yang meneruskan estafet kepemimpinan di negeri ini,” katanya.

Nanang berharap, kegiatan-kegiatan bernuansa religi tetap dilaksanakan setiap tahun untuk melestarikan budaya religius di Bumi Paer NTB khususnya Kota Mataram.

“Bila perlu kegiatan religi diperbanyak, sehingga kegiatan yang dilaksanakan pemuda bisa lebih mengarah kepada hal-hal yang positif,” ujarnya.

Sebelumnya, Nanang mengakui, sangat khawatir lomba “Pukul Beduk” tidak bisa memecahkan Rekor MURI, karena sampai H-1 kegiatan, panitia baru bisa menyiapkan 65 persen beduk dari target 1.000 beduk untuk memecahkan Rekor MURI.

Sementara, 35 persen kekurangan beduk tersebut terus diupayakan untuk meminjam dari sejumlah kabupaten/kota lain, seperti dari kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat dan dari sejumlah sekolah yang memiliki fasilitas beduk hingga siang.

“Untuk memenuhi kekurangan, panitia juga melakukan sharing beduk dari peserta. Artinya, peserta lomba yang memiliki beduk diminta untuk membawa,” katanya.

Menurut dia, terjadinya kekurangan sarana beduk antara lain dipicu karena persiapan kegiatan yang sangat mepet. Dimana panitia diminta mempersiapkan kegiatan akbar tersebut hanya 14 hari.

Sementara, beduk milik remaja masjid digunakan pada hari dan jam yang sama untuk kegiatan pawai takbiran sehingga beduk sudah dinaikkan ke miniatur perlengkapan pawai takbiran.

“Selain itu, beduk milik masyarakat di kampung-kampung juga digunakan untuk syiar takbiran di kampung masing-masing,” katanya.