Lombok Barat Jadi Percontohan Penanganan Stunting

167
kali tampilan.
Posyandu
Kegiatan Posyandu OKI

LOMBOKita – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan beberapa daerah untuk dijadikan percontohan penanganan stunting, salah satunya Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, karena pemerintah daerah setempat dinilai memiliki komitmen yang kuat.

“Ada tiga kabupaten yang dipilih menjadi percontohan, yakni Kabupaten Lombok Barat, Klaten, dan Kulonprogo,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat Rachman Sahnan Putra, di Gerung, Rabu.

“Stunting” adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Akibatnya, bayi bawah lima tahun (balita) mengalami kondisi gagal tumbuh sehingga mengalami tubuh pendek.

Berita terkait: Penyakit ‘Stunting’, Dampak dan Pencegahannya

Secara pribadi, Sahnan mengaku bangga dengan dipilihnya Lombok Barat sebagai kabupaten percontohan penanganan kasus “stunting” oleh pemerintah pusat.

“Itu berarti seluruh program, trobosan dan inovasi yang kami lakukan diakui secara nasional. Kita harus bangga,” ujarnya.

Ia menyebutkan penurunan angka “stunting” mencapai 16 poin, yakni dari 49 persen menjadi 32 persen pada 2016. Capaian tersebut tergolong cukup bagus dibanding daerah lainnya. Prestasi tersebut tidak lepas dari berbagai program seperti gerakan masyarakat sadar gizi (Gemadazi), gerakan masyarakat 1.000 hari pertama kehidupan dan lainnya.

Dengan ditunjuknya Lombok Barat sebagai percontohan penanganan “stunting”, Rahman berharap mampu menambah motivasi jajarannya dan seluruh organisasi perangkat daerah untuk menurunkan kasus gizi buruk lebih baik lagi.

Kami berharap melalui Gemadazi yang diluncurkan pada akhir 2016, bisa mencegah balita di Lombok Barat, terkena gizi buruk

Data Dinas Kesehatan Lombok Barat tercatat pada 2016, sebanyak 1.768 balita atau sebesar 2,81 persen dari 65.068 balita di Lombok Barat berada di bawah garis merah (BGM), atau berpotensi mengalami gizi buruk.

Dari total jumlah balita tersebut, sebanyak 76 balita atau 0,12 persen sudah mengalami gizi buruk.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.