Keluarga muda yang baru pertama kali memiliki anak dan ada keinginan memulai program keluarga berencana, biasanya mereka menggunakan bantuan alat kontrasepsi. Alat kontrasepsi merupakan cara paling efektif menunda kehamilan bagi pasangan suami istri yang baru saja menikah dan belum ada keinginan memiliki anak, atau usai melahirkan anak pertama. Ada beberapa jenis alat kontrasepsi yang dapat menjadi pilihan sesuai dengan kebutuhan masing-masing keluarga.

Selain menggunakan alat, ada juga metode kontrasepsi alami yang tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun. Cara yang paling sering digunakan pasangan suami istri adalah menghindari berhubungan seksual saat wanita sedang dalam masa paling subur. Agar metode ini efektif, seorang wanita harus tahu persis kapan masa subur dalam siklus bulanannya.

Masa subur dimulai kira-kira lima hari sebelum ovulasi, yaitu terjadi sekitar 12 – 14 hari sebelum hari pertama haid, dan berlangsung 12 – 16 hari sebelum masa haid berikutnya. Dalam kata lain, rata-rata masa subur wanita adalah antara hari ke-10 hingga hari ke-17 setelah hari pertama haid sebelumnya. Hal tersebut berlaku bagi wanita yang mempunyai siklus haid teratur 28 hari. Masa subur juga ditandai dengan perubahan cairan pada vagina, serta perubahan suhu basal tubuh.

Selain menghitung masa subur, kontrasepsi alami dapat dilakukan dengan menarik penis sebelum ejakulasi saat berhubungan intim. Namun, ada kelemahan metode kontrasepsi alami. Dibutuhkan kedisiplinan tinggi termasuk harus membatasi hubungan seksual yang dilakukan secara spontan dan kemungkinan kesalahan dalam menghitung masa subur yang dapat mengakibatkan kehamilan.

KB dengan Alat Kontrasepsi

Pil KB

Pil KB merupakan alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan di Indonesia. Pil KB biasanya mengandung hormon progestin dan estrogen untuk mencegah ovulasi. Pil KB cukup efektif dan angka kegagalannya hanya sekitar 8%. Selain mencegah kehamilan, pil KB memiliki manfaat lain, tergantung jenisnya. Misalnya melancarkan haid dan mengurangi kram saat haid. Bahkan ada pil KB yang digunakan untuk mengurangi jerawat.

Adapun kekurangan pil KB adalah harus diminum setiap hari tidak boleh lupa. Pil KB tidak dapat melindungi pengguna dari penyakit menular seksual, dan dapat mendatangkan risiko meningkatkan tekanan darah, pembekuan darah, dan payudara terasa mengeras. Ada beberapa wanita yang tidak dianjurkan untuk menggunakan pil KB, antara lain memiliki riwayat penyumbatan pembuluh darah, penyakit jantung, gangguan hati, kanker payudara atau rahim, migrain hingga tekanan darah tinggi

Kondom

Kondom digunakan oleh pria untuk mencegah sperma masuk ke tubuh wanita dan membuahi sel telur. Kondom memiliki keuntungan, di antaranya harganya yang relatif terjangkau dan mudah didapat, dan berguna untuk melindungi wanita maupun pria dari berbagai penyakit seperti HIV/AIDS, penyakit menular seksual, dan lain-lain.

Namun, kondom juga tidak 100% mendegah kehamilan. Misalnya karena kualitas kondom tidak bagus menyebabkan kebocoran sehingga program KB gagal. Angka kegagalan KB dengan kondom mencapai 15%. Selain itu, kondom adalah alat kontrasepsi yang hanya dapat dipakai sekali

Suntik KB

Terdapat dua jenis suntik KB yaitu suntikan setiap tiga bulan dan setiap bulan. Suntik KB lebih efektif jika dibandingkan dengan pil KB. Jika digunakan dengan benar, tingkat kegagalan suntik KB hanya sekitar 1%. Namun, suntik KB relatif mahal, memerlukan waktu yang rutin untuk datang ke klinik atau ke bidan, dan dapat menyebabkan efek samping seperti bercak darah. Suntik KB sebaiknya dihindari pada wanita yang memiliki penyakit migrain, diabetes, sirosis hati, stroke dan serangan jantung.

IUD

IUD adalah singkatan dari intrauterine device atau alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Orang awam sering menyebutnya spiral. IUD terbuat dari plastik atau tembaga berbentuk huruf T dan dipasang di dalam rahim wanita. Tujuannya menghalangi masuknya sperma agar tidak membuahi sel telur. Tergantung jenisnya, IUD dapat bertahan selama 10 tahun atau 5 tahun. Setelah masa pakai habis, atau Mums ingin hamil kembali, IUD dicabut. IUD sangat efektif, kegagalannya sangat rendah. Masa subur dapat segera kembali begitu IUD dilepas. Kekurangan IUD antara lain dapat lepas dan biayanya tidak semurah pil KB.
Baca juga: Berbagai Mitos Tentang Alat Kontrasepsi Spiral

Spermisida

Spermisida adalah produk yang diaplikasikan di dalam vagina sebelum berhubungan seksual. Produk ini berbentuk krim, jeli, membran ataupun busa yang mengandung bahan kimia yang dapat membunuh sperma. Namun terdapat kekurangan pada pemakaian spermisida, yaitu harus digunakan 30 menit sebelum berhubungan seksual, jika terlalu sering digunakan dapat menyebabkan iritasi dan meningkatkan risiko infeksi penyakit seksual menular

Diafragma

Terbuat dari karet berbentuk kubah yang ditempatkan pada mulut rahim sebelum berhubungan seksual. Namun, diafragma tidak memberikan perlindungan pada penyakit menular seksual, memiliki tingkat kegagalan sekitar 16% jika tidak digunakan dengan benar, pemasangan harus dilakukan oleh dokter dan harus dilepas saat haid

Implan

Kontrasepsi ini berupa benda kecil yang berbentuk seperti batang korek api yang ditanamkan ke bagian bawah kulit, umumnya pada lengan bagian atas. Implan ini dapat bertahan selama 3 tahun dan sangat efektif digunakan. Namun, implan juga memiliki efek samping seperti haid menjadi tidak teratur, dapat menyebabkan memar dan bengkak pada awal pemasangan dan relatif mahal.

Cincin Vagina

Cincin vagina atau yang biasa disebut sebagai NuvaRing ini berbentuk seperti cincin yang dimasukkan di dalam vagina. Cincin ini mengandung hormon yang sama seperti pil KB. Cincin vagina hanya perlu diganti satu bulan sekali dan membantu memperlancar haid.

Koyo

Koyo ditempelkan pada kulit sekitar satu minggu sekali selama tiga minggu berturut-turut kemudian harus dilepas pada minggu keempat. Koyo ini berfungsi untuk melepaskan hormon yang sama efektifnya dengan pil KB.

Alat-alat kontrasepsi yang disebutkan di atas hanyalah bersifat sementara, sedangkan yang bersifat permanen disebut dengan vasektomi pada pria yaitu pengikatan saluran vas deferens yang membawa sperma dari testis sehingga sperma tidak dapat dilepaskan. Sedangkan pada wanita adalah tubektomi, yaitu mengikat tuba falopi yaitu saluran sel telur menuju rahim. Dengan tubektomi, sel telur tidak dapat bertemu sperma. Kedua cara ini membutuhkan operasi, namun dipercaya memiliki tingkat keberhasilan sekitar 100%. Apapun alat kontrasepsi yang digunakan, sebaiknya tanyakan kepada dokter terlebih dahulu agar tidak salah dalam memilih sesuai dengan kebutuhan pasangan. (AD/AY)