Menanti Penantang Jokowi di Pilpres 2019

62
kali tampilan.

Pendaftaran pasangan capres-cawapres tinggal sebulan lagi. Hingga kini siapa saja yang akan berlaga memperebutkan tampuk tertinggi pemerintahan periode 2019-2024 masih belum jelas. Sejauh ini baru Joko Widodo (Jokowi) yang sudah dideklarasikan sejumlah parpol menjadi bakal capres yang akan didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 4-10 Agustus mendatang.

Jokowi telah mengantongi dukungan dari lima parpol di parlemen, yakni Parta Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, Partai Nasdem, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Hanura. Koalisi lima parpol itu memiliki modal 290 kursi di parlemen, jauh melampaui syarat yang ditetapkan untuk mengajukan pasangan capres-cawapres, yakni parpol atau gabungan parpol yang memiliki setidaknya 20 persen kursi di DPR. Jika dikonversi minimal 112 kursi dari total 560 kursi di parlemen.

Selain itu, juga didukung parpol nonparlemen, yakni Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dan Partai Persatuan Indonesia (Perindo).

Namun, siapa yang akan mendampinginya sebagai bakal cawapres belum ada titik terang. Ada sejumlah nama yang disodorkan menjadi calon orang nomor dua, baik berlatar belakang ketua umum parpol, militer, dan tokoh masyarakat lainnya.

Sementara itu, siapa yang bakal menjadi penantang Jokowi kelak, masih menjadi pertanyaan publik. Sejauh ini nama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dinilai berpeluang besar menjadi bakal capres. Prabowo telah dideklarasikan partainya untuk maju. Namun, hingga kini belum ada kepastian parpol mana yang akan menjadi mitra koalisi pengusung Prabowo. Dengan modal 73 kursi di parlemen, Gerindra harus mampu merangkul parpol lain agar lolos syarat minimal 112 kursi.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang disebut-sebut sangat berpotensi berkoalisi dengan Gerindra, hingga kini belum mendeklarasikan secara resmi dukungannya terhadap Prabowo. Faktornya, belum ada kepastian soal siapa bakal cawapresnya. PKS menghendaki kadernya menjadi cawapres, tetapi hingga kini belum ada kejelasan mengenai sembilan nama kader yang disodorkan untuk diseleksi oleh Prabowo.

Kondisi tersebut membuat peta pencapresan sangat dinamis saat ini. Belum adanya kejelasan dari pihak Prabowo, membuka peluang kubu Partai Demokrat untuk bermanuver.

Ada dua hal yang kemungkinan dilakukan Demokrat jika memutuskan menjadi penantang kubu Jokowi. Pertama, membentuk poros baru dengan menarik parpol-parpol lain yang belum menentukan sikap politik, yakni PKS, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Amanat Nasional (PAN). Dengan modal 61 kursi parlemen, Demokrat juga harus berkoalisi untuk memenuhi syarat pengajuan capres-cawapres.

Kedua, Demokrat juga berpeluang merapat ke kubu Prabowo. Isyarat ke arah ini mulai tampak melalui pertemuan elite Demokrat dan Gerindra.

Belum adanya kejelasan siapa bakal capres yang akan menghadapi Jokowi tak lepas dari kalkulasi terkait peluang memenangi pilpres tahun depan. Hal ini tak lepas dari survei yang dilakukan sejumlah lembaga menunjukkan Jokowi, sebagai bakal capres petahana, masih memperoleh elektabilitas tertinggi dibandingkan nama-nama lainnya. Tingkat elektabilitas Jokowi saat ini di kisaran 50-60 persen.

Tingginya elektabilitas Jokowi seiring dengan tingginya tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinannya sejak 20 Oktober 2014. Dari jajak pendapat, kepuasan masyarakat di atas 70 persen.

Pencapaian dalam pembangunan infrastruktur paling diapresiasi publik, dan menjadi alasan terbesar masyarakat puas. Tingkat elektabilitas Jokowi pun juga masih jauh di atas figur-figur lainnya. Atas dasar itulah, mayoritas publik yang disurvei masih menginginkan Jokowi menjadi presiden pada periode 2019-2024.

Kondisi tersebut menjadi pertimbangan utama kubu yang ingin menantang Jokowi. Mereka harus mampu memilih figur yang benar-benar mampu mengimbangi popularitas, elektabilitas, dan juga persepsi positif masyarakat terhadap Jokowi. Hal itulah yang melatari mulai munculnya nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baik sebagai kandidat bakal capres maupun cawapres. Anies mungkin dilihat berpotensi menjadi penantang Jokowi, berkaca dari kesuksesannya memenangi Pilgub DKI Jakarta pada 2017. Sebagai sosok yang terbilang sangat baru di bursa pencalonan gubernur Jakarta, Anies terbukti mampu mengalahkan petahana Basuki Tjahaja Purnama yang dalam survei-survei memiliki tingkat elektabilitas tertinggi.

Hal lain yang menjadi pertimbangan, adalah bakal capres dan cawapres yang akan diusung oleh kubu lawan Jokowi, tentu juga sangat diharapkan membawa dampak elektoral terhadap parpol pengusungnya. Sebab, pada 2019 pilpres digelar serentak dengan pemilu anggota legislatif (pileg). Pasangan capres-cawapres yang diusung oleh parpol, tentu diharapkan memberi dampak elektoral yang signifikan untuk memperbesar peluang para caleg untuk lolos ke parlemen.

Terlepas dari berbagai pertimbangan pragmatis, Pilpres 2019, haruslah memberi pilihan-pilihan terbaik bagi rakyat. Jangan sampai poros yang dibentuk, dan capres-cawapres yang akhirnya diusung, sekadar untuk memuaskan syahwat kekuasaan elite-elite tertentu.