Mengingat Kembali “Lautan Jilbab”

466
kali tampilan.

Jilbab adalah keberanian di tengah hari-hari sangat menakutkan.
Jilbab adalah percikan cahaya di tengah-tengah kegelapan.
Jilbab adalah kejujuran di tengah kelicikan.
Jilbab adalah kelembutan di tengah kekasaran dan kebrutalan.
Jilbab adalah kebersahajaan di tengah kemunafikan.
Jillbab adalah perlindungan di tengah sergapan-sergapan.
(Emha Ainun Najib)

Demikian penggalan syair dalam puisi Lautan Jilbab karya Emha Ainun Nadjib, biasa disapa Cak Nun atau Mbah Nun. Puisi ini sangat melegenda. Bukan hanya karena saat dipentaskan penontonnya terbesar dan tak tertandingi hingga kini, tapi juga latar belakang lahir atau terciptanya puisi itu.

Menurut sebuah sumber, pementasan Lautan Jilbab disaksikan sedikitnya 3000 penonton. Tapi yang lebih dari itu, puisi Lautan Jilbab dinilai mampu “merumuskan semangat zaman”, dan piawai membaca “tanda-tanda zaman”.

Untuk diketahui, akhir tahun 1980-an, masalah jilbab bukan hanya masalah masyarakat Indonesia, tetapi  juga menjadi masalah masyarakat dunia. Waktu itu, di Perancis dan Inggris, sejumlah siswi dilarang masuh sekolah karena mengenakan jilbab. Di Indonesia terjadi perdebatan yang hangat apakah pelajar Indonesia boleh atau tidak mengenakan jilbab ketika di sekolah.

Dengan langgam kebijakan politik nasional dan internasional yang demikian itu, maraknya kaum perempuan yang tampil di ruang publik memakai jilbab atau sekedar menggunakan kain yang menutupi rambut dan kepalanya adalah sebuah fenomena yang dahsyat pada waktu itu. Inilah antara lain yang menginspirasi lahirnya puisi ‘Lautan Jilbab’. Sebagaimana diakui Cak Nun dalam satu kesempatan.

Konon, untuk kasus Indonesia dipentaskannya puisi Lautan Jilbab oleh Jama’ah Masjid Shalahuddin Universitas Gajah Mada (UGM), telah mengubah peta perempuan di Indonesia. Plus, ada yang berpendapat, jilbab yang menemukan momentum puncaknya pada pertengahan tahun 1990-an, tidak lepas dari peran Cak Nun yang keliling Indonesia mementaskan Lautan Jilbab. Sejak saat itu, jilbab bukan lagi sebagai “barang” yang menakutkan.

Oleh Cak Nun, jilbab yang dikenakan oleh muslimah tidaklah sekedar selembar kain, tapi juga sebuah perlawanan. Jilbab telah menjadi petanda lahirnya sebuah gerakan. Simak kutipan syairnya dibawah ini;

Para malaikat Allah tak bertelinga,
Tapi mereka mendengar suara nyanyian beribu-ribu jilbab.
Para nalaikat Allah tak memiliki mata,
Tapi mereka menyaksikan derap langkah beribu jilbab.
Para malaikat Allah tak punya jantung,
Tapi sanggup mereka rasakan degub kebangkitan jilbab yang seolah berasal dari dasar bumi.
Para malaikat Allah tak memiliki bahasa dan budaya,
Tapi dari galaksi mereka seakan-akan terdengar suara “ini tidak main-main! Ini lebih dari sekedar kebangkitan sepotong kain”.

Seperti halnya karya Cak Nun yang lain, membaca syair pada puisi Lautan Jilbab, kita menemukan daya magnetik yang luar biasa. Mampu menggetarkan ghirah spiritualitas. “Jilbab” yang awalnya sebagai identitas tersembunyi, bergerak menjadi identitas yang ditampilkan. Tak ada ketakutan apalagi keraguan dari muslimah Indonesia untuk memilih beraktivitas dalam kehidupan dengan mengenakan jilbab. Tak berlebihan juga untuk mengatakan, dibalik jilbab yang dikenakan terkandung makna hadirnya sebuah harapan akan kehidupan yang lebih manusiawi dan berketuhanan. Hidup yang menghargai martabat kemanusiaan.

Seperti dikatakan Roseno Aji Afandi (2014) harapan merupakan proses pencarian yang tak pernah berhenti. Seorang yang selalu memiliki harapan adalah seorang yang tak pernah mati. Apapun profesi dan jabatan kita, setiap langkah dan jejak aktivitas dimaknai sebagai proses keyakinan menuju kemanusiaan dan ketuhanan. Efek-efek positif itu dapat dirasakan oleh sekelilingnya, meski perjalanan itu belum selesai, bahkan tidak akan pernah selesai. Karena jejak langkah manusia yang memiliki tujuan spiritualitas, akan diikuti oleh manusia atau masyarakat penerusnya. Wallahu’alambishawab

 

Penulis adalah M Zakiy Mubarok Sekretaris Majelis Wilayah Korps Alumni HMI (KAHMI) Nusa Tenggara Barat