NTB Berduka, Politisi Nasdem Sarankan Dispar Tunda BPLS

Bisa Timbulkan Persepsi Tak Miliki Sense of Crisis

344
kali tampilan.

LOMBOKita – Even tahunan Bulan Pesona Lombok Sumbawa (BPLS) 2018 yang akan digelar Dinas Pariwisata disarankan untuk ditunda penyelenggaraannya. Sebab even besar yang akan diselenggarakan ini terlalu dekat dengan bencana gempa yang mengguncang pulau Lombok 7 SR.

“Sebaiknya ditunda dulu, jangan sekarang. Bisa digeser berdekatan dengan HUT NTB yang juga sebentar lagi,” ungkap politisi Partai Nasdem M Nashib Ikroman.

Diketahui, BPLS 2018 ini akan digalar pada 18 Agustus hingga 23 September 2018. Memasuki tahun kelima, BPLS 2018 akan diisi oleh 14 rangkaian event besar, di antaranya yaitu Mataram Night Run, Festival Kota Tua Ampenan, juga Lombok Begending. Selain itu ada juga Gili Tramena Begawe, Festival Senggigi, Festival Pesona Moyo, hingga Sail Indonesia Moyo Tambora.

Menurutnya, akan muncul banyak persepsi di publik terkit dengan gelaran even ini. Bisa jadi akan dianggap berhura-hura ditengah bencana gempa yang membuat semua warga NTB menjadi korbannya. Apalagi d Lombok Utara hampir semua rumah roboh dan seluruh warga mengungsi.

“Pemprov bisa dianggap tidak memiliki sense of crisis,” beber mantan Ketua Bappilu Partai Demokrat NTB ini.

Jika even BPLS ini, lanjutnya, dianggap sebagai kebangkitan pariwisata, maka hal tersebut juga kurang tepat, sebab tidak didukung kondisi objektif saat ini. Seluruh fasilitas pariwisata rusak, seperti hotel, restauran dan fasilitas akomodasi lainnya.

“Bagaimana mau wisatawan datang, jika fasilitas akomodasi tidak tersedia. Jangan sampai karena gedung hoyel belum dicek, juatru jadi bencana baru,” tandasnya.

“Coba lihat bangunan-bngunan hotel, semua retak-retak, bahkan di Gili bnyak ambruk,” tambahnya.

Ikroman menyarankan, Dispar NTB melakukan langkah lain yang lebih mendesak, seperti memimpin seluruh stakeholder pariwisata melakukan pembersihan sarana prasarana pariwisata, melakukan audit konstruksi hotel dan bangunan fasilitas pariwisata lainnya. Karena jangan sampai gedung-gedung hotel yang terkena gempa justru membahayakan tamu yang datang.

Selain itu, lanjutnya, banyak hal lain yang bisa dilakukan, seperti melakukan penggalangan relawan pariwisata, atau juga menggalang orang datang menjadi relawan dengan bentuk perjalanan tertentu membersihkan destinasi-destinasi pariwisata.

“Ini jauh lebih produktif dibandingkan dengan menggelar BPLS,” tegasnya.

Jika tetap ngotot melaksankan BPLS, maka bentuknya juga bisa dirubah menyesuaikan keadaan, seperti pentas-pentas seni budaya yang akan digelar, digelar di lokasi-lokasi bencana sebagai hiburan warga setempat sekaligus sebagai trauma healing.

“Atau ajak semua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) melakukan aksi-aksi di destinasi. Banyak bentuk yang bisa dilakukan,” pungkasnya.