Pakaian Bali Kombinasi Mote Laris Diekspor ke Amerika

Ilustrasi perdagangan pakaian khas Bali

LOMBOKita – Pasaran Amerika Serikat menyerap 23,11 persen dari total ekspor pakaian jadi bukan rajutan dari Provinsi Bali selama bulan Juni 2017 total mencapai 5,240 juta dolar AS.

“Pasaran AS menyerap paling banyak, menyusul Singapura 14,29 persen, Australia 9,30 persen, dan Hong Kong 6,92 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Adi Nugroho, di Denpasar, Senin.

Adi menyebutkan, aneka jenis pakaian hasil sentuhan tangan-tangan terampil perajin Bali yang dikombinasikan dengan manik-manik (mote) juga diserap pasaran Prancis 6,56 persen, Spanyol 4.01 persen, Jepang 0,68 persen, Singapura 1,05 persen, Tiongkok 0,62 persen, Belanda 1,07 persen, dan Jerman 1,75 persen.

Sedangkan 31,02 persen sisanya diserap berbagai negara lainnya di belahan dunia, karena produk pakaian jadi bukan rajutan itu sangat diminati konsumen luar negeri.

Adi Nugroho menjelaskan, Bali selama bulan Juni 2017 mengapalkan pakaian jadi senilai 5,240 juta dolar AS, merosot 988.739 dolar AS atau 15,87 persen dibanding bulan sebelumnya (Mei 2017) mengantongi 6,229 juta dolar AS.

“Sedangkan dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya meningkat 76.352 dolar AS atau 1,48 persen, mengingat pengapalan pakaian pada Juni 2016 itu menghasilkan 5,164 juta dolar AS,” ujar Adi Nugroho.

Ia menjelaskan, pengapalan busana ke mancanegara itu mampu memberikan kontribusi sebesar 13,75 persen dari total nilai ekspor Bali mencapai 38,126 juta dolar AS.

Nilai ekspor Bali secara keseluruhan itu juga menurun 12,71 juta dolar AS atau 25,01 persen, karena bulan Mei menghasilkan devisa sebesar 50,84 juta dolar AS, ujar Adi Nugroho.

Pakaian jadi yang diperdagangkan ke luar negeri itu bukan produksi pabrik, namun dibuat secara manual sehingga memiliki nilai lebih bagi konsumen mancanegara, terutama dari Amerika Serikat, Singapura dan Australia yang selama ini paling banyak membelinya.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali melakukan pelatihan desain melibatkan perajin maupun usaha mikro kecil menengah (UMKM) sebagai upaya meningkatkan perolehan ekspor nonmigas daerah ini.

Kegiatan tersebut menyangkut 13 jenis pelatihan menekankan upaya meningkatkan rancang bangun (desain) berbagai jenis produk unggulan daerah ini, termasuk usaha tekstil dan produk tekstil (TPT).

Komentar Anda