Panggung Belakang Kemenangan Zul-Rohmi

(Lembaran Refleksi) Oleh: Ahmad Efendi, Komunitas Literacy Bale Tulis NTB

715
kali tampilan.

LOMBOKita – Sekali lagi penulis berani mengatakan bahwa kemenangan Zul-Rohmi tidak lepas dari kiprah TGB sebagai lokomotif dari pasangan ini.

Tentu saja ada faktor-faktor lain yang ikut membuat percepatan terangkatnya kedua pasangan, namun yang paling kasat mata adalah peran TGB yang berada di garis depan. Kenyataan ini tidak bisa dipungkiri jikalau mau menganalisisnya lebih jauh.

Dalam perjalanan sejarah dapat dilihat bahwa, kohesivitas sosial yang didasarkan pada tangkai primordial tidak dapat dibantah. Bahkan ini dikatakan sebagai faktor pertama dan yang cukup menentukan dalam mewujudkan soliditas kelompok.

Kekuatan primordial yang memang inherent dalam diri manusia sebagai individu dan sebagai bagian dari unit terkecil kesatuan social memerankan hal yang sangat kuat dalam rangka membangun eksistensi kelompok (ashabiyah). Hal ini sudah tidak diperdebatkan lagi karena telah seringkali menjadi fenomena yang tidak dapat ditolak di masyarakat.

Misalnya dalam perjalanan pasangan Zul-Rohmi seringkali dihembuskan fakta primordial, bahkan senjata ini juga dipakai oleh kalangan (tokoh) yang sudah tidak diragukan lagi intelektualitasnya sebagai panutan masyarakat.

Badai primordial yang dihembuskan menerpa pasangan, mencoba mengikis solidaritas yang hendak dibangun dalam bingkai Samawa-Sasak

Alhasil badai ini mungkin saja menusuk —nusuk masyarakat untuk kembali berfikir ulang bagi gerakannya untuk mengikuti gerbong pasangan yang mengambil jargon Lanjutkan Ikhtiar TGB. Hal ini terlihat dari menyebarnya nada-nada sumbang di masyarakat terutama di lini media sosial tentang adanya masalah-masalah itu. Dengan berbagai bahasa halus maupun satir menyayangkan akan lahirnya pemimpin dari luar sasak.

Ada juga badai yang sangat keras daya serangnya seperti isu keluarga yang tidak /kurang dapat diteladani dari kehidupan Pak Zul. Menghadapi ini Pak Zul tidak pernah hilang semangat. Ia terus berjalan dan berusaha sekuat tenaga menangkis semua isu-isu tersebut. Ini pun mereda seperti riak hujan besar berakhir gerimis lalu menghilang perlahan-lahan.

Antropologisnya belum selesai muncul juga serangan dari aspek social-politisnya dimana Sang calon Gubnernur dari pasangan ini bukan orang NTB melainkan orang Banten. Ia memang tidak dapat dibantah sebagai orang NTB, namun telah lama berkiprah di luar NTB, malang melintang bagi dapilnya yang ia perjuangkan sebagai wakil masyarakat (DPR).

Hasil dari perbincangan ini akhirnya, sebagaian beranggapan sulit bagi Pak Zulkiflimansyah untuk berduet dengan Ibu Rohmi, paling-paling ini adalah gerakan untuk pindah dapil, di mana jikalau jalannya buntu sebagai Gubernur bisa mempromosikan diri automatically sebagai calon DPR dari dapil NTB.

Berbagai serangan dan isu terus datang silih berganti menguji kesabaran dan keteguhan hati. Ibaratnya dalam pertarungan ada pukulan lalu ditangkis ataupun bertahan kemudian menyerang. Sampai waktu terus bergulir mendekatkan pada momen-momen pemilihan.

Sedangkan di sisi Ibu Rohmi sebagai calon Wakil Gubernur dihembuskannya isu gender (perempuan) sebagai sesuatu yang kurang relevan untuk dijadikan pemimpin. Lagi-lagi fakta ini mempunyai daya pukul cukup kuat bagi usaha mengokohkan pasangan agar terus berjalan mengikuti tahapan-tahapan pemilukada.

Diskusi dan diskurusus mengemuka di berbagai kesempatan tentang kontroversialnya perempuan jika harus maju menjadi pemegang kendali masyarakat banyak. Ada pro —kontra yang terus menerus direproduksi bagi menciutkan pasangan usungan Demokrat-PKS ini. Tentu saja banyak pula masyarakat yang tadinya mungkin hendak bergabung bersama duet ini kemudian balik kanan atau mundur teratur.