Pasca Musibah Gempa dan Wisata NTB Gemilang

Gunung Rinjani adalah tempat bermunajatnya para wali dan orang-orang Sholeh

698
kali tampilan.
Danau Segara Anak Gunung Rinjani / foto: rinjaninationalpark.com

LOMBOKita – Rentetan gempa yang dialami NTB adalah hal yang sudah terjadi, dimana gempa telah mengajak kita untuk memulai pembangunan NTB dari awal, gempa ini juga menggeret kita untuk menemukan formulasi baru infrastruktur wisata yang sesuai dengan struktur tanah yang kita miliki.

Sikap optimistis harus selalu ada dalam benak masyarakat dan pemimpin NTB ke depan. Jargon NTB Gemilang yang merupakan cita-cita pemimpin NTB terpilih akan betul-betul diuji, dan tentunya pembangunan NTB memang harus dilakukan semua elemen yang ada di NTB.

Sangat tidak mungkin NTB akan bangkit dan bangun kembali jika hanya mengandalkan program dan formulasi pembangunan yang sudah ditetapkan oleh RPJMD (Rencana pembangunan jangka Menengah Daerah), melainkan harus ada duduk bersama yang melibatkan, pemerintah daerah, para tuan guru, tokoh adat dan tokoh pemuda di NTB.

Kondisi kita hari adalah kondisi yang belum pernah kita alami sebelumnya, hampir dikatakan, selama ini kita begitu berbangga dengan semua capaian pemerintah daerah dan antusias masyarakat dalam membangun NTB. Salah satu capaian paling luar biasa adalah kemajuan dalam sektor pariwisata, dan tentunya ke depan, wisata tetap akan menjadi andalan dan harapan untuk bisa meningkatkan pendapatan kas Daerah.
Akan tetapi satu hal yang perlu jadi pertimbangan kita hari ini adalah masa depan wisata pasca gempa, sebagian besar masyarakat NTB terkhusus Lombok masih memiliki keyakinan, pengalaman gempa kemarin adalah salah satu bentuk teguran Allah pada kita semua, yang sudah terlalu lalai mengelola potensi wisata yang kita miliki, misalkan dalam pengelolaan wisata alam gunung Rinjani.

Satu hal yang tidak bisa kita pungkiri, sebagian besar masyarakat kita masih sangat meyakini, Gunung Rinjani adalah tempat bermunajatnya para wali dan orang-orang Sholeh. Itu artinya jika gunung Rinjani akan terlalu dibebaskan, maka akan berdampak pada kekecewaan para penghuni alam lain di Rinjani itu sendiri, apalagi selama ini kita mengetahui dari uraian sang pahlawan Nasional, guru besar kita almagfurulahu Syaikhuna TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, beliau sering kali memberikan kita gambaran, kalau gunung Rinjani adalah tempat para wali dan makhluk alam lain yang soleh-sholeh.

Fakta hari ini, gunung Rinjani sudah ditetapkan sebagai Geopark Dunia, artinya tak bisa kita pungkiri kalau gunung Rinjani ini akan dikunjungi oleh semua bangsa, semua Agama, dan semua etnis yang ada di muka bumi ini. Akankah ini menjadi sebuah dilema bagi kita semua?

Penulis mengira ini bukanlah sebuah dilema, melainkan ini adalah jalan baru untuk kita membentuk formulasi baru pengelolaan wisata Rinjani, apalagi dalam penanganan kondisi ini bisa melibatkan semua unsur dan elemen masyarakat NTB wabil khusus para tuan guru, tokoh adat dan pemuda, termasuk para pegiat wisata, tentunya difasilitasi oleh pemerintah daerah.

Akankah Rinjani dan lokasi wisata NTB kita bedakan dengan beberapa tempat di dunia yang sudah ditetapkan sebagai Geopark Dunia, misalkan dengan bentuk teknik pemanduan wisata, siapa aja yang ingin menikmati keindahan gunung Rinjani diwajibkan menggunakan pakaian adat Lombok atau mengikuti ritual keagamaan seperti yang biasa dilakukan oleh para pemangku adat dan murid-murid Maulana Syaikh dulu.

Memang ini sangat merepotkan dan akan memperlambat proses wisata itu sendiri, tapi bagi penulis, justru ini akan menjadi daya tarik dan nilai plus tersendiri bagi wisata NTB ke depan, dimana ada satu lokasi yang begitu menakjubkan sangat sulit kita gapai, menariknya ada proses adat dan agama yang kita lalui, sebelum kita muncak di gunung tersebut.

Apalagi kita semua, terkhusus masyarakat NTB sudah tau, pada masa Dulu, kunjungan ke gunung Rinjani dilakukan pada bulan-bulan tertentu, diantaranya pada bulan Muharram, Rajab, Rabi’ul awal dan Sakban.

Malah menurut sepintas informasi yang kami dengar, jarang sekali orang mendaki gunung Rinjani pada bulan Haji. Bagi kita, seharusnya ini adalah sebuah peluang besar, terutama bagi pengunjung wisata ke Lombok, mereka akan menjadwal kunjungan ke Lombok, bagi yang ingin mendaki gunung, pada bulan-bulan yang sudah ditetapkan.

Kondisi gempa yang sudah kita alami, cukup menjadi pelajaran berharga untuk kita semua, kita harus mulai belajar bagaimana menjaga amanah Tuhan yang telah memberikan kita karunia keindahan alam yang tiada duanya. Selain itu kita juga dikaruniakan sebuah tradisi adat yang penuh dengan nilai Islam di dalamnya, maka hal yang paling kita khawatirkan adalah, dengan adanya gempa ini, akan terbentuk sekelompok masyarakat yang terlalu dalam kembali kepada keyakinan mistis kesucian Rinjani, sehingga mereka akan melakukan upaya menghalangi kunjungan wisata ke Rinjani, dikarenakan ketakutan akan kembalinya ujian gempa yang bisa menimpa semua masyarakat Lombok, sehingga formulasi pengelolaan wisata Rinjani harus segera disikapi dan ditemukan, demi bangkitnya NTB dan gairah wisata yang merupakan andalan daerah kita pada masa ini.

Insyaallah Masyarakat Sasak sangat terkenal dengan ketabahan dan keterbukaan, dan mereka sangat kuat dalam menghadapi ujian dari tuhan, kita juga tetap optimis, NTB dan wisatanya akan segera bangkit.

#SangkepBelek
#NilaiIslamTetapLestari
#KitaMuslim
#KitajunjungAdatSasakIslam
#NTBbangkit
#LombokBangkit
#WisataLombok
#NTBGemilang

Penulis:
Ahmad Patoni, SS
– Pengajar Filsafat di Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) NW Pancor
– Kepala Madrasah Diniyah Salaf Modern (MDSM) Pondok Pesantren Thohir Yasin, Lendang Nangka Kecamatan Masbagik Lombok Timur

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here