Pedagang Setuju Tutup Karaoke Jalan Udayana

Jalan Udayana untuk kuliner pedagang kecil bukan untuk kafe

65
kali tampilan.
Lapak PKL di taman Udayana Kota Mataram / net

LOMBOKita – Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia Nusa Tenggara Barat sepakat terhadap kebijakan Pemerintah Kota Mataram yang akan menertibkan lapak “karaoke” di Jalan Udayana.

“Keberadaan lapak padagang kaki lima (PKL) di Jalan Udayana dengan usaha ‘karaoke’ terbuka mengganggu ketertiban masyarakat, begitu juga saat azan Magrib dan Isa,” kata Wakil Ketua Asosiasi Padagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) NTB H Masbuhin di Mataram, Kamis.

Karenanya, pihaknya mendukung pemerintah kota untuk mengembalikan marwah PKL Jalan Udayana untuk kuliner pedagang kecil bukan untuk kafe.

Pernyataan itu dikemukakannya menjawab komitmen pemerintah kota yang telah merencanakan menutup operasional “karaoke” di lapak PKL Udayana.

Ia menilai, pengelola “karaoke” terbuka telah menyalahgunakan lapak yang diberikan pemerintah yang semestinya untuk menjual kuliner bukan “karaoke”. Selain itu, mereka tidak hanya menggunakan satu lapak melainkan menggunakan tiga hingga empat lapak.

“Dari datanya yang ada, jumlah PKL yang membuka ‘karaoke’ di Jalan Udayaan sekitar empat lapak di bagian utara dan kami yakin tempat itu juga menjadi sumber maksiat minimal minuman keras meskipun ketika ditanya mereka tidak pernah ngaku,” katanya.

Menurutnya, untuk menghentikan operasional “karaoke” di Jalan Udayana, APLKI NTB bersama APKLI Kota Mataram sudah berulang kali melakukan peneguran.

“Namun apa yang kami lakukan kurang mendapat perhatian dari mereka. Kita bukannya takut mengambil tindakan tegas, tapi itu bukan menjadi ranah kewenangan kami,” katanya.

Untuk menertibkan keberada “karaoke” di Jalan Udayana, saat ini pemerintah kota sedang membangun mushalla kedua di Taman Udayana dengan menggeser lapak “karaoke” di kawasan tersebut.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Mataram HM Kemal Islam sebelumnya mengatakan, untuk membangun mushalla tersebut pihaknya menggeser empat lapak PKL yang selama ini membuka usaha “karaoke”.

Pasalnya, selama ini pihaknya tidak pernah mengeluarkan izin pemanfaatan lapak PKL menjadi tempat “karaoke”, meskipun secara terbuka, karena hal itu dapat menyalahi ketantuan pemanfaatan lapak.

“Jadi empat PKL sudah kita minta pindah dan mencari lapak lain. Sementara lokasi mereka kini kita jadikan sebagai tempat mengaji bukan bernyanyi,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.